Semenjak Jevin mengantar pulang Aruna di malam reuni, hubungan mereka kini semakin membaik. Hampir setiap hari mereka saling berkirim pesan walau hanya sekedar me-reply story masing-masing. Apalagi beberapa kali mereka dipertemukan secara tidak sengaja. Seperti beberapa hari yang lalu saat mereka berdua sama-sama menemani ibu mereka belanja bulanan di supermarket yang sama. Bu Wanda yang juga mengenal Aruna akhirnya mengajak Aruna dan mamanya untuk makan siang bersama. Aruna sempat menolak secara halus, tapi mamanya justru tanpa ragu menerima ajakan ibu Jevin tersebut.
"Apa perlu kita ke tempat dokter Brian, Jev?"
Teguran sang mama membuat Jevin yang tengah duduk di ruang keluarga memutar bola matanya. Dokter Brian adalah salah satu klien mama yang merupakan seorang psikiater. Dengan kata lain secara tidak langsung mamanya mengatakan kalau dia tidak waras.
"Aku nggak gila, Ma," jawab Jevin sedikit kesal.
Wanita itu terbahak mendengar jawaban putranya.
"Abis ngeri liat kamu senyum-senyum sendiri. Mikirin Aruna?"
Bu wanda menaik-turunkan alisnya menggoda sang putra. Jevin hanya melirik sekilas lalu mengedikan bahu. Tanpa mamanya tanya pun sebenarnya wanita itu sudah tahu kalau alasan dibalik senyum Jevin jelas perempuan bernama Aruna.
Hesti sudah menceritakan pada wanita itu tentang kisah Jevin dengan salah satu mantan klien-nya. Awalnya mama Jevin tidak terima saat tahu apa yang telah Aruna lakukan pada anaknya dulu, tapi setelah mendengar bagaimana Aruna berusaha mendapatkan maaf dari Jevin wanita itu tidak masalah jika suatu saat Aruna menjadi menantunya.
Apalagi saat mereka secara tidak sengaja bertemu beberapa hari yang lalu, dia juga melihat kalau Aruna adalah gadis yang baik terlepas dari image masa sekolahnya.
"Kamu itu kelamaan action-nya. Nanti dia diambil orang baru tahu rasa."
"Mama tahu kan belum lama ini dia gagal menikah. Masa iya langsung aku jedor?"
"Nah justru itu, Jev! Dia itu dalam masa-masa membutuhkan seseorang. Ini kesempatan kamu buat masuk dan jadi seseorang yang dia butuhkan itu."
Jevin terdiam mendengarkan ucapan mamanya. Apa ini waktunya? Tapi bagaimana jika ia kembali ditolak seperti enam tahun lalu? Ketakutan itu kembali menghampiri Jevin.
"Kalau dia nolak aku lagi gimana?"
"Mama yakin kali ini dia nggak akan nolak kamu. Apa yang kurang sih dari anak Mama ini. Udah ganteng, masih muda dan punya usaha dengan puluhan cabang. Kalau ada cewek yang nolak kamu sih gobloknya kebagetan."
"Kalau dia nerima aku karena apa yang aku punya sekarang gimana?" Jevin meminta pendapat mamanya lagi.
"Dari yang Mama lihat, dia bukan gadis yang kayak gitu. Pas nikahan dia yang batal itu dia juga bayar setengah dari yang calonnya bayar. Artinya dia emang nggak terlalu masalah sama yang namanya uang, kan?"
Jevin mengangguk. Sejauh yang dia tahu Aruna itu memang sombong, tapi bukan uang yang melandasi sikap buruknya itu. Leo juga bukan cowok paling kaya saat mereka sekolah. Bisa saja Aruna memilih anak salah satu anggota dewan yang menyukainya, tapi dia memang tidak memandang seseorang dari hartanya.
***
"Na, anak Bu Wanda itu ganteng ya?"
Suara mama memecah keheningan di meja makan keluarga Aruna. Gadis yang tengah mengunyah makanannya mengangguk menyetujui ucapan wanita yang duduk di depannya. Ia akui Jevin memang ganteng... bukan hanya ganteng, tapi ganteng bangetttt. Berbeda sekali dengan Jevin yang ia temui pertama kali sembilan tahun lalu. Jevin dengan ekspresi datar yang suka menatap ke luar jendela kelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Back To School✔
Teen FictionGlendia Aruna. Gadis berusia 24 tahun itu percaya kesialan gagal menikah yang ia alami adalah karma buruk atas perbuatannya pada seorang lelaki bertahun-tahun silam. Saat dia diberi kesempatan untuk meminta maaf pada lelaki tersebut, ternyata ada ha...
