Ethan keluar dari barak dan memperhatikan setiap prajurit yang bersiap-siap untuk pulang. Akhirnya, permasalahan perbatasan wilayah dengan Perzius telah selesai. Tentunya itu selesai dengan cara yang tidak damai. Hem, itu berakhir dengan komandan dari pasukan lawan kehilangan satu tangan.
Tapi, yang terbaik dari itu ... akhirnya Ethan bisa kembali ke kediaman Cameron setelah mengirimkan kabar lewat surat pada putranya.
Dia merindukan Evy. Dengan Ezel, tentu saja.
Sebenarnya, ini agak aneh. Pada awalnya, ia tidak pernah dekat dengan Ezel. Dia juga menganggap anak laki-lakinya itu hanya sebatas penerus keluarga saja. Sepeninggalan istrinya, semuanya jadi lebih buruk. Ethan berpikir, mungkin memang lebih bagus kalau dia tidak peduli lagi pada siapa pun.
Dengan begitu, ia tidak akan merasakan perasaan sedih yang memuakkan saat seseorang yang sejatinya memang tidak ia pedulikan pergi.
Iya, pada awalnya begitu. Tetapi semuanya berubah karena tembok yang ia bangun diruntuhkan oleh perasaan penasarannya dan juga Evy, anak perempuannya.
Jika dipikir-pikir, sifat Evy yang lebih membuatnya penasaran dan mendekati. Itu mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang sudah sangat lama tidak ia lihat wajahnya. Seseorang yang tingkat kepercayaan dirinya di atas rata-rata. Seseorang yang ia jadikan cinta pertama. Seseorang itu ... kalau tidak salah mantannya dulu ....
Ethan menggelengkan kepala. Berusaha mengenyahkan pemikiran aneh yang bergentayangan di otaknya. Lebih baik dia memikirkan sesuatu yang pasti saat ini.
Aku merindukan anak-anakku.
***
"Kalau Kakak sih, Kakak tidak rindu dengan Ayah. Kakak hanya senang karena akhirnya tidak lagi menggantikan pekerjaanya."
Ah, jadi begitu ya .... Aku mengangguk mengerti setelah mendengar Ezel yang menjawab pertanyaanku dengan santai. Seperti biasanya. Dia tidak peduli pada Ethan. Sejujurnya, aku juga tidak terlalu merindukan Ethan, sih ....
"Tapi Kak Logan. Kenapa Kakak datang ke sini?" Kali ini aku bertanya pada Logan yang berdiri di sebelah kiriku. Dia menolak berdiri di dekat Ezel dan juga memilih ikut menunggu di depan mansion Cameron bersama kami. Kami berdiri di sini karena ingin menyambut Ethan yang katanya akan pulang. Kami anak-anaknya, itu hal yang wajar. Tetapi dia? Hei, dia siapanya Ethan? Itu yang aku pertanyakan.
"Menantu." Logan membuka suara. Hah? Apa, nih? Dia bisa membaca pikiranku.
"Sebagai calon menantu. Aku ingin ikut menyambut calon Ayah mertua." Logan berbicara dengan bangga. Duh, kupikir dia membaca pikiranku. Lebih dari itu, aku selalu kesal setiap kali dia bilang dia calon menantu di kediaman ini.
"Memangnya siapa yang ingin Kak Logan nikahi di sini? Kak Ezel?"
"Tidak!!"
Ah, rasanya telingaku ingin pecah saat Ezel dan Logan menjawab bersamaan dengan aura ganas.
"Evy, jangan bicara aneh-aneh begitu."
"Iya, Evy. Masa kau berpikir aku akan menikahi si sombong ini, sih?"
"Tutup mulutmu, sialan! Jauh-jauh dari adikku. Sudah kubilang dia fobia serangga."
"Heh! Kenapa kau sensitif sekali padaku, sementara tidak pada anak yang lengket dengan Evy itu?!" Logan berteriak dan menunjuk seseorang yang dari tadi diam berada di belakangku. Sedangkan Ezel tak mau lagi menjawab.
Iya, tidak hanya ada kami bertiga. Tetapi di sini juga ada Aster. Dan anak yang Logan tunjuk itu adalah Aster yang masih setia bersembunyi di belakangku. Kurasa dia tidak terlalu suka keramaian walaupun biasa tinggal di jalanan. Ah, dia yang seperti ini sangat imut! Aster tidak menolak saat kuajak ikut menyambut Ethan, tetapi tetap saja dia terlihat tidak nyaman. Makanya dia selalu berada di dekatku.
"Aster, tolong maklumi orang-orang tidak waras ini." Aku berbalik pada Aster, tersenyum dan mengelus kepalanya. Dia tidak lagi menolak sentuhanku.
"Evy, kenapa kau bicara begitu?!" Logan bertanya dengan histeris. "Aku ini seorang Putra Mahkota, loh. Masa kau mengatakan sesuatu yang buruk tentangku?"
"Pembohong!" Aku mengatakan itu pada Logan dan ia langsung tersentak. "Kak Logan bilang selalu setuju dengan pendapatku. Sekarang kenapa begitu?"
"Hish ... Evy jahat! Pendapatmu itu meruntuhkan harga diriku."
Duh, yang dikatakannya ada benarnya juga. Karena sudah begini, aku minta maaf saja pada Logan.
"Maaf ya, Kak Logan." Aku mengatakannya dengan sedikit skeptis. Tetapi Logan persetan dengan itu dan memasang wajah ceria.
"Aku memaafkanmu, Evy." Begitu katanya.
Baiklah, sekarang Logan sudah diamankan. Hanya tinggal Ezel yang terus-menerus memasang wajah suram. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Jadi, aku memilih diam saja.
Barulah saat itu, dari arah depan, aku bisa melihat Ethan datang dengan kuda yang ditungganginya. Wah, dia masih punya karisma ternyata. Dia kemudian turun dan berjalan mendekat. Sesuai dengan dirinya yang dramatis, kurasa dia ingin menggendong dan memelukku, tetapi pergerakannya terhenti dan tepat saat itu ia membuka mulut.
"Makhluk apa yang ada di belakangmu itu?" Ethan bertanya dengan dingin.
Tetapi aku tersenyum dan segera memperkenalkan Aster padanya.
"Dia Aster. Calon menantu Ayah yang sesungguhnya." Serius, aku mengatakan itu hanya dengan maksud bercanda.
Namun, aku merasa merinding saat menyadari Ethan, Ezel dan Logan menatapku dan Aster yang tercengang dengan ekspresi dingin.
Saat itu aku tidak sadar. Bahwa aku baru saja menghantar Aster ke pintu neraka jahanam.
[]
Selamat malam Minggu dengan tumpukan tugas yang menunggu. (ʘᴗʘ✿)
#PrayforAster.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cameron's House
FantasyKeluarga Cameron merupakan keluarga bangsawan terpandang. Reputasi baik mereka pun tak pernah padam. Beruntung atau sial, Evy bisa-bisanya berakhir di dalam rumah itu dengan takdir konyol. Dia juga menemukan suatu fakta. Tidak seperti pandangan kha...
