Hai! Maaf ya lama ga update, aku padahal udah nulis capek-capek tapi giliran sebentar lagi mau di post ke hapus, nyesek banget tau. Maaf ya kalo pendek, aku lagi ga mood soalnya. Udah nulis panjang-panjang ujung ujungnya ke hapus.
Untuk para readers diharapkan bisa ngehargain cerita ini dengan vote dan komentarnya. Kalau yang ga suka cerita ini, mending gausah baca.
Mulai sekarang aku pake POV Sasya ya, tapi sewaktu-waktu aku bisa aja ganti pake POV yang lain.
******
Aku benar-benar bingung sekarang, aku ingin sekali mendonorkan ginjalku pada Mrs.Amy, tapi David selalu melarangku. Aku juga bingung sama David, disaat seperti ini bisa-bisanya dia melarangku untuk mendonorkan ginjal, padahal kan kalau Mrs.Amy sehat dia juga yang bahagia.
Lalu aku harus bagaimana? David sudah tau kalau aku sudah berkonsultasi dengan spesialis ginjal dan menyuruhku untuk membatalkan niatanku. Dia pasti marah besar kalau aku tidak menuruti keinginannya.
Lagipula untuk apa dia melarangku, dia bahkan tidak peduli denganku. Jadi, untuk apa pula aku peduli dengan keinginannya?
Aku melirik kearah David yang ternyata juga sedang melirikku sambil berdecak kesal. Loh, apa yang salah denganku?
"Sya, kapan makanannya mau dimakan?" Tegur David padaku, aku juga sedang makan kok.
"Ini lagi makan,"
"Kamu bukan lagi makan, kamu tuh lagi ngaduk-ngaduk tuh makanan," Kata David sambil melihatku yang ternyata memang hanya mengaduk-aduk makanan.
"Eh. Iya, ini mau dimakan kok," balasku salah tingkah karena sedari tadi dia memperhatikanku dengan detail.
"Kamu lagi mikirin apa sih? Dari tadi melamun mulu," Ujar David lembut seraya mencegah tanganku yang ingin menyuapkan makanan kemulutku. Huh, tadi dia yang menyuruhku makan, sekarang dia yang mecegahku makan. Ck! Maunya apasih sih.
"Aku gak mikirin apa-apa kok," David menaikan satu alisnya mendengar jawabanku.
"Yakin? Gak lagi mikirin rencanamu yang ingin mendonorkan ginjal itu kan?" Tepat sasaran.
"Uhm.. Eng-enggak kok,"
"Baguslah." Gumam David lalu melanjutkan makannya.
******
Aku sedang mencuci piring saat Laura menghampiriku hanya untuk pamit karena dia sudah dijemput oleh Haris untuk pergi ke rumah sakit tempat Mrs.Amy dirawat. Ini adalah kemajuan, hal yang sangat langka. Mungkin, perlahan hubunganku dengan Laura akan membaik.
David dan Kevin sedang mengantar Sunny kesekolahnya, ini adalah hari sabtu jadi David sedang libur sekarang. Berbeda dengan Sunny yang tetap masuk dihari sabtu.
Sambil menunggu David yang belum juga pulang, aku duduk di sofa dan menonton TV. Sudah lebih dari dua jam David belum pulang-pulang. Padahal kan sekolah Sunny tidak terlalu jauh dari rumah, kemana dia dan Kevin?
Ceklek
"Sya?" Nah, itu dia David. David pun ikut duduk bersamaku dan memeluk pinggangku. Duh, kenapa dia malah memelukku sih.
"Dave-"
"Biarkan seperti ini dulu,"
"Ta-tapi, aku gak nyaman," Kataku berusaha melepaskan pelukannya di pinggangku.
"Kamu harus terbiasa dengan ini berarti," ujar David seraya mengeratkan pelukan dipinggangku dan membawaku untuk bersandar di dada bidangnya.
Aku tidak bisa menyembunyikan kegugupanku. Jantungku berdegub kencang dan aku sangat sangat berharap agar David tidak mendengarnya. Sebenarnya, berada dipelukan David sangatlah nyaman, tapi aku juga merasakan gugup jika berdekatan dengannya.
Kurasa perkataannya benar, mulai sekarang aku harus membiasakan diriku dengan ini.
Tunggu, sedari tadi aku merasa ada yang janggal. Ah ya, David tadi pulang tidak bersama Kevin. Lalu dimana Kevin? Ya tuhan, kenapa David bisa lupa dengan anak sendiri?
"David, dimana Kevin?" Pekikku sambil berusaha melepaskan pelukan David dipinggangku dan beranjak dari sana.
Namun, sebelum aku beranjak, David sudah mencekal tanganku dan menariku untuk duduk lagi disampingnya. "Hey, easy girl. Kevin sedang dirumah sakit,"
"APA?? Ya tuhan ada apa dengan Kevin? Kenapa kamu gak kasih tau aku? Ayo kita kesana sekarang," Mendengar ocehanku David hanya terkekeh. Aneh, anaknya sedang sakit kok malah seneng, apa jangan-jangan dia gila karena Kevin kecelakaan? Ya tuhan aku sedang bersama dengan orang gila!
Aku meletakkan punggung tanganku di dahi David, memang agak sedikit panas sih. Astaga! Aku sedang satu ruangan bersama orang gila, bagaimana ini?
David menangkup tanganku yang berada didahinya, seakan tahu apa yang kupikirkan dia malah mengulum senyum seperti menahan tawa.
"Kamu gila ya, David?" Tanyaku heran sekaligus takut jikalau David memang depresi karena anaknya masuk rumah sakit.
David langsung terbahak mendengar pertanyaanku. Dia tertawa geli sambil mengeleng-gelengkan kepalanya lalu mengacak-acak rambutku dengan tanganku dan langsung kusingkirkan. Tuh kan, kurasa dia memang sudah tidak waras.
"Dengar, Kevin dirumah sakit untuk menjenguk omanya, bukan karena sakit atau apapun. Dan satu lagi, aku tidak gila," Ujar David setelah puas tertawa.
"Hah, bilang dong dari tadi." Ujarku sambil menghela nafas lega. David hanya mengulum senyum melihatku dan memajukan wajahnya ke depan wajahku.
Dia mengecup bibirku dengan lembut, namun lama-lama berubah menjadi lumatan yang menuntut. Aku segera mendorong dadanya untuk menjauh karena sudah kehabisan nafas dan kurasakan pipiku memanas.
"Kamu juga harus terbiasa dengan yang satu itu, karena setelah itu kita akan melakukan yang lebih intim dari itu," Ujar David sambil mengedipkan sebelah matanya padaku. Pipiku semakin memanas dan kurasa telingaku juga ikut memanas.
David yang melihatku blushing langsung tersenyum menawan. Ya tuhan betapa beruntungnya aku mempunyai suami -ralat kakak ipar- seperti ini.
Aku sangat berharap bisa seperti ini terus setiap harinya. Mendapat kasih sayang dari David dan itu akan ku jadikan momen yang takkan pernah ku lupakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Power Of Love
RomanceOrang bilang cinta datang karena terbiasa, aku percaya itu dan aku mengalaminya. Tapi bagaimana kalau yang aku alami sekarang adalah cinta bertepuk sebelah tangan? Dibenci banyak orang bukanlah kemauan semua orang. Tapi itu terjadi padaku. Dan menci...
