Aku duduk dengan anteng di saat Ethan yang sedang sibuk bekerja. Wah, dia hebat juga. Padahal dia sedang terluka tapi masih sanggup mengemban tugasnya. Itu hal yang bagus sih. Aku yakin dia jadi banyak pekerjaan begini pasal penyerangan kemarin malam. Karena selepas penyerangan itu, ia langsung mengirim surat pada Kaisar untuk perundingan non formal. Pasti sesuatu yang serius.
Hm. Menurut Lala—pelayanku yang hobi bergosip tapi kusuka, penyerangan ini dilakukan oleh Kaisar Perzius, penguasa dari kontinen bagian barat yang belakangan ini memang mengalami bentrok dengan Arcturus pasal perbatasan wilayah. Ah, semoga tidak ada perang kedepannya. Bisa terancam hidup nyamanku.
Tapi Ethan lebih kasihan sih. Karena dia menjadi tangan kanan Kaisar, penyerangan kali ini ditujukan padanya. Ngomong-ngomong, keberadaanku di sini bukan karena aku sangat peduli padanya, ya. Aku hanya—ekhm, sedikit khawatir. Ingat, sedikit. Lagi pula, para pelayan yang heboh menyuruhku datang ke sini. Mereka bilang Ethan pasti suka kalau aku bersikap manis. Aku tahu kenapa mereka berpikir begitu. Pasti karena belakangan ini Ethan selaku di dekatku, jadi mereka pikir kami dekat. Tidak heran reaksi mereka berlebihan karena itu sesuatu yang jarang dilakukan Ethan pada anak-anaknya. Dia orangtua yang buruk.
Baiklah, karena para pelayan kesayanganku yang meminta, aku akan mencoba bertanya keadaan Ethan.
"Ekhm," kataku terlebih dahulu. Karena rasanya canggung sekali. "Kondici A-ayah bagaimana? Cehat?" Sial. Aku masih belum bisa mengucapkan kata 'Ayah' secara langsung di depannya. Ah, rasanya benar-benar kikuk mengatakan itu. Mungkin karena dulu kami punya hubungan.
"Hm, sehat." Ethan membalasnya dengan singkat. Cih, sok tak peduli padahal sebelum menjawab aku bisa melihat pupil matanya membesar karena kaget. Lalu ada sedikit rona merah pada daun telinganya. Aku ini memang orang yang peka. Dia pasti merasa terharu karena dikhawatirkan oleh putrinya yang imut ini.
Menanyakan kabar sudah. Lalu kata Lulu apalagi, ya? Hm, dia bilang biasannya anak perempuan bersikap perhatian. Masalahnya, perhatian macam apa yang biasanya dilakukan bocah empat tahun? Ah, persetan.
"A-ayah, mau kue?" Ya, lebih baik aku menawarkannya makanan dengan wajah polos. Tapi Ethan menggelengkan kepala.
"Puding?" Dia masih menggeleng. "Cucu?" (Susu?). Apa pun yang aku tawarkan, Ethan akan tetap menggelengkan kepala. Aduh, rasanya aku ingin berkata begini padanya; Racun mau racun? Lalu menganggukan kepalanya dengan paksa. Tapi tentu saja. Aku hanya bisa menyimpan niat itu di dalam hati.
Saat aku kembali diam, Ethan tiba-tiba membuka mulut.
"Aku mau kalau putriku yang menyuapiku."
"Khek—uhuk uhuk." Ah, aku langsung tersedak setiap kali dia bilang putriku. Aku melirik ke segala yang ada di atas meja. Tapi tak ada air putih. Sialan!
"Uhuk uhuk."
"Hei ada apa?" Ethan berdiri tergopoh lalu menyodorkan gelas berisi air putih ke tanganku. "Minum pelan-pelan," katanya lagi.
Aku meminum air itu dengan kesetanan sedangkan Ethan mengelus punggungku dengan gerakan pelan dan ... lembut kurasa. Baiklah, dia memang perhatian sekarang. Tapi tolong ingat, aku tersedak karena sikapnya yang absurd itu.
"Bagaimana putriku? Sudah lebih—"
"Pft—uhuk." Bagus. Karena tersedak air minum, sekarang aku tak sengaja menyemprotkan wajah Ethan dengan air yang ada di mulutku. Bukan salahku. Ini salahnya yang terus mengatakan putriku dengan nada yang menggelikan begitu. Ditambah, dia yang mendekatkan wajahnya padaku.
Ah, sekarang rasanya aku jadi malu setengah mampus.
***
"Jadi, Evy tidak sengaja menyembur wajah Ayah?"
Aku mengangguk lemas dengan pernyataan Ezel. Aku yang menceritakan itu pada Ezel tapi aku sendiri yang malu jadinya. Namun, karena Ezel kakak yang baik, dia tidak menertawakanku dan hanya mengelus kepalaku dengan lembut.
"Tida apa-apa. 'Kan Evy tidak sengaja. Kalau sengaja pun, Kakak akan tetap bilang tidak apa-apa." Di akhir katanya, Ezel tersenyum dengan manis. Entah ilusi atau apa, aku bisa melihat ada cahaya yang mengitarinya. Wah, kakakku malaikat.
"Tapi belakangan ini Ayah memang menjengkelkan, ya?" Ezel bertanya dengan nada rendah.
"Dia selalu mengikuti Evy. Dia juga menganggu waktu kita, iya 'kan?"
Ah, aku bosan dengan keluarga yang tidak peka ini. Sudah pasti Ethan begitu karena ingin dekat denganku. Tapi aku tidak tahu motif pastinya.
Sudahlah. Yang terpenting sekarang, aku tahu bahwa kedamaian dalam hidupku akan segera hilang.
[]
KAMU SEDANG MEMBACA
Cameron's House
FantasíaKeluarga Cameron merupakan keluarga bangsawan terpandang. Reputasi baik mereka pun tak pernah padam. Beruntung atau sial, Evy bisa-bisanya berakhir di dalam rumah itu dengan takdir konyol. Dia juga menemukan suatu fakta. Tidak seperti pandangan kha...
