18. Eksekusi

4.9K 826 84
                                        

Awan menumpahkan air yang selama ini ia bendungan. Bulan enggan memperlihatkan diri. Jangkrik terus bernyanyi saling bersahutan. Bukan hanya awan, seorang gadis juga menangis tanpa suara di ujung jalan buntu. Sendirian-tidak, lebih tepatnya hanya dia yang hidup di sana.

Mayat di mana-mana. Bau anyir menyeruak ke mana-mana dibawa angin yang berhembus dengan halus. Juga cairan merah yang memenuhi hampir setiap sudut tempat sempit itu, beberapa berhasil dibawa pergi air hujan.

Ia memeluk erat tubuh wanita yang sudah tak bernyawa. Tidak peduli jika hoodie putihnya berubah menjadi merah akibat darah. Udara dingin tidak ia hiraukan. Begitupun dengan air hujan rintik yang membasahi tubuhnya.

"Tidak adil," gumamnya.

Tangisannya makin pecah setelah mengeluarkan kata-kata barusan.

Okkore Tessa. Wanita baik hati dan seorang ibu yang sangat mencintai putrinya, karena sebuah kenyataan, dia harus melihat putrinya dibunuh oleh suaminya sendiri di depan matanya. Dia juga mengetahui fakta bahwa suaminya telah melecehkan sang putri. Setelah bercerai ia selalu berbuat kebaikan, kepada siapapun, termasuk kepada gadis gelandang, [Fullname]. Kini Okkore terbunuh di tangan suaminya sendiri, di depan [Name].

"Orang baik sepertimu harusnya mendapat kelayakan dan keadilan!"

"Kau pantas mendapatkan kebahagiaan!"

"Kenapa...?"

"Kau bilang kau ingin aku kunjungi? Kau bilang ingin aku tetap aman? Tapi..."

Kepalanya terangkat. Memandang mayat yang bergeletakan di depannya dengan tubuh yang tak utuh lagi. Ada juga beberapa mayat yang tergeletak di luar dari gang sempit ini karena sempat melarikan diri namun tetap terbunuh. Hatinya tak merasakan apa-apa kecuali rasa sakit karena ditinggal oleh orang yang sangat ingin dia lindungi.

"Harusnya aku yang memaksa untuk membeli garam..."

"Harusnya aku..."

Dia terus mengutuk dan menyalahkan dirinya. Tapi tak terbesit satupun penyesalan atas apa yang dia lakukan pada mayat-mayat yang lain, kecuali mayat sang wanita.

"AAAAAAAAAA!!!"

Terdengar teriakan dari luar gang itu. Teriakan wanita.

"Ada apa?" Suara seorang pria terdengar panik.

"Ma-mayat!"

Kemudian terdengar suara orang berlari dan muncul satu orang pria di ujung gang itu. Menatap dengan mata terbelalak pemandangan di depannya.

Tepat di depannya bergelimpangan mayat yang tubuhnya sudah tak utuh lagi, bahkan sudah tak berbentuk. Matanya bisa melihat di ujung jalan itu ada gadis yang duduk memangku satu tubuh tak bernyawa. Segera ia memanggil polisi setempat dan langsung lari, tak sanggup melihat kondisi mayat-mayat mengetikan itu.

Beberapa menit kemudian, mobil polisi, ambulance, dan tentara datang, serta beberapa penyihir Jujutsu tingkat satu yang juga ditugaskan.

"Ada gadis di sana!" Satu tentara menunjuk [Name] yang masih menunduk.

"Mari kita tolong-"

"Jangan!"

Semua tentara berhenti mendengar perintah salah satu penyihir.

"Dia pembunuhnya." Penyihir tersebut menunjuk [Name].

[Name] perlahan mengangkat kepalanya dan menatap semua orang yang ada di ujung jalan.

"Dari mana kau tahu? Dia hanya seorang gadis lemah dan-"

"Jejak kutukan," potong penyihir lain.

"Dia pengguna kutukan?!"

𝐑𝐞𝐠𝐫𝐞𝐭 - 𝐉𝐮𝐣𝐮𝐭𝐬𝐮 𝐊𝐚𝐢𝐬𝐞𝐧 (𝐏𝐚𝐫𝐭 𝟏) ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang