Part 2

1.8K 163 2
                                        

Happy Reading

♡♡♡

Pagi ini matahati bersinar cerah. Menyambut setiap insan untuk memulai kegiatan baru. Cuaca membuat mood semua orang baik hari ini.

Tapi tidak bagi seorang Rey. Mungkin pagi ini adalah pagi tersial dalam hidupnya. Ia terlambat bangun dan sekarang ban mobilnya kempes.

Sudah terhitung satu minggu Rey bersekolah di SMA ARTESA. Namun tak ada satupun petunjuk yang mengarah pada tujuan dia pindah ke SMA ARTESA. Decakan kesal terus terdengar dari bibir ranumnya.

"Sialan"

Suara derum motor menginstrupsinya. Ia menoleh, seorang laki laki dengan motor ninja. Meski wajahnya tertutup helm fullface, namun ia sudah dapat menebak bahwa dia adalah Rafa, sang leader The Lion.

"Napa mobil lo?" Tanya Rafa.

"Bukan urusan lo" jawab Rey.

"Naik" titahnya. Rey mengangkat sebelah alisnya.

"Ck, naik cepetan bego"

"Naik kemana?"

Rafa melepas helmnya dan menghela nafas kasar.
"KEPUNCAK GUNUNG!!" Kesal Rafa.

"Katanya lo pinter, cerdas, gitu aja lo lemot banget. Naik ke motor, cepetan" lanjutnya.

"Gak"

"Lo mau telat ke sekolah? Udah cepetan" geram Rafa.

"Enggak"

"Cepetan"

"Gue tinggal nih" kata Rafa.

Rey menghela nafas pelan.

"Mau gak?"

"Ck, iya iya"

Dengan sangat amat terpaksa Rey naik ke motor Rafa. "Pegangan, ntar terbang"

Rey menepuk keras bahu Rafa.
"Gak lucu, cepetan jalan"

Rafa menancapkan gas dengan kecepatan tinggi. Karena belum siap, Rey hampir terjungkal dan refleks memeluk Rafa.

"Sialan lo"

Sesampainya di sekolah ternyata gerbang sudah di tutup. Rey turun dari motor dan melirik ke pos penjaga. Tak ada satpam di situ.

Kalau mereka memaksa manjat juga tidak mungkin karena mengingat Rey memakai rok dan gerbang itu terlalu tinggi. Lagi pula pasti ada guru yang mengawasi.

Rafa melepas helmnya dan melihat ke arah Rey. Rafa terlihat sedang menahan tawanya. Sadar akan hal itu, Rey menoleh. Alis indahnya menyatu menandakan ia kebingungan dengan tingkah Rafa.

"Lo kenapa?" Tanya Rey.

Karena tak sanggup menahan tawa, Rafa meledakkan tawanya. Wow! Tak ada yang pernah melihat Rafa tertawa terbahak seperti itu. Paling mentok juga senyum.

"Kenapa sih lo? Kesambet?" Tanya Rey lagi.

Tangan Rafa terulur untuk merapihkan rambut milik Rey yang berantakan karena angin.

"Kek gembel tau gak" kata Rafa di sela tawanya. Rey menepis kasar tangan Rafa lalu merapikan sendiri rambutnya.

"Sekarang gimana caranya kita masuk?"

"Lewat belakang" ujar Rafa.

Rafa berjalan menuju belakang sekolah diikuti Rey. Saat sudah sampai, Rey hanya melihat tembok dan pohon mangga yang tidak terlalu tinggi.

Rey's Story [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang