Aku menatap ke arah pintu dengan takut-takut dan sesekali curi pandang pada Ethan. Dia marah. Jelas aku tahu dia marah. Ethan kemudian mengambil langkah maju dan tanpa berbicara sepatah kata pun lagi, dia menggendongku. Kupikir dia akan selamanya diam sambil menyorot Aster tajam. Ternyata tidak. Setelah menggendongku, dia lanjut mengatakan omong kosong.
"Kau mau menggambil punyaku, ya?" Begitu katanya yang dibarengi dengan pandangan menusuk seolah Aster ingin mengambil permen darinya.
Ayolah, aku tahu aku ini manis, imut, dan segala macam—ekhm. Lagi pula, Ethan 'kan bukan anak kecil yang harus bersikap kekanakan begini.
"Ayah ingin berkelahi dengan Aster?" Aku bertanya dengan kening berkerut.
"Iya." Ethan bahkan langsung menjawab.
"Kok ayahku pengecut sekali."
"Ha? Oh, bu-bukan begitu." Kini berkebalikan. Sekarang Ethan yang menatapku dengan takut-takut. Aku rasa aku membuat wajah yang garang padanya saat ini.
"Ah, sudahlah. Yang penting jauhi dia. Ini insting seorang ayah, dia tidak baik untukmu." Ethan berkata dengan sungguh-sungguh padaku.
Aster yang mendongak menatapku dengan ekspresi sedih. Ya, aku tahu aku memang menyedihkan karena mempunyai ayah seperti Ethan yang otaknya sudah dijajah oleh kebodohan.
Pada akhirnya aku hanya menghela napas dengan lelah dan menatap Ethan jengah. Sungguh, aku sudah muak dengan sikap protektifnya yang berlebihan.
"Bisa Ayah katakan tujuan Ayah ke sini?" Aku bertanya dengan lesu.
Bukannya menjawab, Ethan malah menempatkan telapak tangannya pada keningku. Mencoba memeriksa sesuatu.
"Badanmu tidak panas. Apa kau sakit? Wajahmu terlihat tidak baik." Ethan bertanya dengan raut khawatir.
"Evy? Kau sakit?" Aster pun ikut-ikutan dan bertanya padaku.
Iya, aku sakit. Sakit jiwa! Ingin sekali aku menjawab begitu tapi aku berusaha menahan diri. Ah, sabar itu menjengkelkan.
***
Jadi ... alasan Ethan saat itu datang ke kamarku ternyata untuk menyampaikan kabar kalau pada saat musim dingin nanti, Nenek dari pihak Duchess meminta aku dan Ezel untuk datang berkunjung. Ah, aku lelah dengan hal seperti itu. Sudah pasti nanti aku disuruh bersikap manis. Kalau di sini kan aku bebas. Mau marah atau jungkir balik sekali pun, tidak akan ada yang melarang.
"Kak, Kakek dan Nenek itu orang yang seperti apa?"
"Orang tua."
Aku mencibir di dalam hati atas jawaban tidak minat yang Eze lontarkan. Serius deh, dia kadang-kadang sangat menjengkelkan. Padahal aku dengan senang hati mendatangi kamarnya untuk mengobrol tentang Kakek dan Nenek. Aku 'kan harus mengerti bagaimana sikap dan sifat seseorang agar bisa menyesuaikan diri. Itu memang caraku bersosialisasi.
"Kakak sudah muak melihat wajahku, ya?" Aku bertanya padanya yang duduk di sebrang. Sesekali aku juga mengunyah kue-kue yang telah disediakan oleh para pelayan. Uh, nikmatnya hidup ini. Sudahlah makan enak, ditambah ada pemandangan indah yang menemani. Kok, Ezel bisa tambah tampan sih?
Ezel kemudian melirik ke arahku dan aku langsung buang muka. Duh, malu. Dia menatapku cukup lama dan menghela napas dengan raut lelah.
"Evy, Kakak tidak pernah muak melihat wajahmu. Kakak hanya muak melihat kau terus dekat dengan si pungut itu." Ezel berbicara dengan kata-kata yang kasar. "Tidak bisakah kau menaruhnya kembali di jalan?"
Aku menghentikan aksi makanku dan menunduk dengan wajah sedih.
"Tapi dia kasihan," jawabku dengan jujur. Serius, bukankah nasib Aster itu terlalu menyedihkan? Hidup susah itu tidak enak. Aku pernah merasakannya. Hanya saja saat itu aku masih punya rumah dan keluarga. Sedangkan Aster? Dia tidak punya rumah. Terlebih, tidak ada yang merawat dan mendampinginya.
"Dia kesepian. Aku tak bisa meninggalkannya sendiri." Aku mendongakkan sedikit kepala dan menatap Ezel dengan mata memanas. Ah, aku selalu sensitif kalau membahas kehidupan yang menyedihkan.
Dapat kulihat, Ezel memasang raut bersalah dan mendekatkan diri padaku.
"Baiklah, Kakak tidak akan memaksamu membuang si pungut meskipun ingin. Jadi, jangan menangis, oke?"
Aku tidak berpikir kata-kata Ezel itu sebagai bentuk penghiburan. Tetapi, aku tetap mengangguk dan mengelap ingusku yang sedikit keluar pada bajunya. Tidak sopan, iya 'kan? Aku tahu, kok. Mana ada bangsawan yang bertingkah seperti ini. Tapi aku lupa membawa sapu tanganku dan Ezel juga terlihat tidak masalah dengan yang kulakukan.
"Ah, ini sudah sore. Aku akan kembali ke kamar." Aku melihat ke arah jendela di mana terlihat langit yang sudah agak berwarna jingga. Sementara Ezel mengangguk dan melepaskan pelukannya.
"Janji, ya? Jangan usir Aster," kataku mengingatkan sebelum benar-benar pergi dari sana.
"Iya-iya."
"Da-da. Nanti aku datang lagi, ya?"
"Itu memang harus!"
Aku hanya tersenyum atas jawaban tegas Ezel. Ah, aku jadi mengantuk. Aku akan meminta Lulu untuk memandikanku dan segera berbaring di ranjang yang empuk. Tetapi, belum sempat aku membuka pintu kamarku seseorang meraih pergelangan tanganku. Aku menoleh ke kiri dan mendapati Aster yang menatap intens dengan bola mata merahnya.
Belum sempat aku bertanya alasannya berada di sini, Aster sudah lebih dulu buka mulut.
"Kenapa kau menangis?"
"Hah?"
"Matamu agak merah, kau habis menangis. Siapa yang membuatmu menangis. Aku akan memukulnya untukmu." Aster berkata dengan serius. Andai dia tahu kalau aku menangisi kehidupannya.
Lebih dari itu, kenapa dia jadi seperti ini? Aku membesarkannya bukan untuk menjadi preman. Apa dia tertular Ezel dan Ethan, ya? Untuk memastikannya, aku melirik Aster lagi yang sudah berapi-api.
Hem, mirip. Auranya mirip seperti saat Ezel ataupun Ethan sedang marah.
Ah, sialan. Aster-ku sudah tertular virus jahat! Kakak macam apa aku ini?!
[]
KAMU SEDANG MEMBACA
Cameron's House
FantasiKeluarga Cameron merupakan keluarga bangsawan terpandang. Reputasi baik mereka pun tak pernah padam. Beruntung atau sial, Evy bisa-bisanya berakhir di dalam rumah itu dengan takdir konyol. Dia juga menemukan suatu fakta. Tidak seperti pandangan kha...
