Chapter 12

1.5K 278 6
                                        

"Aruna, tunggu!"

Aruna mengambil jaket yang tergantung di belakang pintu lalu keluar kamar dengan tergesa. Bahkan Jiya pun tidak ia hiraukan.

"Ma, pinjem motor!"

Mama yang tengah memasak di dapur sempat terkejut mendengar teriakan anak perempuannya. Ini hari libur, mau kemana Aruna pagi-pagi begini?

"Kamu mau kemana?" balas Mama dari dapur.

"Ada perlu, Ma. Cuma bentar, kok," kata Aruna cepat sebelum Mama menginterogasi dirinya.

Gadis yang masih memakai piyama tidur dan hanya dilapisi jaket itu mengambil kunci motor yang ada di laci ruang tengah. Kemudian mengenakan sandal dengan sembarang. Dia bahkan belum cuci muka atau menggosok gigi. Kelamaan, dia takut jika terjadi sesuatu kepada Jevin.

Sialnya saat sampai di garasi, Aruna lupa memakai helm sehingga dia kembali ke dalam untuk mengambilnya. Kebiasaan kalau buru-buru!

Tak lama kemudian Mama keluar dapur setelah mendengar suara gerasak-gerusuk Aruna. Wanita yang memakai celemek bunga-bunga itu ingin memastikan kemana Aruna pergi. Namun, saat Mama sampai di teras, anaknya sudah menjalankan sepeda motor miliknya.

"RUNA!"

"MA, TOLONG TUTUP PAGERNYA, YA," teriak Aruna lalu gadis itu kembali melajukan sepeda motor mamanya. Kurang ajar.

"AWAS KAMU NANTI!" peringat Mama yang jelas tidak didengar Aruna karena gadis itu telah hilang dari balik pagar rumah mereka.

Aruna menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi menuju tempat yang Hesti bilang. Gadis bermata bulat itu yakin dia akan mendapat hukuman saat pulang nanti, tapi dia tidak mungkin membiarkan Jevin dipukuli oleh Leo. Biar itu menjadi urusan nanti.

Aruna menghentikan sepeda motornya di belakang pasar yang tadi diceritakan Hesti lewat telepon. Di sana tidak ada siapa-siapa. Apa mungkin Hesti mengerjainya? Aruna memukul pelan kepalanya yang dibalut helm, menghilangkan pikiran buruk sangkanya.

Aruna mengambil BB-nya yang ada di saku jaket yang ia pakai. Mencari nomor Hesti dan memanggilnya.

"Lo dimana, Hes?" tanya Aruna begitu Hesti mengucapkan kata halo.

"Aku ada di puskesmas dekat pasar, Na." Ada jeda dalam ucapan Hesti. "Puskesmas sumber sehat," lanjutnya setelah melihat papan yang tertera.

"Oke, gue ke sana. Lo jangan kemana-mana."

Setelah itu Aruna menutup teleponnya dan segera mencari puskesmas yang dimaksud Hesti. Aruna beberapa kali bertanya pada orang yang ada di jalan karena tak tau letak pasti puskesmas itu. Butuh waktu lima menit untuk dia bisa sampai ke puskesmas kecil itu. Aruna memarkirkan sepeda motornya lalu bergegas masuk. Dia hendak bertanya tentang Jevin pada perawat yang ada di meja receptionist, namun belum juga ia menghampiri perawat itu dia melihat Jevin dan Hesti keluar dari ruang perawatan.

"Jev," panggil Aruna.

Jevin terkejut melihat kedatangan Aruna. Apalagi penampilan gadis itu yang seperti baru bangun tidur. Tidak seperti penampilan Aruna yang biasanya dengan rambut terutai, kali ini dia mengikatnya sembarang.

"Aruna?"

"Lo nggak apa-apa?" tanya Aruna, dia mencoba memegang kening Jevin yang terdapat balutan kain kasa. Sudut bibir Jevin juga terdapat luka. Wajahnya bagian kanannya lebam serta kaos lengan panjangnya robek dan memperlihatkan luka di siku.

"Leo sama genk-nya yang ngelakuin ini sama lo?" cerca Aruna lagi sebelum Jevin menjawab pertanyaan sebelumnya.

"Iya, Na. Aku tadi lewat belakang sana waktu disuruh ibuku beli ikan. Tapi nggak sengaja lihat motor Leo ngikutin Jevin dan gelagatnya koyok aneh. Dia bawa tongkat kasti. Karena takut ada apa-apa akhirnya aku ikutin. Dan ternyata bener, kan," ucap Hesti menceritakan kronologi kejadiannya.

Back To School✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang