Chapter 11

1.7K 297 19
                                        

"Aruna?"

Jevin terkejut saat Aruna tiba-tiba datang menghampirinya. Dia yang sedang memegang botol air mineral bahkan hampir menjatuhkannya. Entah karena botol yang baru diambil dari lemari pendingin itu yang licin atau Jevin terlalu nerveous berhadapan dengan gadis di depannya. Beruntung dia sigap hingga tidak benar-benar menjatuhkan minumannya.

"Temenin gue ke perpus yuk, Jev," pinta Aruna.

"Sekarang?"

Aruna mengangguk. "Lo mau, kan?"

"T-tapi..."

"Kenapa? Lo nggak mau? Ya udah, deh, gue pergi sen..." Aruna hendak berbalik tapi Jevin menahan.

"Eh, tunggu... Gue mau bayar ini dulu," potong Jevin cepat.

Senyum Aruna merekah saat Jevin mengatakan itu.

"Oke, gue tunggu di depan."

Setelah itu Aruna berjalan keluar kantin meninggalkan yang Jevin mematung sambil melihat punggung Aruna menjauh.

"Heh, lo mau beli lagi nggak?"

Teguran seseorang menyadarkan Jevin dari kebekuan. Dia baru sadar kalau dari tadi menghalangi anak lain yang ingin membeli minuman. Sepertinya Aruna memiliki kekuatan magis yang bisa membuat Jevin kehilangan kesadaran.

Jevin segera menuju kasir, tak mau membuat Aruna menunggu lama. Rasanya seperti mimpi saat Aruna mengajaknya pergi ke perpustakaan bersama. Meskipun sudah beberapa kali mereka dekat, tapi kali ini sedikit berbeda kedekatan mereka diciptakan oleh gadis bermata bulat itu.

Aruna membaca satu per satu judul novel yang ada di rak khusus buku fiksi. Dibelakangnya ada Jevin yang setia membuntuti. Jevin tidak tertarik dengan deretan buku yang berjajar rapi, baginya gadis di depannya seperti medan magnet dengan kekuatan besar sehingga menarik perhatian Jevin dan dia tidak bisa berpaling.

Disisi lain mata bulat Aruna menyipit saat mendapati judul novel yang begitu menarik perhatiannya.

Dia mengambil novel dengan sampul berwarna hijau muda dan bergambar sosok perempuan dan laki-laki itu. Aruna membalik novel tersebut untuk membaca blurb ceritanya.

"Anjir kaya gue!" ucap Aruna tanpa sadar saat kisah yang ada di novel itu mirip dengan kisahnya, mereka terdampar di masa lalu. Bedanya tokoh utama novel tersebut terdampar karena ingin menghilang dari dunia ini, sedangkan Aruna gara-gara membuat permintaan konyol di sendang pengabul permintaan.

"Kenapa, Na?" tanya Jevin saat Aruna begitu serius membaca tulisan yang terdapat di belakang sampul novel.

"Ah... ini nama tokohnya kaya gue," bohong Aruna sambil nyengir. "Kayaknya udah mau masuk, balik ke kelas, yuk! Gue juga udah dapat buku yang mau gue pinjem," lanjutnya menunjukan buku yang dia pegang.

Jevin menurut, dia kembali mengekori Aruna saat gadis itu mengurus proses peminjaman di meja administrasi perpus.

"Na, lo dari mana aja? Kita BBM nggak di read, ditelpon nggak diangkat! Leo tadi marah besar pas liat lo nyamperin cowok aneh itu tau."

Baru saja Aruna duduk, Feli sudah memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.

"Gue dari perpus," jawab Aruna singkat.

"Tadi Leo..."

"Bisa nggak jangan bahas dia?"

"Lo kenapa, sih? Makin hari kelakuan lo makin aneh tau nggak!"

"Diem, Fel! Lo nggak tau apa-apa!" bentak Aruna membuat Gisel dan Vanya yang duduk di depan mereka sampai menoleh.

"Na..." ucap Feli tak percaya Aruna baru saja membentaknya.

Back To School✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang