29. Nilai nyawa

4.2K 615 25
                                        

"Tapi, penyihir Jujutsu itu musuh Mahito-san, kan?" pikir Junpei dengan jari di dagunya.

"AAAGHH!"

Junpei terkaget dan langsung melihat ke arah Yuuji yang mengangkat kedua tangannya.

"Ya sudahlah, kutanyakan saja!" seru Yuuji yang mungkin berbicara pada [Name].

Kemudian keduanya berbalik menatap Junpei.

"Hei, ada orang yang mati di bioskop yang kau kunjungi kemarin. Apa kau melihat sesuatu?" tanya Yuuji. "Misalnya, makhluk menjijikkan seperti ini," lanjutnya sambil menunjuk Youtou yang dari tadi ada di genggaman tangannya.

"Tidak, aku tak lihat, sih. Aku bisa melihat makhluk itu baru-baru ini," jawab Junpei.

"Begitu, ya," sahut Yuuji dan [Name] bersamaan dengan nada malas.

"Berarti, tidak ada lagi yang ingin kami tanyakan," ucap [Name].

Yuuji pun berjalan mendekati Junpei.

"Eh, itu saja?" tanya Junpei.

"Tapi, bisa tunggu orang yang seperti atasan kami itu tiba dulu?" pinta Yuuji.

"Tak masalah, sih," jawab Junpei santai.

"Makasih," ucap Yuuji singkat sambil duduk di samping Junpei.

[Name] yang melihat itu berjalan mendekat dan duduk di samping Yuuji.

"Hei!" Yuuji memecah keheningan. "Lagi nonton apa di bioskop itu?" tanyanya.

"Itu tayangan ulang film lama. Kuberitahu pun, kau takkan tahu," sahut Junpei.

"Sudah, bilang saja." Kepala [Name] muncul dari tubuh Yuuji.

"Manusia cacing tiga."

"Itu membosankan banget, ya!" seru Yuuji dan [Name] bersamaan, dengan wajah jengkel.

"Gara-gara film itu, entah berapa kali aku dipukul," ucap Yuuji sambil memegangi pipinya.

"Aku juga banyak dipukul," sahut [Name], masih dengan wajah jengkel.

"Dipukul?" heran Junpei. "Memang benar, sih. Tapi namanya juga film splatter. Mungkin kita yang salah karena mengharapkan sesuatu yang lebih," lanjut Junpei dengan suara malasnya.

Mereka bertiga menumpang dagu di tangan dengan wajah yang memalas dan bosan.

"Tapi, film keduanya-"

"Tapi, film keduanya lumayan menarik, ya!" seru Yuuji dan [Name] dengan antusias.

"Benar, itu benar," sahut Junpei yang juga antusias. "Cuma film keduanya yang punya cara tersendiri untuk menikmatinya, loh," ucapnya.

"Cara tersembunyi?" heran Yuuji.

Tanpa mereka sadari, di atas mereka ada seorang laki-laki yang berjalan di atas jembatan dan berhenti untuk melihat mereka. Laki-laki itu menggunakan tudung untuk menutupi kepalanya, dan memiliki jahitan di keningnya.

"Ketemu juga," monolognya.

"Ada [Fullname] juga ternyata. Gadis dengan roh terkutuk penjaga."

Laki-laki itu tersenyum tipis. Kemudian ia berjalan pergi dengan tenang.

"Apa kalian sudah menonton keseluruhan serial cacing?" tanya Junpei. "Sekilas, film kedua memang tak berbeda dengan film pertama dan ketiga. Tapi, perubahan emosi si perfeksionis yang sudah membuang segalanya, tersampaikan dengan jelas di dalam film," jelasnya.

"Ahh, makanya aku betah menonton film keduanya, ya," sahut Yuuji.

[Name] hanya mengangguk mengiyakan sebagai tanggapan.

𝐑𝐞𝐠𝐫𝐞𝐭 - 𝐉𝐮𝐣𝐮𝐭𝐬𝐮 𝐊𝐚𝐢𝐬𝐞𝐧 (𝐏𝐚𝐫𝐭 𝟏) ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang