Chapter 15

1.5K 293 22
                                        

Aruna memiringkan kepalanya. Mata bulatnya menyipit, menelisik sosok lelaki yang ada di depannya. Merasa diperhatikan, lelaki yang tengah mengunyah kentang goreng itu menaikan kedua alisnya, tanda bertanya ada apa pada gadis yang sedang mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan.

Aruna kemudian menegakkan duduknya, menghela napas sebelum menyampaikan apa yang ada di hatinya.

"Lo itu siapa sebenernya?" tanya Aruna dengan tatapan menyelidik.

"Jevin," jawab Jevin santai.

"Nggak perlu lo kasih tau itu, Markonah!" Aruna menggerutu mendengar jawab Jevin.

"Kan lo tanya siapa gue. Ya gue jawab kalau gue itu Jevin." Lelaki itu kemudian membuka jaket hitamnya dan menunjukan nama yang terjahit di baju seragamnya. "Nih... Jevin Regana."

Aruna berdecak kesal yang justru membuat Jevin terkekeh.

"Maksud gue..." Ada jeda dalam ucapan Aruna. Gadis itu mencondongkan badannya ke depan agar lebih dekat dengan Jevin. "Lo yang lagi sama gue sekarang sama lo yang ada di sekolah itu kaya dua orang yang berbeda," lanjutnya.

Jevin terkekeh lalu menjawab, "Itu cuma perasaan lo doang."

Aruna menggoyangkan jari telunjukanya di depan wajah Jevin.

"No, No, No! Buktinya lo nggak banyak ngomong kalau lagi di sekolah. Tapi di sini lo kelihatan enjoy banget. Dan lagi tadi lo dikerubungin sama cewek-cewek yang katanya temen SMP lo. Coba kalau di sekolah, boro-boro dikerubungin punya teman aja nggak," cibir Aruna. Setelahnya gadis itu mengambil kentang goreng yang tersaji di depan mereka dan memasukan ke mulutnya.

"Coba deh lo kaya gini kalo lagi di sekolah." ucap Aruna lagi saat Jevin tidak menanggapi ocehannya.

"Ini kali ke berapa lo bilang gitu ke gue?"

Aruna mengetuk-ngetukan jari telunjuknya di dagu. "Hmm... Belum ada lima kali, sih," jawabnya. "Abisnya gue greget banget tau sama anak-anak yang suka seenaknya sama lo. Mana ngasih julukan yang nggak etis banget lagi. Gue tuh pengen lo menjalani masa sekolah yang normal. Punya banyak temen,..."

Ocehan Aruna terhenti saat Jevin memotongnya.

"Kan gue udah pernah bilang... Lo aja udah cukup buat gue."

"Ya kan nggak lucu juga kalau dari ratusan siswa di sekolah, lo cuma mau bergaul sama gue," tolak Aruna. Gadis itu benar-benar ingin Jevin bisa seperti murid lainnya.

"BB lo bunyi tuh."

Aruna menyebikkan bibir saat Jevin mengalihkan pembicaraan dan mengubah topik ke BB milik Aruna. Aruna juga tau kalau benda persegi miliknya itu berbunyi dari tadi.

"Lo mah ngalihin pembicaraan!" kesal Aruna. Dia kemudian mengambil BB miliknya. Siapa lagi yang akan menganggu Aruna kalau bukan Leo. Dengan malas Aruna mengangkat panggilan dari sang mantan.

"Halo," sapa Aruna.

"Kamu di mana, Sayang? Aku cariin ke UKS nggak ada. Aku telpon dari tadi juga baru diangkat. Kamu bikin aku khawatir tau," berondong Leo dari seberang.

"Aku lagi tidur. Tadi dijemput sama Papa, udah nggak kuat," bohong Aruna.

"Kenapa nggak bilang sama aku?"

"Lo siapa suruh gue laporan," batin Aruna. "Aku nggak mau ngerepotin kamu. Apalagi kamu juga ngisi acara, pasti capek, kan?"

"Nggak sama sekali. Ya udah kamu istirahat, nanti abis pensi kamu ke rumah."

Aruna ingin menolak, tapi Leo tidak mendengarkan.

"Get well soon, Sayang!"

Aruna meletakan BB miliknya di meja dengan kasar.

Back To School✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang