Find her

14.2K 495 23
                                        

Makasih untuk yang sudah komentar di part sebelumnya, sumpah itu moodbooster banget. Tadinya aku kira bakalan di judge macem macem ternyata engga.

Cerita ini buat kaliaann yang sudah bikin aku semangat lagi :D

Dipart ini aku bikin pov David tenang ajaaa.

Happy Reading!

°°°°°°

Elsye membawaku kedalam suatu kamar yang ukurannya lumayan besar. Dia menyuruh asisten rumah tangga yang tadi membantu satpam untuk meletakkan koperku disudut ruangan dekat lemari. "Lo tidur disini dulu ya, maaf kalau kamarnya kurang nyaman dan maaf gue cuma bisa nolong lo sampe begini doang," ujar Elsye seperti biasanya. Canggung. "Ini lebih dari cukup, terima kasih," kataku dengan senyuman.

Elsye membalas senyumku, tumben dia tersenyum. "Gue tinggal dulu ya, kalo butuh apa-apa panggil gue aja. Kamar gue ada disamping kanan kamar ini kok." Setelah berkata seperti itu, ia berjalan keluar ruangan dan menutup pintu kamar. Aku beruntung masih mendapat pertolongan. Semoga saja David tidak mengetahui kalau aku berada dirumah Elsye, hah apa yang kuharapkan? Dia tidak akan mencariku. Percaya diri sekali aku ini.

*****

Aku terbangun karena sorot cahaya yang sangat menyilaukan. Ternyata ini sudah pagi. Maka aku bergegas bangun dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Menatap pantulan diriku dicermin terlihat mengerikan. Mata yang merah dan sembab, kantung mata yang hitam, rambut yang acak-acakan. Semua membuat diriku terlihat seram. Aku menyalahkan keran dan mencuci muka di wastafel.

Mulai hari ini aku harus bisa melupakan David, karena aku akan menggugat cerai dirinya. Aku akan biarkan dia bahagia bersama wanita pilihannya. Meskipun aku yang akan tersakiti olehnya.

*****

"Hei, udah bangun?" Sapa Elsye dengan senyum hangat yang kubalas dengan anggukan, dia sedang menyiapkan sarapan.

"Sebenernya gue gak bisa masak, ini masakan pembantu gue," ujarnya dengan cengiran lebar. Aku hanya terkekeh menanggapinya.

"Aku bisa ngajarin kamu masak," Terlihat Elsye yang langsung menatapku berbinar-binar.

"Ajarin dong,"

"Emang kamu belum pernah diajarin sama pembantu kamu?"

"Belum, malu tau kalo minra ajarin sama dia, ajarin yaaa?" Katanya dengan tatapan memohon.

"Iya,"

"Yey, yaudah ayo kita makan." Aku tahu Elsye sebenarnya baik hanya saja dia suka kejam pada seseorang yang tidak ia sukai.

"Gue mau nanya, kenapa lo bisa pergi dari rumah?" Tanyanya disela-sela sarapan berlangsung.

"Aku memutuskan untuk pergi darinya, David harus bahagia dengan Camelia." Jawabku tanpa menceritakan kronologisnya.

"Udah gue duga, pasti masalahnya ada sama Amel. Dia tuh medusa banget, tenang aja, Sya. Nanti gue kerjain dia." Katanya dengan berapi-api. Aku juga menyadari itu, kalau Camelia adalah wanit bermuka dua. Tapi aku bisa apa? David sudah jatuh cinta padanya.

"Eh tunggu, lo bilang David harus bahagia sama Camelia? Oh, c'mon, she's bitch. David gak akan bahagia sama dia."

"Kenapa kamu bisa ngomong kaya gitu?"

"Emang kenyataannya gitu, Amel itu ratunya playgirl. Pura-pura polos didepan cowo, tapi abis itu dia bakal bikin cowo itu kehilangan semuanya, hartanya, warisannya, keluarganya, bahkan nyawa."

"Nyawa?"

"Yep, dia bisa bunuh orang itu kalau dia mau," ujar Elsye yang membuatku bergidik ngeri. Sungguh aku terkejut mendengarnya, wanita secantik dia bisa jadi pembunuh.

The Power Of LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang