"Jadi bagaimana?" Tanya David dingin.
Sasya menghela nafas berat. Dia memang sudah berjanji pada Fillia untuk menjaga David dan anak-anaknya. Tapi haruskah Sasya menikah dengan kakak iparnya sendiri?
Bagaimana perasaan Fillia di sana? Apakah dia senang? Atau malah sebaliknya? Membingungkan sekali.
"Aku... butuh waktu." Balas Sasya gugup.
"Aku tidak suka menunggu keputusan yang terlalu lama! Cepat kau tentukan, besok aku akan ke rumahmu menanyakannya lagi." Kata David dingin pergi berlalu begitu saja hanya meninggalkan dua lembar uang di atas meja untuk membayar minuman mereka.
Sasya merasa kesal dengan perlakuannya. Menyebalkan sekali dia..
Tapi apa boleh buat? Fillia telah membuat janji untuk David dan Sasya agar segera menikah, walaupun mereka belum menyetujui karena saat janji itu diutarakan, Fillia telah mengambil nafas terakhirnya.
Dia harus menikah dengan David? Sepertinya memang harus. Bagaimanapun juga Sasya belum rela melepas masa lajangnya dengan orang yang tidak dicintainya dan terlebih lagi orang itu adalah suami kakaknya.
****
Pagi ini Sasya sedang tidak ada kelas, akhirnya dia hanya bermalas-malasan di rumah. Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi Sasya pergi ke dapur untuk membuat breakfast. Selesai membuat roti panggang dia memakannya, hanya sendiri. Membosankan sekali hidupnya.
Saat sedang asik memakan makanannya, tiba-tiba bell rumah berbunyi.
"Ya tunggu sebentar" Teriak Sasya dari dapur. Rumah Sasya adalah rumah sederhana, tidak terlalu besar. Jadi dia teriak dari dapur yang letaknya di belakang pun akan terdengar di depan rumah.
Sasya bergegas bangun dari duduknya dan membukakan pintu untuk tamu.
Sudah di duga, pasti yang bertamu hari ini adalah pria itu.
"Silahkan masuk." Kata Sasya memberikan akses untuk masuk rumah kepada pria itu.
Sasya duduk di sofa ruang tamu dan di ikuti pria itu yang duduk disofa sebrangnya.
"Jadi bagaimana?" Kata pria itu.
"Baiklah, aku bersedia!" Kata Sasya mantap dengan keputusannya.
Pria itu membelalakan matanya, kaget akan apa yang dikatakan Sasya tanpa berfikir dulu.
"Pikirkanlah dulu!" Kata pria itu dingin.
"Aku sudah memikirkannya sejak kemarin." Kata Sasya tenang.
"Kau yakin?" Kata pria itu ragu.
"Kenapa kau meragukanku sekarang, David? Kau sendiri yang memaksaku." Kata Sasya seakan menyalahkan David
"Aku tidak memaksamu! Ingat itu!" Kata David dingin dan menatap Sasya tajam, lalu dia pergi begitu saja keluar.
"Aneh!? Apa ada yang salah dengan ucapanku?" Gumam Sasya bingung.
****
Sasya mendengar suara bell rumahnya dan suara ketukan di pintu rumah. Dia segera beranjak dari sofa untuk membukakan pintu rumah.
"Ada apa ya?" Tanya Sasya kepada seorang yang berpakaian seperti tukang pos itu.
"Kediaman nyonya Fuzzelta?" Tanya pria itu.
"Yah, benar." Kata Sasya.
"Ini kiriman paket untuk anda, silahkan tanda tangan disini." Kata tukang pos itu menyodorkan paket dan buku untuk tanda tangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Power Of Love
RomanceOrang bilang cinta datang karena terbiasa, aku percaya itu dan aku mengalaminya. Tapi bagaimana kalau yang aku alami sekarang adalah cinta bertepuk sebelah tangan? Dibenci banyak orang bukanlah kemauan semua orang. Tapi itu terjadi padaku. Dan menci...
