Part 45 (End)

2.1K 131 11
                                        

"Jangan egois. Kalo emang hatinya bukan buat kamu. Cinta gak harus memiliki"

~Na_Fa

~♥~

Di sebuah jembatan dengan pemandangan gedung Jakarta yang menjulang tinggi. Serta kelap kelip lampu hias. Suasana nya juga hening karena sudah terlalu malam. Di situlah Rey berdiri.

Setelah semuanya selesai, Rey lebih memilih disini. Menenangkan sejenak pikirannya.

"Sean, makasih. Semuanya udah selesai. Termasuk kisah kita" monolognya.

Dirinya mendongak menatap langit yang penuh bintang berkelip. Serta rembulan sebagai penghias langit malam.

Matanya memejam sesaat sebelum suara derum motor membuatnya berdecak malas.

Pengendara motor itu, turun dan menghampiri Rey yang tengah berdiri sembari memegangi pembatas jembatan.

"Kalo lo mau bunuh diri, jangan disini" ujarnya. Dia, Rafa.

"Ck, siapa yang mau bunuh diri" cibir gadis itu.

"Kali aja kan, lo bosen hidup. Makanya gue saranin jangan disini"

"Serah gue lah"

"Masalahnya, lo jatoh dari lantai dua nyusruk ke kolam renang aja gak mati gimana sama jembatan. Oke jembatannya emang lebar, tinggi, sama kebawahnya dalem. Tapi yang ada lo sekalian renang sama ikan njir" cerocos Rafa.

Gadis itu hanya berdecak malas. Rafa pun tersenyum tipis. Kemudian senyumnya perlahan memudar.

"Gue tau, Rey. Sulit buat lo ngelepas Sean. Tapi, lepasin sesuatu yang sulit lo relain. Hati lo juga bakal tenang" ujar Rafa.

"Gue... Cuma belum bisa lupain dia" jawab gadis itu dengan pandangan lurus.

"Ikhlas bukan perihal melupakan. Tapi rela. Percaya gue"

Rafa memberanikan dirinya untuk memegang kedua tangan Rey dan membawa Rey untuk berhadapan dengannya. Karena sedari tadi gadis itu hanya menatap lurus.

"Lepasin semuanya. Maka lo bisa memulai sesuatu yang lebih indah" kedua tangan Rafa menggenggam erat tangan Rey.

Rey menatap manik hitam Rafa lekat.
"Pertama kali gue lihat mata lo, gue selalu keinget Sean. Mata kalian hampir sama. Tapi bukan berarti gue nyamain lo sama Sean. Jelas kalian beda"

"Makasih, Raf" ucap Rey dengan mata yang berkaca-kaca.

"Buat?"

"Everything"

Rafa tersenyum menanggapi itu. Kemudian tanpa dirinya duga, Rey mendekat dan menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Rafa.

Kemudian, isak tangis keluar dari mulut gadis itu. Rafa melepas genggaman tangan mereka dan mengelus pundak Rey yang bergetar.

"Gue gak suka liat lo nangis. Gue lebih suka liat lo yang sok kuat. Tapi kadang, seseorang emang butuh air mata untuk bangkit dari sakitnya" ujar Rafa.

Lelaki itu meletakkan dagunya diatas kepala Rey. Jarak tinggi mereka hanya sebatas dagu Rafa. Karena mengingat Rey juga memakai boots berhak tinggi yang membuat gadis itu terlihat lebih tinggi.

•••

Keesokan harinya, petinggi Victor termasuk Alfin, Jordan dan Kaylo serta Inti The Lion minus Galang pergi menuju polsek dimana Galang di tahan.

Kini, mereka telah sampai. Selain Victor dan The Lion, para ciwi ciwi juga ikut. Termasuk Lea dan Ayumi. Mereka di bonceng pawang mereka.

Mereka pun masuk dan ternyata, disana terdapat seorang pria paruh baya yang tengah menahan amarah dan wanita yang sedang menangis.

Rey's Story [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang