DUA PULUH SEMBILAN

9.2K 1.8K 31
                                        

"Kakak tidak sibuk?" Aku bertanya dengan canggung pada Ezel yang masih setia berdiri di ambang pintu. Dia terus menatapku dengan menusuk. Lalu, alih-alih menjawab pertanyaanku, dia berjalan mendekat dan menarikku untuk duduk di kursi dengan meja bulat yang tersedia di ruangan itu.

Apa ini? Mungkin ada sesuatu penting yang ingin ia sampaikan.

"Kakak mendapat surat. Katanya, Ayah akan pulang dua hari lagi."

"Oh? Benarkah?" Hm, untuk ukuran perang, itu waktu yang terlalu cepat. Dia baru pergi dua bulan yang lalu. Apa semudah itu?
"Jadi, hanya itu yang ingin Kakak katakan?"

Ezel tak menjawab. Tapi matanya melirik pada si imut dengan tangan bersedekap. Hah, aku tahu apa yang ia pikirkan. Karena merasa kurang mendapat kasih sayang dari orangtuanya, kasih sayang yang kuberikan padanya meninggalkan sebuah obsesi. Dia selalu khawatir saat tahu aku tertarik pada sesuatu yang lain selain dirinya. Karena dia akan berpikir aku berpaling. Bagaimanapun dia hanya anak-anak. Terkadang aku khawatir dia menyalahartikan perasaanya sendiri karena bisa dibilang dia masih labil.

Orang-orang di rumah ini memang kacau. Termasuk aku di dalamnya.

"Kakak tidak perlu khawatir." Setidaknya aku harus memberi sedikit perasaan tenang padanya. "Kakak itu yang terbaik! Aku menjenguk si imut hanya karena penasaran dengan keadaanya. Tidak ada niat lebih."

"Si imut?" Ezel mengerutkan kening.

"Hm, begini ... Kakak selalu memanggil anak itu si pungut karena tidak tau namanya. Tapi itu kasar! Lebih baik aku memanggilnya si imut saja. Lagian dia 'kan memang imut."

"Dia tidak imut!" Ezel berkata dengan tegas. Apa, nih? Orang yang memang benar imut, masa dibilang tidak imut sih? Ini adalah sebuah penolakan terhadap fakta. Ezel kemudian bersuara lagi dengan penuh penekanan. Dia bilang, "Di dunia ini, yang imut itu hanya Evy! Paham?"

"Ah, begitu ... baiklah ... aku mengerti." Kurasa, aku sudah menjawab dengan ekspresi datar. Sudah kubilang, orang-orang di sini kacau. Tidak ada yang normal. Kuharap si imut normal nantinya.
"Sudahlah, lebih baik Kakak lanjut bekerja lalu istirahat setelahnya."

"Iya, tapi Evy janji jangan macam-macam, ya?"

"Iya-iya." Aku tersenyum paksa dan melambaikan tangan pada Ezel yang keluar dengan langkah tidak niat. Sial, kata-katanya terdengar seperti aku ini perempuan mesum yang akan berbuat cabul.

Aku menghela napas dan kembali duduk di dekat ranjang si imut. Kapan dia bangun, ya?

Ngomong-ngomong, aku teringat sesuatu. Ethan 'kan dikatakan akan pulang dua hari lagi, bagiamana reaksinya nanti saat tahu aku membawa orang asing ke mansion ini. Duh, gawat. Aku tidak memikirkan itu.

Saat aku berkutat dengan pikiranku, aku bisa mendengar suara melenguh seseorang.

"Ugh ...." Ha, seperti itu.

Aku kemudian mengalihkan pandangan pada si imut dan benar saja, suara itu berasal darinya. Aku rasa dia merasa kesakitan. Tetapi bagaimana ini? Matanya masih terpejam. Juga, ada keringat-keringat kecil yang memenuhi wajahnya.
Aku rasa, dia sudah sadar. Jadi, aku menepuk pelan pipinya.
"Hei, bangunlah. Jika kau merasa kesakitan di dalam tubuhmu, ayo minum obat."

"Ugh ...."

Tidak berhasil. Si imut tetap tidak membuka matanya.

"Sa-kit ... to-tolong ...."

"Hei, bangunlah. Jangan mengigau begitu. Aku akan panggilkan se—"

"Hah!"

Sialan! Kaget aku! Si imut tiba-tiba membuka matanya dengan lebar dan membuatku tersadar bahwa ia punya iris berwarna merah yang memukau. Dia meremas selimut yang menutupi tubuhnya kemudian mengedarkan pandangan ke sekitar.
"A-aku di mana? Si-apa kau?!" Dia menegakkan setengah badannya, kemudian bertanya dengan suara bergetar dan parau. Dia juga menunjuk-nunjuk wajahku dengan raut terancam dan mundur sejauh mungkin dariku.

"Hei, tenanglah adik kecil. Kakak ini tidak akan melakukan hal buruk padamu." Aku berkata dengan santai dan mencoba menjangkaunya. Tetapi dia menepis tanganku dengan kasar. Sikapnya tidak imut.

"Siapa yang kau sebut adik, bocah?  Aku ini sudah besar, tahu!" Si imut lagi-lagi berteriak di hadapanku. Lalu, apa katanya? Dia sudah besar? Cih, badannya saja seukuran denganku. Kami pasti seumuran atau mungkin saja aku lebih tua darinya.

"Memang berapa umurmu? Lima tahun? Atau tiga tahun?" Aku bertanya dengan sedikit sarkastik. Kemudian aku bisa melihat si imut menundukkan wajahnya dengan wajah memerah. Dia pasti malu karena tebakanku benar. Sudah kuduga dia itu masih ke—

"Aku itu tujuh tahun!"

Eh?

Aku yang sudah sombong karena merasa akhirnya menemukan orang yang lebih muda dariku langsung menatap si imut dengan wajah serius campur dongkol.
"Kau serius? Tidak bercanda 'kan?"

"Aku serius, tahu!"

Duh, ternyata dia serius. Dia lebih tua dariku. Tapi aku serius! Ukuran tubuhnya tidak seperti anak tujuh tahun pada umumnya. Aku kemudian berpikir. Membayangkan, bagaimana ukuran tubuh Ezel saat usia tujuh tahun dulu. Tapi bayangannya terlalu buram. Sejujurnya, aku mudah lupa pada bentuk wajah atau tubuh seseorang dulunya. Tetapi aku selalu ingat kenangan dengan orang itu.

"Aku di mana?!"

Begitu mendengar si imut berteriak lagi, aku kembali memandang ke arahnya dan memilih duduk di tepi ranjang.
"Kemarilah," ucapku sambil memanggilnya dengan gerakan tangan. Aku menghela napas dengan lelah saat dia mundur lebih jauh lagi.
"Kau akan jatuh jika terus mundur seperti itu." Aku mengingatkan dengan serius.

"Tidak! Aku tidak mau dekat-dekat denganmu—Ack!!"

Nah, 'kan. Sudah kubilang. Dia benar-benar terjatuh. Kurasa itu karma karena dia sudah bertindak kasar padaku. Bagiamana pun, aku ini lebih tua sebenarnya. HOHO.

[]

[]

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Cameron's HouseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang