Chapter 6

1.8K 348 3
                                        

Belum juga rasa heran anak-anak akan sikap manis Aruna pada Jevan pagi tadi hilang, sekarang mereka dibuat makin terbelalak saat melihat seorang Glendia Aruna dibonceng oleh cowok aneh pojokan. Jangan tanya bagaimana reaksi heboh anak-anak SMK 97 saat melihat adegan itu. Jevin bahkan dibuat risih dengan tatapan mereka yang moyoritas sinis.

Sesuai dengan rencana mereka kemarin, Aruna dan Jevin akan mengerjakan tugas di rumah gadis berambut sebahu itu. Namun, baru saja motor milik Jevin keluar dari gerbang sekolah, tepat di pertigaan gang, ada Leo dengan genk-nya dari kelas RPL berdiri menghadang Jevin. Mau tak mau Jevin pun menghentikan laju motornya.

Aruna dengan wajah jutek turun dari motor dan menghampiri mantan kekasihnya... entah dia harus menyebutnya seperti itu atau tidak, karena saat itu mereka belum berpacaran.

"Ngapain lo ngalangin jalan kita?" Aruna sebisa mungkin menahan emosinya. Sebenarnya dia sangat muak melihat muka Leo, kalau bisa dia ingin menampar atau mencakar-cakar wajah tampan cowok di depannya itu. Tapi sepertinya Aruna harus banyak-banyak memiliki stok kesabaran jika ingin secepatnya pulang ke masa depan.

"Jawab dulu pertanyaan aku, kenapa kamu cuekin BBM aku? Dan sekarang malah boncengan sama dia?" ucap Leo sembari menunjuk Jevin yang sedang duduk di atas motornya. Dari kemarin Leo meneror Aruna dengan pesan BBM dan telepon, tapi Aruna mengabaikannya.

Sial karena saat itu mereka dalam masa pendekatan sehingga Aruna harus diganggu cowok brengsek di depannya itu.

"Gue sibuk, banyak tugas. Dan kenapa gue boncengan sama dia..." Ada jeda dalam ucapan Aruna. "Gue mau ngerjain tugas sama dia. Udah gue jawab semua pertanyaan lo, kan, sekarang biarin gue pergi."

"Sama dia?" Leo menunjuk Jevin kemudian tertawa remeh saat Aruna mengangguk. "Kamu yang bener aja dong, Na!"

Teman-teman Leo pun ikut menertawakan Jevin, membuat lelaki itu menunduk. Jevin tidak suka diperlakukan seperti ini.

"Kenapa? Ada yang salah? Nggak, kan!"

Leo hendak membalas ucapan Aruna lagi, tapi dengan cepat gadis berambut sebahu itu memotongnya, "Udah deh, gue lagi nggak punya banyak waktu buat berdebat sama lo. Mending lo main aja sama temen-temen lo sana. Bye..." Setelah mengatakan hal tersebut, Aruna kembali ke boncengan Jevin.

"Tapi, Na..."

Leo mengejar Aruna, namun dengan cepat Aruna menepuk pundak Jevin, menyuruh agar cowok itu menjalankan motornya.

"Jalan, Jev."

Leo memukul udara menyugar rambutnya kasar. Kesal saat melihat motor Jevin yang membawa gebetannya itu berjalan menjauh. Cowok yang masih memakai seragamnya itu mengepalkan tangannya.

"Arghh!!! Tunggu pembalasan gue. Gimana pun caranya, lo bakal jadi milik gue, Na!" geram leo.

Disisi lain Jevin tersenyum saat mengingat kejadian hari ini, mulai dari sikap ramah Aruna tadi pagi hingga saat dia membela Jevin di depan Leo dan teman-temannya.

"Thanks, Na," lirih Jevin dari balik helm-nya yang tentu saja tak terdengar oleh gadis yang sedang diboncenganya itu.

Sesampainnya di rumah Aruna, mereka berdua langsung bersiap mengerjakan tugas yang diberikan oleh Mr. Edward. Di rumah Aruna tidak ada orang. Mama dan Papa bekerja sedangkan Robin yang sudah kelas enam berada di tempat les. Biasanya Mama yang akan menjemput sepulang kerja karena lokasi les Robin searah.

"Gue dari sini sampe sini, nanti lanjutannya lo," jelas Aruna, menunjukan materi yang telah mereka buat di sekolah tadi.

Jevin hanya menurut. Cowok yang masih memakai seragam dengan dilapisi jaket warna hitam itu mulai menyalakan kamera di ponsel miliknya, siap untuk merekam Aruna. Aruna pun bersiap dengan produk yang akan mereka iklankan yaitu kue tradisional buatan Mama Jevin.

Back To School✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang