Chapter 30

1.5K 284 57
                                        

Aruna bersama dengan Scarlet Girl masuk ke hotel tempat acara perpisahan mereka digelar. Suasana di ballroom hotel sudah sangat ramai.

Tema perpisahan mereka adalah pesta topeng, dan karena hal itu Aruna tidak mengenali siapa seseorang yang sudah ia siram dulu. Andai dia tahu siapa lelaki itu, dia akan meminta maaf sekarang, sebelum dia mengulang kejadian penyiraman untuk memperbaiki kesalahan yang telah ia buat.

Semua murid seperti berlomba-lompa mengenakan kostum terbaik. Rata-rata anak perempuan mengenakan gaun dan laki-laki berpakain formal dengan jas. Tak hanya murid-murid yang baru beberapa hari lulus itu, tapi juga guru-guru mereka yang seperti tak mau kalah dengan penampilan muridnya.

Anehnya meskipun memakai topeng, Aruna seperti memiliki auranya tersendiri sehingga dari tadi banyak sekali anak yang menyapanya dan mengatakan kalau Aruna cantik sekali malam ini. Aruna sampai heran bagaimana bisa mereka mengenali dirinya saat memakai topeng, sedangkan dirinya tidak bisa mengenali mereka.

Gadis itu hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih saat anak-anak lain memujinya. Dia mengakui kalau dia memang seterkenal itu saat sekolah.

Aruna menyapukan pandangannya ke seisi ballroom untuk mencari dua yang harusnya dia temui sebelum terbangun di malam perpisahan.

"Nyariin siapa, sih?" tanya Gisel saat melihat sahabatnya terlihat mencari-cari seseorang.

Tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya, Aruna menjawab dengan singkat, "Jevin."

Siapa lagi yang akan Aruna cari selain lelaki itu. Aruna belum melihat sosok Jevin atau pun Hesti semenjak mereka datang. Walaupun sebenarnya susah mengenali mereka saat mereka semua mengenakan topeng, tapi Aruna tetap berusaha. Harusnya tadi dia pergi belajar bersama Jevin dan Hesti untuk ujian besok, tapi dia justru terlempar di sini. Bukan dia tidak senang tujuannya sudah ada di depan mata, hanya saja ini terlalu mendadak hingga dia sendiri bingung apa yang harus dilakukan.

"Ya elah, dia pasti lagi di back stage. Kan bentar lagi Handycraft bakal opening," sahut Feli.

Aruna langsung mengalihkan pandangannya ke Feli. "Serius lo?!"

"Gini nih kalau pacaran mulu. Ada berita apa nggak update," sinis Feli.

"Gimana gue mau update, Fel. Gue aja baru ujian tadi dan sekarang tiba-tiba gue ada di sini," batin Aruna. Dia kemudian nyengir menunjukan deretan gigi putih dengan dua gigi kelincinya. "Kan hectic nyiapin ini itu," kilah Aruna.

"Eh, by the way pacar lo kemana?"

Aruna mengedikan bahu lalu bergumam, "Lagi nyari cara kali."

"Hah? Apa? Gue nggak denger."

"Lupakan."

Mungkin saja Aruna belum melihat Leo malam ini karena Leo sibuk mencari cara untuk memutuskannya, begitu pikir Aruna.

"Eh, kita foto dulu yuk," celetuk Vanya yang dari tadi hanya mendengarkan obrolan teman-temannya. Aruna memperhatikan Vanya yang sedang mengambil smart phone yang ada di tas miliknya. Dia begitu ceria malam ini, terpancar kebahagiaan di wajahnya.

Jika dulu Aruna tidak terlalu memperhatikan perbedaan sikap Vanya saat malam perpisahan, sekarang Aruna benar-benar melihat dengan jelas jika gadis itu sedang sangat bahagia. Dan alasan dibalik kebahagiaan Vanya tentu saja karena malam ini Leo berjanji padanya akan memutuskan Aruna.

Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa dulu Leo tidak jadi memutuskan Aruna? Bukankah akan lebih baik jika Leo benar-benar memutuskan hubungan mereka, setidaknya sakit yang Aruna rasakan tidak sesakit sekarang. Belum lagi rasa malu yang harus Aruna dan keluarganya tanggung.

Back To School✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang