Try Again Later

12.5K 406 13
                                        

David's POV

Aku berjalan menuju ruanganku dengan tatapan dingin tak tersentuh. Aku tahu seluruh karyawanku memperhatikanku dan menyapaku namun aku hanya menjawabnya dengan anggukkan singkat tanpa berbasa-basi. Kali ini tak ada waktu main-main lagi karena aku sedang dalam situasi yang sangat rumit untuk dijelaskan.

Perusahaan keluargaku sedang diambang kehancuran karena kelengahan Harris sehingga banyak karyawan yang korupsi disana. Belum lagi banyak wartawan yang sudah mengetahui hal itu membuat gosip yang benar-benar melenceng.

Dan perasaanku sedang kacau. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan Sasya. Wanita itu benar-benar membuatku pusing. Pikiranku tak pernah terlepas darinya, sulit sekali menghilangkan dia dari otakku. Ya aku merindukannya, sangat merindukannya.

Memasuki ruangan, aku dapat merasakan wangi parfum Camelia disini. Aku tahu dia pasti ada diruanganku. Melemparkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Itu dia, Amel sedang berdiri didepan rak buku dengan mata yang berbinar, aku tahu kalau dia menungguku.

Sengaja aku berdeham untuk mengalihkannya, dan benar saja, Amel langsung berbalik dan tersenyun lebar.

"Akhirnya kamu dateng juga," ujar Camelia dan langsung menghampiriku yang baru saja duduk dikursi yang terletak di belakang meja. Ia duduk dikursi yang terletak di depan meja dan tersenyum kecil.

"Apa jadwalku hari ini?" Tanyaku datar sebelum dia mengoceh. Dia langsung mengerucutkan bibirnya dan mengeluarkan tab yang sedari tadi dipegangnya.

"Kamu cuma ada rapat nanti jam 9," ujar Camelia lalu mengalihkan tatapannya padaku. Dia mulai membuka mulutnya.

"Kenapa cuma sedikit?" Potongku dan terlihat Camelia menggeram kesal. Aku tidak bermaksud membuatnya kesal, hanya saja aku malas mendengarnya mengoceh. Karena biasanya dia selalu membicarakan hal yang tidak penting, seperti menanyakan baju apa yang akan ia pakai besok dan lainnya, itu sungguh membuatku pusing.

"Kan kamu sendiri yang minta untuk mengurangi jadwal hari ini karena kamu mau mengurus perusahaan Harrigan."

"Tapi aku gak minta kamu buat batalin janjiku dengan para klien, dan pada perusahaan yang ingin bekerjasama dengan perusahaan ini," kataku kesal sendiri. Demi tuhan ini benar-benar membuatku tambah pusing.

"Siapa bilang! Aku gak batalin, cuma aku yang bakal ngurus itu semua. Untuk masalah kerjasama tenang aja, aku ahli dalam hal itu." Ujar Camelia dengan bangga. Hah, aku tahu kau ahli. Kau hanya tinggal berpakaian terbuka maka mereka akan langsung tertarik, terlebih orang yang sudah membuat janji denganku pria semua. Murahan.

"Dave, menurut ka-"

"Jadi, kamu bakal kerjain semuanya?" Potongku lagi, dia sudah mulai ingin meminta pendapatku. Bisa kulihat wajahnya yang merah padam karena kesal.

"Bisa gak sih jangan potong omonganku terus?" Tanya Camelia dan aku hanya menggeleng dengan wajah polos.

"Dave, aku serius! Menurut kamu aku bagusan rambut aku lurus atau kriting gantung?" Kan dia pasti akan menanyakan sesuatu yang sangat membuang waktuku dan hal-hal yang pastinya tidak ku mengerti.

"Dua-duanya bagus kok," jawabku asal. Jujur saja aku sangat tidak peduli dengan gaya rambutnya.

"Okey, kalo gitu nanti kamu temenin aku ke salon ya! Malemnya baru deh kita ke rumah orang tuaku."

"Untuk apa kita ke rumah orang tuamu?" Tanyaku bingung.

"Ya untuk dikenalin lah ke orang tuaku, kamu kan calon suami aku. Jadi orang tua aku juga harus tau dong,"

"What? Aku bukan calon suamimu!" Bantahku dengan menatapnya dingin. Apa-apaan dia mengatakan kepada orang tuanya kalau aku adalah calon suaminya. Aku sudah mempunyai istri. Camelia langsung menatapku dengan mata tajamnya.

The Power Of LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang