Chapter 30: Perintah dari ibu Alea.

35 6 1
                                    

"Mama?!"

Wanita dengan baju kerjanya yang rapi dan dengan membawa tas kerjanya itu memperhatikan Andrean dan Alea. Wanita itu adalah Yani, ibunda Alea. Yani tersenyum, Alea yang melihat itu merasa heran. Karna biasanya ibunya yang selalu sibuk itu jarang tersenyum, bahkan seperti tidak pernah setelah bercerai. Tapi ini pertama kalinya lagi Alea melihat ibunya itu tersenyum.

"Mama kok udah pulang??" Alea berdiri lalu menghampiri ibunya itu.

"Iya kerjaan mama udah selesai. Ohh ya, dia temen kamu?" Yani menatap ke arah Andrean, Andrean tersenyum ke arahnya.

"Hm iya ma" jawab Alea.

Yani berjalan mendekati Andrean, dengan perlahan Yani menepuk pundak Andrean pelan, "Temennya Lea kan? Belajar yang giat ya kalian" Yani kembali tersenyum, dan lagi-lagi Alea di buat sangat bingung.

"Yaudah kalo gitu mama mau masuk dulu ya, kalian lanjut belajar" setelah berkata begitu Yani pergi dan masuk ke dalam rumah.

Alea kembali duduk, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ibunya itu membuatnya sangat bingung, tapi tidak apa Alea senang jika ibunya kembali tersenyum lagi.

"Itu mama lo? Cantik banget. Pantesan anaknya ikut cantik"

"Alah gombal banget lo. Ehh iya, lo pake mantra apa??"

"Hah? Mantra? Maksud lo apaan? Emangnya gue penyihir sampe punya mantra"

"Ya habisnya mama gue yang gak pernah senyum itu bisa senyum karna ngeliat lo tadi. Kan aneh"

"Biasalah gue kan ganteng, jadi banyak orang yang kagum sama gue" Alea menepuk jidatnya, kenarsisan Andrean kembali kambuh.

'cowok kok narsis'

Setelah seharian menghabiskan waktu dengan Alea, Andrean pamit pulang. Namun saat ingin pulang, Andrean di cegat Yani untuk masuk ke dalam mobilnya.

Di dalam mobil, Andrean hanya diam. Ia tidak tau harus berbicara apa, ia sangat canggung kepada ibu Alea ini.

"Kamu temen Alea?" Andrean mengangguk.

"Sejak kapan temenannya??"

"Ehm.. Belum lama ini sih. Kenapa ya tante?"

Yani melipat kedua tangannya, ia menatap tajam ke arah Andrean. Andrean menelan ludahnya, ia takut jika dirinya dilarang untuk bertemu Alea, atau berhubungan lagi dengan Alea.

"Bagus!!" Yani berbicara dengan nada sedikit tinggi, membuat Andrean seketika terkejut.

"Akhirnya Lea punya temen"

"Hah? Bukannya Lea punya temen ya tante? Sean, Lena, Putra, sama Devan kan temennya Lea juga"

"Iya saya tau. Tapi semua temennya Lea gaada yang bener. Bukannya jahat atau gimana, tapi anak yang namanya Devan itu terlalu narsis. Tante gasuka orang yang selalu memamerkan kegantengannya. Ya dia emang ganteng tapi gausah di pamerin juga"

'Inget Dean, hapus kenarsisan lo' batin Andrean.

"Trus temennya yang namanya Putra, dia itu terlalu cupu. Orangnya juga gak pandai bergaul keliatannya. Bukannya tante mau ngejelekin, tapi kan emang kenyataannya gitu"

Andrean hanya diam sembari menyimak tanpa berkomentar. Karna ia tau jika ibu-ibu itu selalu benar dan tidak mau di bilang salah.

"Dan temennya yang namanya Lena itu, dia anaknya Alay, lebay, dan cempreng bgt. Huh kalo dia main ke rumah pasti seisi rumah suara dia aja"

"Trus kalo Sean gimana tante??"

"Kalo Sean emang sahabat Lea sejak kecil sih, dia orangnya baik, ramah, dan juga gak sombong. Tante suka sama dia"

A L E ATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang