Sasya sedang menyiapkan sarapan untuknya dan David, hari ini mereka akan pergi ke rumah ibunya David untuk menjemput Sunny dan Kevin.
"Makanannya sudah siap?" Tanya David yang sudah siap dengan pakaian santainya, polo t-shirt dengan celana levis hitam. Sangat tampan, seperti dewa yunani yang turun ke bumi.
"Oh, sebentar lagi" Ujar Sasya yang masih berkutat dengan alat-alat masak di dapur.
"Nanti akan ada temanku yang datang, aku yang mengundangnya, tolong ajak dia makan bersama ya.. Aku ada diruang kerja" Ujar David setelah mendapat anggukan dari Sasya, David pergi menuju ruang kerjanya.
TING TONG
Tepat sekali, Sasya sudah selesai menyiapkan makanan dan tamu yang dikatakan David itu datang. Sasya segera berjalan membukakan pintu untuk teman David, dia akan menyambut tamu dengan senyum lebar.
Namun, hilanglah senyuman itu saat tahu siapa yang dimaksud 'teman' oleh David, dia adalah Camelia. Sasya heran, mengapa akhir-akhir ini Camelia selalu saja datang kesini. Apakah mereka berdua memiliki hubungan khusus yang lebih dari teman?
Hanya dengan memikirkan hal itu saja sudah membuat hati Sasya terasa tercabik-cabik. Bagaimana bisa dia dijadikan istri tapi David malah jatuh cinta pada wanita lain?
"Bisakah aku masuk?" Ujar Camelia yang langsung membuyarkan lamunan Sasya.
"Oh, maaf" Ucap Sasya lalu menyingkir untuk memberi Camelia jalan. Sasya segera menghampiri ruang kerja David, Namun Camelia mencegahnya.
"Biar aku aja yang panggil" Kata Camelia dengan senyum memuakkan dan itu sangatlah sikap yang tidak sopan menurut Sasya, dia adalah tuan rumah disini dan sudah seharusnya dia yang memasuki ruangan-ruangan disini, bukannya orang asing seperti Camelia.
Camelia langsung masuk begitu saja, tanpa mengetuk. Sasya semakin tidak suka dengan Camelia, bahkan Sasya belum pernah memasuki ruang kerja David. Camelia adalah wanita bermuka dua menurut Sasya.
Dengan sikap manisnya di depan orang-orang, namun Sasya tau kalau Camelia ingin merebut David.
Sasya hanya pasrah dan berjalan menuju ruang makan untuk menunggu mereka berdua datang.
"Makanannya udah siap ternyata, sini, Mel! Kita makan" Ajak David kepada Camelia. Sasya sangat cemburu dengan sikap David yang baik kepada Camelia.
"Oh ok, setelah ini kita ke rumah Mama kamu kan? Aku udah ga sabar bertemu dengannya" Ujar Camelia dengan mata berbinar.
"Haha, iya.. Santai aja" Ujar David sambil terkekeh. Sasya hanya memutar kedua bola matanya melihat keakraban mereka, yah dia sangaat cemburu sekarang.
Camelia melihat wajah Sasya yang cemburu pun langsung mengembangkan senyum kemenangan.
*****
"Ma, aku kesini hanya ingin menjemput Sunny dan Kevin" Ujar David saat Mrs.Amy sudah membukakan pintu.
"Yaudah masuk dulu dong, kamu Camelia ya? David pernah cerita tentang kamu" Ujar Mrs.Amy dengan ceria yang dibalas anggukan dan senyum ramah oleh Camelia, Sasya semakin kesal karena pada kenyataannya David sering cerita tentang Camelia pada Mrs.Amy, itu berarti dia memang benar-benar tertarik bukan dengan Camelia?
"Ma, itu kan dulu, sekarang aku udah punya istri" Bantah David, Sasya senang dirinya diakui oleh David.
"Ah iya sih, tapi mama maunya istri kamu itu Camelia yang cantik ini, dari pada istri kamu yang sekarang" David benar-benar kesal dengan ibunya sekarang, bisa-bisanya dia berkata seperti itu di depan Sasya.
