"Gojo-sensei!"
Gojo langsung menoleh mendengar suara gadis yang memanggilnya.
"Ada apa, [Name]-chan?" tanya Gojo sambil membalikkan tubuhnya.
"Wanita yang memberiku makan saat di Chiba..." ragu [Name].
"Oh iya, aku sempat memberikan nomor ponselku padanya, bukti bahwa aku akan bertanggungjawab tentang dirimu. Dan aku memberinya nomor ponselmu juga, baru saja," jelas Gojo.
"Bukan itu masalahnya," sahut [Name].
"Lalu?" Gojo memiringkan kepalanya.
"Boleh aku meminta libur? Hanya dua hari satu malam," ucap [Name].
"Kenapa?"
"Wanita itu ingin aku tinggal dengannya. Hanya satu malam itu. Lagipula, dia tinggal sendirian. Aku ingin menerima tawaran baiknya," jelas [Name].
Gojo mengangguk paham lalu terlihat berpikir.
"Bagaimana dengan latihanmu?"
"Masih satu setengah bulan kan, Acara Pertukarannya? Aku hanya satu malam di Chiba."
"Kapan kau berangkatnya?"
"Hari ini!" seru [Name] dengan senyumnya.
"Dia bisa tersenyum juga ternyata."
"Siapa yang akan mengantarmu? Biarkan aku," tawar Gojo.
"Tidak usah, aku bisa sendiri, naik kereta cepat."
"Aku tak yakin," ragu Gojo.
"Aku akan membawa banyak botol minuman agar tubuhku tahan lama mengeluarkan racun."
Gojo menghela nafas.
"Baiklah. Panggil aku jika terjadi sesuatu," final Gojo.
[Name] tersenyum lebar lalu mengangguk antusias.
"Salam perpisahan." Gojo merentangkan kedua tangannya dengan wajah dramatis.
"Kau pikir aku mau mati? Hanya dua hari satu malam!" [Name] berbalik lalu melangkah menjauh.
Gojo murung lalu berlari mengejar [Name] dan dengan cepat mengusak rambut [Name], membuat rambut gadis itu berantakan.
"Hei!" [Name] mengibaskan tangannya untuk memukul tangan Gojo, tapi gerakannya terhenti.
"Wleee!" Gojo menjulurkan lidahnya.
"Mugen sialan!" umpat [Name] yang kemudian menjauhkan tangannya dan kembali melangkah.
"Aku mengkhawatirkanmu, loh," ucap Gojo sambil ikut melangkah di samping [Name].
Pria itu kembali mengacak rambut si gadis, tapi kali ini [Name] hanya diam, sampai mereka berdiri di depan kamar [Name].
"Aku sudah berkemas dan tinggal pergi." [Name] menunjuk pintu kamarnya yang tertutup.
"Jadi kau sudah merencanakannya?"
"Ya, dan tolong beritahu anak yang lain. Aku mungkin tak sempat berpamitan."
•
"Terimakasih."
"Tak usah sungkan, anggap saja rumah sendiri."
Wanita yang bernama Okkore Tessa itu duduk di samping [Name] yang mulai meminum tehnya.
"Aku sangat berterimakasih selama beberapa saat di daerah ini anda selalu menolong saya," ucap [Name].
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐑𝐞𝐠𝐫𝐞𝐭 - 𝐉𝐮𝐣𝐮𝐭𝐬𝐮 𝐊𝐚𝐢𝐬𝐞𝐧 (𝐏𝐚𝐫𝐭 𝟏) ✓
FantastikSeorang gadis kecil yang selama 7 tahun hidup dalam sangkar emas dilepas begitu saja pada dunia bebas oleh orang tuanya yang khawatir ia akan membawa kesialan pada orang sekitar. Sesuatu yang diharapkan untuk menjaga ternyata justru menghancurkannya...
