Sesudah jam kuliah berakhir, Sasya segera pulang. Sasya tidak membawa mobil hari ini, jadilah Sasya naik bus.
Sasya menunggu dihalte dekat kampusnya, sudah setengah jam bus yang mengantarnya kerumah tidak datang juga.
Tiba-tiba ada mobil BMW putih yang berhenti dihadapan Sasya, akhirnya Sasya bergeser sedikit.
Tin tin tin
Sang pemilik mobil terus membunyikan klakson, tapi Sasya tidak mengubrisnya karena Sasya merasa tidak kenal dengan pemilik mobil ini.
Karna tidak dianggap, akhirnya pemilik mobil itu keluar dan menarik tangan Sasya untuk masuk ke dalam mobil.
"Tunggu! Kau siapa?" Pekik Sasya saat tangan ditarik oleh seorang laki-laki menggunakan kaca mata hitam.
"Masa gak kenal sama orang ganteng yang satu ini" Ujar orang itu sambil membuka kacamatanya.
"Yaelah Sean! Aku pikir siapa.. Udah gelap gini pake kacamata item!" Ujar Sasya menghembuskan nafas lega.
"Kan biar keren gitu" Kata Sean, kembali lagi ke sifat pede nya. Sasya hanya memutar kedua bola matanya malas.
"Sudah ayo aku antar pulang, daripada nunggu bus ga dateng-dateng, tapi kita makan dulu yaa.. Aku lapar" Ujar Sean, lalu keduanya masuk ke dalam mobil.
Dalam perjalanan, hanya Sean yang sedari tadi berceloteh tidak jelas. Sasya hanya diam dan sibuk dengan pikirannya.
Sasya tidak habis pikir dengan David, Sasya tau tadi malam David sedang mabuk jadi dia tidak akan menyalahkannya. Tapi Sasya benar-benar belum berani bertemu David malam ini, dia takut kalau yang dikatakan David saat mabuk itu memang benar, kalau David membencinya.
"Sya! Melamun aja, kita udah sampai" Ujar Sean membuat mengalihkan pandangannya ke luar mobil. Ternyata memang sudah sampai.
"Oh yaudah ayo kita turun" Seakan baru sadar Sasya baru mengucapkan itu, Sean hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sean tau Sasya sedang ada masalah, tapi Sean tidak ingin meminta untuk menceritakannya sebelum Sasya sendiri yang menceritakannya sendiri.
Dia tau Sasya masih sanggup menghadapi masalahnya sendiri, jadi yang Sean lakukan hanya menghiburnya sebagai semangat untuk Sasya.
Mereka duduk disudut pojok cafe, dari sana Sasya dapat melihat keadaan luar cafe karena dihadapan Sasya itu ada jendela besar dan Sean membelakanginya.
Setelah memesan makanan, mereka tidak banyak berbicara. Hanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
****
"Ayo aku antar pulang" Ujar Sean berusaha membujuk Sasya. Setelah makan tadi, Sasya langsung pamit dan terus menolak Sean yang ingin mengantarnya.
"Ga usah, aku pulang sendiri saja" Kata Sasya halus.
"Ini udah malam, perempuan ga baik keluar malam sendiri! Kalau kamu kenapa-napa gimana?" Ujar Sean merajuk.
"I'll be ok" Ujar Sasya singkat.
"Syaaa, memang suamimu ga jemput? Ayolah aku antar, sekali sajaa" Ujar Sean rada kesal. Sasya hanya mencibir dalam hati, dia tidak akan dijemput David kalaupun dia minta, pikir Sasya.
"Hhhh.. Yasudahlah, sekali saja ya" Ujar Sasya dia takut David marah kalau dia terlalu dekat dengan laki-laki lain.
'pede sekali aku, memang David akan peduli denganku' Gumam Sasya dalam hati.
****
"Rumahmu dimana?" Ujar Sean memecah keheningan di dalam mobil.
"Dari sini kamu belok kiri yang disitu tuh, nanti ada perumahan masuk trus cari rumah nomor 78" Jelas Sasya pada Sean.
Setelah mobil sampai di depan rumah Sasya, mereka diam sejenak didalam mobil.
"Selamat malam Sya" Ujar Sean pelan sambil menatap Sasya dalam.
"I-iya, selama malam.. Aku pulang dulu ya" Ujar Sasya gugup ditatap seperti itu.
"Yaudah" Kata Sean namun matanya menatap Sasya yang gugup.
"Yaudah, aku keluar dulu" Ujar Sasya lalu dia keluar.
Rumah terlihat sepi, sepertinya Sunny dan Kevin sudah tidur. Entahlah dimana David.
Sasya membuka pintu dengan hati-hati, setelah masuk dia segera menutup pintu dengan pelan agar tidak bersuara.
Ruang tamu sudah gelap, mungkin sudah pada terlelap. Akhirnya Sasya melangkah menuju tangga.
"Habis dari mana?" Ujar seseorang dingin.
Akhirnya lampu dinyalakan oleh orang itu dan terlihatlah David yang sedang menatapnya tajam.
"Diantar dengan siapa?" Kata David mengintimidasi.
"Umm.. Eh a-aku habis bertemu teman lama" Ujar Sasya gugup setengah mati. David hanya menaikan satu alisnya mendengar jawaban Sasya.
"Siapa teman lamamu itu?" Ujar David matanya menatap Sasya tajam. Sasya hanya bisa menunduk takut.
"Tidak mau jawab?" Ujar David dengan nada tidak senang.
"Kau sudah punya suami, kau sudah punya keluarga kau tau itu! Tapi kau pulang malam tidak pernah mengabari!" Bentak David dengan nada sedikit khawatir. Mungkinkah David mengkhawatikan Sasya?
"Ma-maaf, aku.. Aku lupa" Ujar Sasya pelan.
"Apa kamu khawatir sama aku?" Ujar Sasya pelan langsung menutup mulutnya, dia tidak sengaja berbicara seperti itu. Sasya berharap David tidak mendengarnya.
"Hm! Jangan harap! Aku tidak akan mengkhawatirkanmu!" Ujar David galak.
'bodoh! buat apa sih aku sok sok mengintimidasinya! Kan dia jadi mikir aku khawatir dengannya.. Ah sudahlah, stay cool saja' Batin David.
"Sudahlah.. Awas kau mengulangi itu lagi! Dikeluarga ini wanita tidak ada yang boleh pulang lewat jam 10!" Ujar David lalu pergi begitu saja meninggalkan Sasya. Sasya hanya bernafas lega.
"Apa benar David mengkhawatirkanku? Huh bagaimana bisa dia khawatir sama kamu sih Sasya! Dia saja tidak peduli gitu" Gumam Sasya pada diri sendiri.
****
Next chap gatau mau kaya gimana hehehe.. Saran dong :D
Makasih yang udah baca cerita aku :*
Kritik dan Sarannya yaa :)
KAMU SEDANG MEMBACA
The Power Of Love
RomanceOrang bilang cinta datang karena terbiasa, aku percaya itu dan aku mengalaminya. Tapi bagaimana kalau yang aku alami sekarang adalah cinta bertepuk sebelah tangan? Dibenci banyak orang bukanlah kemauan semua orang. Tapi itu terjadi padaku. Dan menci...