Sasya yang mendengar jawaban Mrs.Amy merasa dirinya benar-benar hina sampai dibicarakan seperti itu. Dia ingin menangis sekarang juga, tapi dia tidak boleh menangis.
"Cukup! Mana Sunny dan Kevin?" Bentak David saat Mrs.Amy tertawa senang sedangkan Camelia tersipu malu.
"Papa!" Pekik Kevin yang baru keluar dari rumah saat itu juga.
"Panggil Sunny, kita pulang sekarang" Ujar David dengan rahang mengeras menahan emosi. Mrs.Amy yang melihat anaknya marah hanya bisa memutar kedua bola mata. Sementara Sasya sedari tadi hanya bisa menunduk dan menahan air matanya agar tidak jatuh.
****
"Aku mau pergi dulu sebentar" Itulah kata pertama yang keluar dari mulut Sasya saat mobil sudah terparkir di garasi. Setelah mengantarkan Camelia ke rumahnya, suasana dimobil benar-benar hening, Kevin dan Sunny sudah tertidur dijok belakang.
"Mau kemana, Sya?" Tanya David, dia merasa bersalah atas kelakuan ibunya yang berbicara seperti itu. Pasti Sasya sangat sedih sekarang, pikir David.
"Aku.. Aku mau ke minimarket terdekat" Ujar Sasya beralasan, sebenarnya dia ingin berjalan-jalan saja, dia ingin menghibur diri.
"Aku temenin" Dengan spontan David berkata. Namun, dengan cepat Sasya menolak dan akhirnya David mengalah, dia membiarkan Sasya pergi sendiri.
*****
Sasya segera pergi ke minimarket, dia bingung ingin membeli apa, kebutuhan rumahnya belum habis. Jadi dia hanya membeli bumbu-bumbu racik instan.
Sasya malas pulang, dia malas melihat David, dia akan merasa sedih lagi jika melihat David yang lebih peduli dan akrab dengan Camelia dibanding dirinya, akhirnya dia pergi ke taman yang berada tepat di depan minimarket.
Tak terasa sudah malam, akhirnya Sasya memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia harus pulang sekarang, sebelum hari semakin malam.
*****
Sesampainya dirumah Sasya disambut dengan pemandangan yang tidak dia sangka, ia melihat David berjalan mondar mandir di teras rumah, ngapain dia? Pikir Sasya.
"Sasya, astaga! Kamu dari mana aja? Aku tungguin tapi ga pulang-pulang, bikin aku khawatir aja" Ujar David khawatir saat melihat Sasya yang baru saja muncul.
"Maaf, aku habis dari taman" Kata Sasya merasa bersalah. Tapi tadi David bilang apa?
"Bikin aku khawatir aja"
Kemajuan untuk Sasya lagi. David khawatir padanya? Hah sulit dipercaya, tapi baguslah.
"Yaudah ayo masuk, udah malem. Besok-besok jangan bikin aku khawatir lagi" Kata David seraya menggiring Sasya untuk masuk ke rumah.
Sasya mengembangkan senyuman saat melihat betapa perhatiannya David. Dia tidak menyangka sehabis bersedih, dia malah disambut dengan hal yang menghangatkan hati seperti ini. Sejenak dia bisa melupakan kesedihannya.
°°°°°
Maaf lama update yaaa, sedikit ya? Biarkanlah ya :P
Mudah-mudahan next part bisa lebih banyak dan Sasya-David nya udah romantis romantisan gitu.
Vomments nya yaaa
KAMU SEDANG MEMBACA
The Power Of Love
RomanceOrang bilang cinta datang karena terbiasa, aku percaya itu dan aku mengalaminya. Tapi bagaimana kalau yang aku alami sekarang adalah cinta bertepuk sebelah tangan? Dibenci banyak orang bukanlah kemauan semua orang. Tapi itu terjadi padaku. Dan menci...
