"Hari ini Nona terlihat gembira sekali."
"Tentu!" Aku menjawab Lili dengan semangat. Hem ... tentu saja! Aku gembira karena sudah berbaikan dengan Ezel dan itu artinya aku bisa bermain lagi dengannya. Haruskah aku mengatakan selamat tinggal pada Logan? HOHO.
Berbicara soal si Putra Mahkota itu, sekarang dia sedang dalam masa perawatan kakinya yang terkilir. Yah, aku turut sedih sih dan juga ... um ... hari ini Ezel dengan sangat-sangat terpaksa harus datang ke Istana untuk meminta maaf. Itu dilakukan secara tidak resmi karena Kaisar hanya mengganggap perkelahian Ezel dan Logan hanya perkelahian anak-anak saja.
Pagi-pagi sekali, Ezel datang ke kamarku dengan wajah masam. Dia mengadu bahwa Ethan memaksanya untuk ke Istana. Berkat itu aku tahu bahwa sebenarnya Ethan mengancam Ezel. Yah, jadi karena Ezel pergi, untuk saat ini aku masih belum bisa bermain dengannya. Tapi aku tetap gembira karena merasa pikiran suntukku sudah hilang sekarang.
"Memang hal apa yang membuatmu senang?"
Yah ... kecuali untuk yang satu ini. Aku tidak akan pernah lepas dari yang namanya stres kalau sudah berada dekat dengan orang ini. Siapa lagi kalau bukan ayahku yang tampan dan bodoh? Aku tidak percaya dulu pernah mencintainya sampai rasanya mau mampus. Untung aku dalam suasana hati yang baik. Jadi aku tidak mengusirnya saat tiba-tiba dia ikut minum teh bersamaku di taman. Entah apa yang merasukinya hari ini. Padahal biasanya wajahnya jarang sekali dilihat oleh mataku. Jadi, mari abaikan saja dia, oke?
"Kau tidak menjawabku?"
Diam. Abaikan dan nikmati saja suasana damai ini.
"Ck. Terkadang sikap menyebalkanmu itu mengingatkanku dengan seseorang."
"Eh?" Aku menatapnya dengan heran. Bertanya-tanya, kali ini omong kosong apalagi yang akan ia katakan? Tidak puas mengataiku anjing, sekarang dia bilang aku menyebalkan? Ah, dari dulu dia memang seperti itu. Tidak sadar bahwa terkadang dia juga menyebalkan.
"Itu pati cipat tulunan dali Anda." (Itu pasti sifat turunan dari Anda). Jadi, untuk tahap ini, aku akan membuatnya kesal saja. Haha, rasakan cacian tingkat tinggi itu.
Oh, bisa kulihat sekarang dia sedang mengerutkan kening padaku. Dia sebal? Baguslah! Terkadang aku terhibur dengan reaksi kesalnya.
"Hah, padahal aku mencoba untuk dekat dengan putriku." Ethan menghela nafas suram.
Pu-putriku?! Apa yang dikatakannya. Oh, pendengaranku masih normal. Tidak mungkin aku salah dengarkan? Dia yang dari aku lahir saja tidak peduli, sekarang sok mau dekat? Ih, menggelikan.
Mengapa sih sifatnya selalu random begini?
Dulu juga begitu. Jika diingat lagi, saat aku bertunangan dengannya, kupikir dia orang yang tidak suka dekat dengan orang lain. Kupikir itu wajar karena kami sebenarnya bertunangan untuk kepentingan politik. Tapi yang mengejutkanku adalah ternyata dia mencoba untuk dekat denganku. Hingga kami sering saling berkomunikasi dan—ekhm, jatuh cinta.
Sebenarnya memang dia bukan tipe pria yang dingin. Dia hanya bisa berinteraksi jika bersama orang yang cocok. Mungkin karena dulu kami cocok satu sama lain, ya ... jadi bisa dekat. Yang mengejutkan adalah saat dia mengkhianatiku. Hubungan kami putus karena keluargaku mendadak runtuh. Di saat itu, orang yang kupikir teman juga menjauhiku. Memang, manusia itu sulit dipercaya.
Lalu sebulan setelah pertunangan kami dibatalkan, aku mendengar kabar dia menikah. Aku tidak mau bohong. Jujur, saat itu aku sakit hati kawan-kawan.
Sejak itu pula, reputasiku di perkumpulan sosial langsung anjlok hanya karena keluargaku hancur dan mantan tunanganku menikah tak lama setelah pembatalan kami dilakukan. Sudah pernah kubilang 'kan? Diakhir hidupku, aku jadi selalu sendiri karena dijauhi. Para penjilat itu memang mengesalkan setengah mati.
Sewaktu keluargaku kaya saja mereka mendekati. Sialan!
"... ei! Hei!"
Eh? Aku yang sedari tadi fokus melamun dengan bertumpu dagu, langsung melirik ke sisi kiri. Melihat Ethan yang menatapku dengan kening berkerut.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Aku memanggilmu dari tadi."
"Ha? Ada apa?"
"Sudah mulai sore. Udaranya jadi agak sejuk. Lebih baik kau masuk."
Oh, benar juga. Aku tidak menyadarinya karena terlalu banyak berpikir. Tapi sikapnya yang perhatian membuatku sedikit terkejut. Kupikir dia tidak peduli pada anak perempuannya.
Aku segera turun dari kursi dengan bantuan Lili. Sebelum pergi, aku berbalik pada Ethan. Yah, karena dia sudah sedikit perhatian, aku akan mengucapkan sampai jumpa dengan baik.
"Aku pelgi dulu. Da-da," ucapku dengan tangan melambai liar.
Ethan hanya mengangguk dan tersenyum singkat.
Wah, sialan pesona mantan!
[]
KAMU SEDANG MEMBACA
Cameron's House
FantasyKeluarga Cameron merupakan keluarga bangsawan terpandang. Reputasi baik mereka pun tak pernah padam. Beruntung atau sial, Evy bisa-bisanya berakhir di dalam rumah itu dengan takdir konyol. Dia juga menemukan suatu fakta. Tidak seperti pandangan kha...
