"Apa segelnya bisa dilepas semudah itu?" tanya Yuuji sambil berlari.
"Tidak, manusia tanpa energi kutukan tak bisa membukanya. Biasanya begitu," jawab Megumi yang berlari di depan Yuuji.
"Kanan, ada jalan pintas!"
[Name] hanya mengikuti kedua laki-laki di depannya meski larinya sedikit lebih lambat.
"Isi pusaka terkutuk kali ini lebih kuat. Segelnya sudah tua dan pasti hanya selembar kertas."
"Meski begitu, aku masih belum paham tentang kutukan," keluh Yuuji.
"Di mana mereka?!" teriak [Name] dari belakang.
"Lantai empat," jawab Yuuji santai.
Tiba-tiba langkah Yuuji terhenti ketika merasa sesuatu menghalanginya. Begitu juga Megumi dan [Name] yang mencoba mengatur nafasnya di belakang.
"Gawat! Apa kita terlambat?" tanya [Name] yang masih mengatur nafasnya di belakang.
"Tekanan apa ini?" Yuuji melihat gedung sekolahnya.
Mereka bisa melihat aura tidak sedap yang menyeruak dari bangunan di depan mereka.
Megumi memegang bahu Yuuji dan melangkah melewati si surai merah muda itu.
"Kau tetaplah di sini! Terutama [Surname]!" perintahnya.
Dengan cepat ia memanjat pagar sekolah.
"Aku juga ikut! Bahaya, kan?" pinta Yuuji membuat Megumi berhenti di atas pagar. "Aku baru kenal mereka beberapa bulan, tapi mereka temanku. Aku tak bisa membiarkannya!" lanjutnya.
[Name] melangkah mendekati Yuuji dan Megumi berdiri di atas pagar itu.
"Tetaplah di sini!" tegas Megumi dan [Name] yang memegang pundak Yuuji.
Lalu Megumi terjun dari pagar itu dan berlari masuk ke gedung sekolah. Menyisakan Yuuji dan [Name] yang hanya bisa diam melihatnya.
"Apa aku hanya menunggu saja seperti yang dia bilang, ya?" gumam Yuuji.
"Kenapa aku takut?" batinnya.
"Mereka bisa mati!" Ucapan Megumi melintasi kepalanya.
"Benar juga. Hawa kematiannya sampai terasa di sini," gumamnya lagi.
Sedangkan [Name] hanya berjongkok di sampingnya melukis di tanah.
"Apakah anak ini akan nekat hanya karena temannya?" batinnya.
"Aku takut mati. Apa aku takut, ya? Rasanya tak seperti itu, sih. Aku menangis karena takut, kan? Aku merasa sedikit sedih. Kematian kakek dengan kematian di depanku, apa bedanya?" ocehnya dalam hati.
[Name] mendongak ke samping dan melihat tangan Yuuji yang bergetar.
"Apa dia gemetaran kerena takut?" pikir [Name].
"Kamu itu kuat, jadi bantulah orang lain." Ucapan kakek Yuuji berputar di kepalanya.
Yuuji tiba-tiba melangkah maju dan memegang pagar di depannya dengan kedua tangannya, membuat [Name] berdiri.
"Mudah marah dan keras kepala. Hanya aku yang pernah menjengukmu," gumamnya yang menunduk. "Orang sepertiku memang tidak boleh menjadi sepertimu," lanjutnya sambil mengangkat kepalanya.
"Bicara apa sih?" [Name] mengerutkan keningnya dan menatap aneh Yuuji.
Tidak menjawab, Yuuji tiba-tiba Yuuji dengan cepat menaiki pagar di depannya.
"MAU APA KAU?" teriak [Name] dengan panik.
Tapi teriakannya tidak digubris dan Yuuji melompat turun pagar.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐑𝐞𝐠𝐫𝐞𝐭 - 𝐉𝐮𝐣𝐮𝐭𝐬𝐮 𝐊𝐚𝐢𝐬𝐞𝐧 (𝐏𝐚𝐫𝐭 𝟏) ✓
FantasySeorang gadis kecil yang selama 7 tahun hidup dalam sangkar emas dilepas begitu saja pada dunia bebas oleh orang tuanya yang khawatir ia akan membawa kesialan pada orang sekitar. Sesuatu yang diharapkan untuk menjaga ternyata justru menghancurkannya...
