"Bagaimana Evy? Rencana Kakak bagus 'kan?"
Aku hanya bisa memasang wajah tercengang saat mendengar rencana yang Ezel maksud. Jadi ... Ezel yang masih kesal karena Ethan dekat denganku membuat rencana kalau dia akan mencarikan Ethan pasangan agar Ethan tidak dekat-dekat lagi denganku. Dia bahkan menulis pengumuman pada sebuah kertas yang niatnya akan ia pasang ke seluruh teritorial *Duchy Cameron. (*Penyebutan untuk wilayah kekuasaan seorang Duke).
Begini yang tertulis pada kertasnya;
Dicari! Seseorang yang mau menjadi pasangan Duke Cameron.
Syarat:
-Yang pasti perempuan.
-Penyayang duda.
-Terserah mau gadis atau janda.
-Status akan dibicarakan saat seleksi pemilihan.
Rasanya aku ingin menangis darah saat membaca itu. Begini ... padahal sudah jelas kutahu keluarga ini terhormat. Tapi ini terhormat dari mana? Masa Ethan harus segala pakai pengumuman untuk mencari pasangan? Ini terkesan seperti dia itu ... duda kesepian. Sudah kuduga. Ethan selalu hilang harga diri di mata anak-anaknya ini.
"Kak Ejel tolong jagan aneh-aneh." Aku memperingati dan Ezel yang menatapku langsung melunturkan senyumnya.
Aku menghela napas dan memilih berpindah tempat duduk di sebelahnya.
"Kaka Ejel tau aku cuka olang baik 'kan? Dan Kakak adalah olang baik. Iya 'kan? Olang baik tidak akan membuat ayahnya dalam keculitan nanti." Ya, walau terkadang aku sering membuat Ethan dalam kesulitan, sih.
"Hem ... baiklah kalau Evy yang bilang begitu." Ezel menurut tapi jelas sekali raut wajahnya masih masam.
Aku mengangkat tangan kanan dan mengelus kepala Ezel dengan susah payah karena perbedaan tinggi kami. Ezel yang mengerti membungkukkan sedikit badannya.
"Kakakku memang kelen!" pujiku dengan tangan menepuk-nepuk pelan kepalanya. Ezel langsung memasang wajah ceria saat aku mengatakan itu.
Huft ... rasanya aku seperti seorang ibu ysng sedang mengasuh seorang bayi.
"Kalau begitu, Evy harus sering dengan Kakak, ya?"
Aku mengangguk agar suasananya menjadi lebih baik. Lalu saat kami ingin keluar dari kamarku, dari arah pintu aku bisa melihat Ethan yang berdiri.
"Kau tidak pernah melakukan itu padaku." Dia bergumam dengan suara suram.
Aku mengerutkan kening dan bertanya dengan bingung.
"Melakukan apa?"
"Kau tidak pernah memujiku."
Heh. Tolong ingat, untuk apa aku memuji seseorang yang sering mengataiku jelek dan segala macam.
Hah, sudahlah. Aku malas meladeninya sekarang. Sudah cukup aku mengasuh Ezel yang rewel hari ini. Harap jangan ditambah tambah. Aku ini juga bisa stres di usia muda, tahu!
"Ngomong-ngomong, ada urusan apa Ayah ke sini?" Ezel yang bertanya membuat ekspresi dingin di wajahnya.
Padahal baru kemarin kurasa mereka akan dekat saat menghabisi Count Sharlo. Tapi selepas itu mereka kembali saling mendiami seperti suami-istri yang sedang dilanda masalah.
Ah, jika berbicara tentang Count Sharlo aku jadi teringat dengan pertambangan. Niatnya aku ingin mencari tahu tentang kristal mana palsu itu.
Entah kenapa, aku memang masih belum bisa melupakan masa lalu. Seperti ada sesuatu yang mengganjal.
"Aku ingin pamit dulu pada Evy sebelum pergi." Aku bisa mendengar Ethan yang menjawab pertanyaan Ezel tadi dengan tenang.
"Memang mau ke mana?" tanyaku tapi tidak terlalu penasaran.
"Istana."
"Oh ...."
"Harusnya kalau mau pergi, ya pergi saja. Tidak usah pakai acara pamit." Astaga Ezel. Sebegitu sensinya dia melihat Ethan.
Ethan yang mengabaikan perkataan Ezel berjalan mendekatiku. Dia sedikit membungkuk dan mengelus kepalaku.
"Ekhm, Ayah pergi dulu, ya ...."
Ada apa dengannya? Setelah mengelus kepalaku, kurasa dia ingin melakukan itu juga pada Ezel namun kakakku itu sudah lebih dulu menahannya.
"Jangan aneh-aneh Ayah."
Ethan menarik tangannya dan mengurungkan niat.
"Baiklah, aku akan pergi dulu." Lalu Ethan berbalik untuk pergi.
Aku melambaikan tangan dan tersenyum padanya.
"Ya, hati-hati di jalan."
Ethan yang tadinya berwajah suram jadi tersenyum cerah.
Kok aneh, ya? Tadi aku merasa seperti seorang ibu yang mengasuh Ezel. Sekarang aku merasa seperti seorang istri yang melepas suaminya untuk pergi bekerja.
Pikiranku kacau sialan!
[]
KAMU SEDANG MEMBACA
Cameron's House
FantasyKeluarga Cameron merupakan keluarga bangsawan terpandang. Reputasi baik mereka pun tak pernah padam. Beruntung atau sial, Evy bisa-bisanya berakhir di dalam rumah itu dengan takdir konyol. Dia juga menemukan suatu fakta. Tidak seperti pandangan kha...
