"Salah satu keinginan kamu sudah terwujud, kenapa kamu terlihat murung?"
Aruna yang tengah mengetuk-ngetukan pulpen ke meja berhenti melakukan itu dan menoleh ke arah Jiya saat peri bergaun putih itu menegurnya. Harusnya Aruna mengerjakan soal Bahasa Inggris yang ada di depannya, tapi dia malah melamum sambil menatap poster TOP yang tertempel di dinding. Sebenarnya gadis itu juga malas mengerjakan PR untuk besok, tapi kemarin dia tidak melakukan teleportasi waktu dan bisa saja dia juga akan terbangun normal besok. Mau tak mau dia pun mengerjakannya untuk berjaga-jaga.
"Masih kepikiran dengan Jevin?" tanya Jiya lagi saat Aruna tak menjawab pertanyaan pertamannya.
Aruna menyipitkan matanya lalu berkata, "Jevin?"
Dia tertawa setelahnya. Walaupun begitu Jiya tahu jika tawa Aruna terlihat dibuat-buat. Jiya yang sedari tadi ada di tempat tidur kini berjalan mendekati Aruna ke meja belajarnya. Peri bergaun putih itu mengintip buku Aruna yang masih bersih lalu geleng-geleng kepala.
"Susah memang orang yang sedang jatuh cinta," guman Jiya lirih, bahkan Aruna tak mendengarnya. Entah karena suara Jiya yang terlalu lirih atau Aruna yang masih sibuk dengan pemikirannya.
"Kalau itu mengusik pikirannmu, kenapa tidak kamu hubungi saja dia?"
"Apaan, sih, lo!" respon Aruna sok cuek. Dia kemudian membuka lembar baru di buku tulisnya dan menulis sesuatu di sana. Jiya menghela napasnya pelan, Aruna bahkan belum menulis sesuatu di lembar sebelumnya, tapi gadis itu malah membuka lembaran baru. Terlihat sekali jika dia benar-benar sedang tidak fokus.
Melihat Aruna tak mau mendengarkan nasihatnya, Jiya kembali ke tempat tidur. Dia mengambil Blackberry milik Aruna yang ada di atas bantal dan membukanya. Ada puluhan chat dari Jevin yang tidak dia balas. Tidak hanya chat, Jevin juga berusaha menelponnya, tapi Aruna mengacuhkan telepon Jevin.
Tadi siang Jevin bahkan datang ke rumah, terlihat sekali jika lelaki itu khawatir dengan kondisi Aruna. Apalagi gadis bermata bulat itu tidak membalas chat dan telepon darinya. Namun Aruna memilih pura-pura tidak mendengar saat bel rumahnya berbunyi. Orang tau dan adik Aruna juga sedang pergi ke rumah neneknya sehingga Jevin mengira kalau tidak ada orang di rumah itu.
Pagi harinya Aruna terbangun saat alarm di jam tangannya berbunyi dengan keras. Gadis itu mengubah posisinya menjadi duduk dan mematikan suara berisik yang menganggunya. Dia menguap saat merasa masih sangat mengantuk. Aruna merasa baru tidur beberapa jam dan sekarang sudah pagi. Gadis itu mengucek kedua matanya dan seperti biasa mengecek ada di waktu kapan dia sekarang.
8 Oktober 2013
Satu bulan dari saat dia tidur kemarin. Aruna menoleh ke sampingnya saat merasakan pergerakan Jiya. Peri bergaun putih itu baru bangun dan langsung merentangkan kedua tangannya sehingga mengenai wajah Aruna. Aruna kadang heran bagaimana Jiya bisa tidak terbangun saat alarmnya berbunyi. Padahal suara alarm di jam yang dipakainya jauh lebih keras di atas alarm biasa.
"Ish!!!" dumel Aruna sambil menyingkirkan tangan peri pendampingnya itu. Jiya terkekeh saat melihat wajah sebal Aruna.
"Maaf, Aruna," ucap Jiya. Kemudian dia memegang tangan Aruna dan melihat jam tangannya. "Satu bulan dari kemarin. Lumayan."
Jiya tentu ikut senang saat Aruna bisa berteleportasi waktu. Namun pagi ini justru seperti Aruna yang tidak senang. Padahal biasanya dia akan berjingkrak-jingkrak saat mendapati waktu melompat dari hari kemarin. Pagi ini ekspresi wajah Aruna seperti tidak bersemangat. Jiya sudah bisa menebak pasti ini ada sangkut pautnya dengan Jevin.
"Hari ini mungkin akan berat untuk kamu, Aruna," batin Aruna menatap gadis yang ada di sampingnya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Back To School✔
Novela JuvenilGlendia Aruna. Gadis berusia 24 tahun itu percaya kesialan gagal menikah yang ia alami adalah karma buruk atas perbuatannya pada seorang lelaki bertahun-tahun silam. Saat dia diberi kesempatan untuk meminta maaf pada lelaki tersebut, ternyata ada ha...
