"Siapa dia sebenarnya? Apa yang dia lakukan di sini? Di mana kau menemukannya? Apa saja yang sudah kau lakukan dengan dia?" Ethan terus-menerus melontarkan pertanyaan padaku dan pandangannya yang menusuk tertuju terus pada Aster. Karena khawatir dengan mental anak itu, aku menggenggam tangannya. Mencoba memberitahu bahwa dia tidak perlu takut dengan orang-orang tidak waras ini.
Tetapi tindakanku ternyata memperburuk keadaan.
"Lepaskan tangan itu!" Saat itu, Ethan menatapku dengan mata bergetar. Eyy, kenapa dia sangat dramatis sekali?
"Evy, dari mana kau mendapat itu?" Kali ini dia bertanya dengan putus asa.
Ethan kemudian menggendongku dan mencoba menjauhkanku dari Aster seolah anak itu virus. Dan, setelah kupikir-pikir ... bukankah perkataan pria ini kasar? Dia seakan mengganggap Aster barang. Hah, aku sudah menduga ia akan terkejut melihat anak asing di rumahnya. Tetapi aku tidak berpikir separah ini.
Sebenarnya, aku sudah menyiapkan mental dan jawaban jikalau Ethan bertanya seperti itu. Tapi karena aura dan tekanan yang ia keluarkan sekarang bisa dibilang sangat kesetanan. Aku mendadak terintimidasi. Sial, ini pertama kalinya aku takut dengan dia. Jadi, aku memasang wajah polos dan menunjuk Ezel.
"Tanya pada Kakak saja. Kak Ezel yang menjawab, ya?"
Tidak seperti ekspektasiku. Kupikir Ezel akan membantuku menjawab, mengigat dia selalu menuruti yang kumau. Contohnya seperti dekat dengan Aster. Tapi agaknya aku salah. Ezel juga punya batas untuk itu. Terbukti dari dia yang tampak tak acuh dan mengangkat bahu dengan tidak simpatik.
Bagus ... bagus, ya Ezel .... Pada situasi seperti ini kau mencoba mengkhianatiku dan berpihak pada Ethan. Bagus sekali.
Sekarang aku menatap pada Logan. Memberi kode bahwa dia saja yang menjawab pertanyaan Ethan. Untungnya, Putra Mahkota itu mengerti.
"Evy memungutnya dari jalan."
Astaga ... kenapa orang-orang ini selalu mengatakan hal yang tidak sopan begitu jika menyinggung tentang Aster?
Dapat kulihat, Ethan kemudian menatapku. Aku yang berada di gendongannya serta-merta tersenyum.
Dia kemudian menghela napas dan berkata, "Kau tidak boleh memungut sesuatu secara sembarangan."
Em? Sepertinya aku pernah mendengar kata-kata yang mirip seperti itu dari seseorang.
"Sekarang apa yang harus kulakukan pada makhluk satu ini." Ethan menatap pada Aster lagi.
Aster yang menunduk, mendongak. Kemudian anak imut itu melirikku. Ah, kasihan ... dia pasti tidak punya rumah untuk pulang.
Aku kemudian menatap Ethan dan sebisa mungkin memasang wajah memohon.
"Tolong jangan usir dia. Dia sudah jadi temanku." Baiklah, tahap ini tidak berhasil. Karena Ethan tampak tidak mendengarkan dan ditambah sorakan provokasi dari Ezel dan Logan.
"Evy, kita menampungnya sampai dia cukup sehat untuk pergi. Sekarang itu sudah terwujud."
"Jika kau khawatir dengan kehidupannya setelah itu, aku akan memberi dia biaya hidup."
Mengabaikan perkataan dua orang sinting itu, aku menatap lagi Ethan dan mengalungkan tanganku yang montok pada lehernya.
"Ayah, jika ingin jadi ayah yang baik, Ayah harus mengabulkan permintaan anak-anak Ayah selagi itu wajar. Aku—"
"Permintaanmu tidak wajar, tuh."
Hem ... ingin rasanya aku memukul kepalamu, Ethan.
Padahal, permintaanmu wajar, kok. Aku 'kan meminta Aster tetap tinggal karena dia sudah aku jadikan teman. Walau dia lebih tua, tetapi aku senang memainkan peran seorang kakak karena dia sangat imut! Makanya aku senang Aster jadi temanku. Lagi pula, itu akan membantu anak yang malang itu.
Aku tidak tahu kehidupan seperti apa yang sudah ia lewati. Tetapi, melihat kondisinya, aku tahu dia punya kehidupan yang buruk.
"Mau ya, Ayah?" Aku memohon lagi. Wajah imutku ini sangat bisa diandalkan saat sedang akting memelas dan memohon.
"Ayah baik. Pasti mau 'kan?" Tolong katakan iya. Dan jangan dengarkan Ezel dan Logan yang sirik itu. Aku berharap Ethan menurut.
"Hah ... baiklah. Tapi aku akan mencari identitas anak itu. Jika dia bahaya, aku akan langsung menendangnya."
Ethan berkata dengan tidak minat. Tetapi aku tetap senang dan bersorak.
"Yeay! Ayah memang baik!" Aku melontarkan pujian kosong kemudian menggosokkan wajahku pada pipinya.
Hal yang aku lihat saat itu adalah, Ethan tersenyum dengan rona merah semu; Ezel dan Logan kepanasan di belakang kami; sedangkan Aster terdiam menatapku. Aku tersenyum padanya dan dia langsung memalingkan wajah.
Terserahlah.
Yang penting hubungan kami ini saling menguntungkan. Aku menyelamatkannya dan dia menjadi temanku.
[]
KAMU SEDANG MEMBACA
Cameron's House
FantasyKeluarga Cameron merupakan keluarga bangsawan terpandang. Reputasi baik mereka pun tak pernah padam. Beruntung atau sial, Evy bisa-bisanya berakhir di dalam rumah itu dengan takdir konyol. Dia juga menemukan suatu fakta. Tidak seperti pandangan kha...
