"lo juga?"
"Ya"
Setelahnya hanya hening. Rafa yang menatap Zidan dengan tajam dan senyum miringnya. Sementara Zidan menatap kearah lantai dengan tatapan datarnya.
"Lo tahu, Raf?"
Rafa mengangkat sebelah alisnya.
"Aneh kalo gue harus curiga sama mereka. Bahkan diri gue sendiri" lanjut Zidan datar.
Memang Rafa sudah menceritakan semuanya kepada Zidan. Tentang Rey yang selalu memperingatinya untuk waspada kepada orang yang paling ia percaya, dan tentang sahabat yang selalu gadis itu singgung.
Juga kejadian ketika di taman. Ketika itu, ia tak sengaja mendengar percakapan Rey dengan seorang lelaki.
Rafa hanya merasa, Zidan lah yang paling netral disini. Selain dia dewasa dan bijaksana, Zidan paling bisa di ajak serius dan dia memberikan kepercayaannya sepenuhnya kepada lelaki itu.
Walau potensi berkhianat dan kecewa sama sama besar. Lima puluh persen berkhianat dan sisanya hanya kecewa.
"Tiga tahun, Raf. Kita bareng. Kita tahu mereka. Tapi ternyata, ada yang kita gak tahu tentang mereka"
"Luka" sambung Rafa.
Zidan menoleh kearah Rafa dan menghela nafas pelan.
"Sebenernya apa yang Rey pengen kita tahu?"
"Entahlah"
{~_~}
"Shitt!! Sialan!!"
"Rey udah balik, gak nutup kemungkinan kalo dia udah nemuin buktinya. Bangsat!!"
"Gue harus apa? ARGHHHH!!!"
{~_~}
Seorang gadis tengah berjalan menuju halte bus dekat sekolah. Dirinya menempelkan sebuah benda pipih tepat di telinganya.
"Jemput, lima belas menit gak sampe gue cabut" ucap gadis itu datar.
Setelah itu, sambungan telepon tertutup. Rey terus melangkah menuju halte menunggu Jordan tiba.
Gadis itu duduk di bangku halte sembari memainkan ponselnya serta earphone yang menempel di telinganya.
Sembari menunggu Jordan, gadis itu membuka aplikasi chatnya. Tak ada yang menarik. Ia beralih menuju galeri.
Kebanyakan gambar yang di sana adalah potret dirinya dengan Sean. Ngomong ngomong tentang lelaki itu, dia jadi merindukannya.
Ada kata yang tak dapat di ucap
Ada rasa yang sulit di ungkap
Dan ada hati yang selalu menetap
Kata itu, dia selalu mendengarnya dari mulut Sean. Lelaki itu selalu saja mendadak bisu ketika menyangkut perasaan. Katanya, sulit buat ngomong apa yang ia rasa.
Rasa itu, dia selalu bisa merasakannya dari Sean. Perhatian kecil yang lelaki itu berikan, serta rasa nyaman yang membuatnya semakin merindukannya.
Senyuman itu, senyum yang membekas di hatinya. Bahkan sebelum lelaki itu pergi meninggalkannya untuk selamanya, lelaki itu masih bisa terkekeh dan tersenyum.
Andai dia tahu, ketika Sean meneleponnya di kantin rumah sakit adalah pembicaraan terakhir dengan lelaki itu, dia pasti akan mengucapkan beribu kata cinta, terimakasih, dan maaf.
"Hai, Rey" sapa seseorang.
Rey menutup ponselnya dan mendongak keatas. Seorang lelaki berpakaian almameter anak kuliah tengah tersenyum ramah kepadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rey's Story [END]
Romantik[End/Proses Revisi] FOLLOW JAN LUPA GES🙏🙏 CERITA INI ONLY DI WP #Start 15 Juli 2021 #Finish 2 Febuari 2022 Bagaimana rasanya jika kamu kehilangan dua orang yang kamu sayang di waktu yang bersamaan? Reyna Sylvania Atmadja. Gadis cantik sejuta miste...
![Rey's Story [END]](https://img.wattpad.com/cover/277800896-64-k442878.jpg)