Part 42

917 86 0
                                        

Happy Reading

.
.
.

Let's play with Devil
.
.
.

Sinar sang Mentari memasuki celah gorden di sebuah kamar. Seorang gadis sedari tadi tak henti hentinya bersin. Bahkan hidungnya memerah. Matanya sedikit berair dan pipi yang sedikit memerah.

Dalam hati Rey mengutuk Delta yang sudah membuatnya hujan hujanan hingga berakhir bersin bersin seperti ini.

Yap, itu semua memang salah lelaki itu. Saat dirinya sedang asyik asyiknya tidur, Delta dengan otaknya yang kurang seperempat sendok teh gula itu mengejutkannya dengan balapan dadakan di tengah hujan dan petir.

Sebenarnya balapan itu sudah dari kemarin di rencanakan. Namun kembali lagi pada otak Delta yang tertulis persis seperti notifikasi para kaum rebahan yang merasa sangat penting.

'Memori internal hampir habis'

Balapan di tengah lebatnya rintikan hujan memang berbahaya. Apalagi kondisinya saat itu tengah malam dan angin sangat kencang. Akan tetapi, ingatkan jika dia adalah Devil's Victor.

Sebenarnya, Rey tak akan mudah jatuh sakit seperti ini. Namun karena semalam posisinya ia benar benar baru bangun tidur sehingga nyawanya yang belum kumpul penuh terkena air hujan yang dingin nan menusuk.

Dirinya berdecak pelan. Kool fever yang tertempel di dahinya benar benar mengganggunya. Jika saja Rey tak demam tinggi, gadis itu tak akan mau menggunakan kool fever.

Kemudian dering ponsel mengalihkan atensinya pada ponselnya yang berada dia atas nakas. Nama Nauval tertera di sana. Gadis itu pun dengan malas mengangkatnya.

"Apa?"

'Lo baik baik aja kan?'

"Maybe"

'Ck, yang bener. Muka lo pucet waktu pulang semalem'

"Sedikit demam. Tapi gapapa"

Kemudian suara melengking dari sambungan telpon membuatnya menjauhkan ponselnya dari telinganya.

'Woi Varian Virus!! Tanggung jawab lo udah bikin Incess sakit!!'

'Varian virus mata lo!!'

Rey yang mendengar perdebatan mereka dari sebrang pun menggeleng pelan.

{~_~}

Kini Rafa berangkat lebih awal. Lelaki itu duduk di bangkunya dengan pandangan lurus kedepan. Tatapannya kosong, namun pikirannya berkecamuk.

"Raf, are u okay?" Tanya Bian yang entah kapan sudah datang.

Rafa hanya mengacuhkan pertanyaan lelaki itu dan memilih keluar kelas. Bian yang bingung pun hanya memandang kepergian Rafa dengan cengo.

"Prikkkk"

"Morning good, Jiji" sapa Bian pada Zidan namun hanya dianggap angin lalu oleh lelaki itu. Zidan malah memasangkan earphone nya dan memejamkan matanya.

Lagi lagi Bian hanya memandang aneh kearah Zidan. Dirinya bergulir kearah Farel yang sedang mengacak rambutnya frustasi.

"Woy curut! Ngape lo?! Prustasi bener!!" Cibir Bian.

"Diem lo Gajah Thailand!!"

Cukup!!!!

Cukup sudah Bian tak tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Apakah hari ini ulang tahunnya? Sehingga teman temannya mengacuhkannya?

Rey's Story [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang