Aruna menedang kerikil kecil yang ada di depannya dengan kesal. Gadis itu kira dia akan bangun di tahun 2014 atau paling tidak beberapa bulan setelah dia memperbaiki kesalahannya kemarin. Tapi dia justru terdampar di hari tes seleksi untuk lomba akuntansi. Dan dulu tes seleksi itu bahkan tidak pernah ada. Karena Gita mengundurkan diri, akhirnya Aruna menjadi calon peserta tunggal.
Sekarang dia harus mengikuti tes seleksi ini karena dia memperbaiki kesalahannya pada Gita. Dia bahkan tidak sempat belajar, entah apa yang akan terjadi di ruang seleksi nanti. Kalau pun Gita yang akan terpilih kali ini Aruna tidak masalah. Dia sudah tidak mementingkan lomba itu lagi. Toh dia sudah merasakan mengikuti lomba Akuntansi di dunianya yang sebenarnya.
Gadis itu menghela napas saat memasuki gerbang sekolah yang sepi karena masih dalam libur akhir semester. Dua minggu lagi baru murid-murid akan berangkat. Walaupun ada beberapa anak SMP dan orang tuanya yang hendak mendaftar karena PPDB telah dibuka, tapi tidak terlalu mempengaruhi suasana sekolahnya yang luas.
Aruna memasuki laboratorium bahasa, tempat dia dan Gita akan melakukan tes seleksi. Saat Aruna membuka pintu, sudah ada Gita disana. Gadis yang memakai jaket berwarna pink itu duduk di meja paling depan. Aruna pun duduk di meja sebelah Gita.
"Gasik banget, Git?" tanya Aruna basa-basi. Dia tidak ingin suasana antara mereka menjadi awkward, apalagi setelah kejadian kemarin.
Gita tersenyum sebelum menjawab, "Bokap gue excited banget anaknya kepilih buat ikut seleksi lomba ini, sampai-sampai gue dianterin pagi-pagi gini."
Gita terkekeh setelahnya.
Aruna hanya bisa tersenyum kecut. Dia masih tidak habis pikir, kenapa dia dulu bisa merebut kebahagiaan orang lain. Andai dia dulu tidak melakukan hal buruk itu pada Gita, pasti dia akan melihat senyum di wajah Gita ini delapan tahun lalu.
"Gue deg-degan banget, Na. Takut nggak bisa ngerjain," ucap Gita setelahnya.
"Lo kan rangking satu."
Bukan bermaksud menyindir atau apa, tapi hanya itu respon yang bisa Aruna berikan.
"Gue rasa kemarin itu Dewi Fortuna lagi berpihak sama gue." Ada jeda dalam ucapan Gita. "Semua anak di kelas, bahkan guru-guru pun tau, Na, kalau lo murid paling pinter," lanjutnya.
Aruna menatap Gita tanpa berkedip. Dia semakin merasa bersalah, ternyata Gita bahkan menganggap Aruna lebih dari dirinya. Tapi apa yang justru dia lakukan? Rasa takut Aruna akan dikalahkan oleh Gita dulu tidak berdasar.
"Gue bakal nemuin lo di masa depan, Git. Gue harus minta maaf sama lo!" batin Aruna, berjanji pada dirinya sendiri.
Tidak lama kemudian, tiga guru Akuntansi datang. Ada Bu Nuni guru akuntansi dagang dan jasa, Bu Arum guru Akuntansi Pajak dan Pak Yusuf guru komputer Akuntansi.
Pertama Aruna dan Gita diberikan soal dasar-dasar Akuntansi. Soal pilihan ganda yang tidak terlalu sulit. Walaupun Aruna sudah tiga tahun tidak belajar Akuntansi, dia masih ingat dan dapat mengerjakan. Sebenarnya dia sendiri tidak terlalu yakin dengan jawabannya, tapi toh ini tidak akan berpengaruh saat dia kembali ke masa depan nanti. Seperti yang Aruna katakan, dia sudah tidak memikirkan lomba itu. Lomba itu bukan tujuannya datang ke masa lalu. Tujuannya adalah memperbaiki kesalahan dan meminta maaf pada lelaki yang dia siram di malam perpisahan.
Yang kedua mereka diberikan soal praktek perusahaan jasa. Ini yang paling mudah untuk Aruna. Bisa dibilang Aruna mengerjakan soal ke-dua secara effortless. Dan yang ketiga adalah soal excel dan komputer Akuntansi. Untuk excel dia dapat mengerjakan dengan mudah karena dia juga terbiasa menggunakan excel di kantor. Rumus-rumus seperti Vlook up, Hlook up dan sejenisnya sudah menjadi makanannya sehari-hari di kantor. Sedangkan komputer akuntansi, walaupun sedikit lupa dia bisa menyelesaikan soal-soalnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Back To School✔
Ficção AdolescenteGlendia Aruna. Gadis berusia 24 tahun itu percaya kesialan gagal menikah yang ia alami adalah karma buruk atas perbuatannya pada seorang lelaki bertahun-tahun silam. Saat dia diberi kesempatan untuk meminta maaf pada lelaki tersebut, ternyata ada ha...
