Chapter 22

1.4K 292 65
                                        

Rasa perih mendera pipi Aruna tepat setelah telapak tangan Mega menyentuhnya. Tubuhnya bahkan terhuyung hingga rambutnya yang dikuncir kuda menutupi wajah. Dia bertahan dalam posisi itu selama beberapa detik sampai scarlet girl menghampirinya.

Dia belum pernah merasakan yang namanya ditampar saat di dunia yang sebenarnya dan sejak ada di masa lalu dia sudah mendapatkan itu dua kali... luar biasa! Ternyata ini buah dari perbuatan buruknya dulu.

"Na, lo nggak apa-apa?" tanya Feli panik.

Aruna terkadang kesal dengan pertanyaan semacam ini, sudah tau dia baru saja ditampar masih bertanya apakah dia baik-baik saja.

Tak hanya Feli, Gisel dan Vanya yang menghampiri Aruna tapi juga anak-anak yang sedari tadi menonton live drama itu. Mereka mengerubungi gadis yang masih kesakitan itu. Bukan hanya khawatir tapi beberapa dari mereka justru senang dan merekam dengan ponsel secara diam-diam. Ini pasti akan menjadi berita heboh di sekolah mereka.

"Awas, awas, awas!" usir Gisel pada mereka. Setelahnya Gisel menghampiri Mega. Dia menunjuk wajah Mega dengan telunjuknya dan mengancam gadis berbadan tambun itu. "Lo Nggak akan lolos gitu aja! Tunggu pembalasan kita!"

"Tapi dia sendiri udah setuju kan gue tampar."

Gisel meremas kedua tangannya saat Mega berani menjawab perkataannya. "Berani-beraninya lo, hih!"

Feli dan Vanya menuntun Aruna menuju UKS untuk mendapatkan perawatan. Diikuti Gisel yang sedikit tergesa karena baru saja memberi peringatan pada seseorang yang telah menampar Aruna.

Aruna meringis saat Vanya mengompres lebam di pipi putihnya. "Aduh... pelan-pelan, Van."

"Iya, Van, pasti sakit banget," sahut Feli yang duduk disebelah Aruna sambil merangkul gadis itu.

"Iya. Tahan bentar, Na," jawab Vanya yang sekarang juga meringis melihat lebam di wajah Aruna. Vanya tahu seperti apa sakitnya ditampar karena dia juga pernah merasakannya saat libur semester kemarin.

Gisel sendiri masih berdiri dengan kedua tangan yang ditekuk di depan dada. Dirinya masih kesal, bukan hanya dengan Mega, tapi juga Aruna yang dengan suka rela menyerahkan wajahnya untuk ditampar.

"Awas aja tuh si sapi, bakal habis dia!" geram Gisel. "Lo juga, Na!"

Aruna lalu memandang Gisel. "Gue?"

"Lo bakal habis sama gue karena ngelakuin hal konyol kaya tadi!"

Terlihat sekali jika Gisel sangat kesal dengan apa yang dia lakukan. Aruna tersenyum menanggapi gerutuan Gisel. Gisel berbicara seperti itu karena dia sayang pada Aruna. Dia beruntung memiliki tiga sahabat... ralat, mungkin dua sahabat seperti member Scarlet Girl.

Memang begitu besar popularitas Aruna pada masa putih abu-abu dulu, hingga berita tentang ia yang ditampar oleh Mega menyebar dengan cepat ke penjuru sekolah. Dan entah siapa yang memberitahu sampai Leo datang ke UKS untuk memeriksa keadaan pacarnya.

"Sayang, kamu nggak apa-apa?" tanya Leo panik begitu mendapati Aruna tengah dikompres oleh Vanya.

"Menurut lo? Mana ada orang yang abis ditampar baik-baik aja," sinis Aruna dalam hati. Tapi dia mencoba tersenyum dan berkata, "Nggak apa-apa, kok. Cuma perih aja."

"Biar gue aja, Van." Leo meminta handuk yang digunakan untuk mengompres Aruna pada Vanya, namun Vanya tidak langsung menyerahkannya. Dia justru seperti melamun sejak kedatangan Leo.

"Van, kasihin ke Leo," tegur Feli membuat Vanya dengan cepat menyerahkan handuk itu.

"Sorry," ucap Vanya lalu gadis itu bangkit dari duduknya. Sekarang tempat Vanya duduk tadi diganti oleh Leo. Vanya sempat memperhatikan Leo yang tengah mengompres wajah Aruna dengan hati-hati. Kemudian dia memutuskan untuk pergi dari sana.

Back To School✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang