"Kemungkinan akan ada perang yang terjadi dengan Perzius."
Setelah kembali dari Istana, Ethan datang membawa kabar buruk. Hah ... pada akhirnya doaku tidak terkabulkan. Apa aku sebegitu berdosanya sampai-sampai doaku tidak dikehendaki Dewa? Memang anak kecil sepertiku punya dosa apa, sih?
Menghela napas, aku sekali lagi diam-diam mendengarkan pembicaraan Ethan dan Ezel. Mereka membiarkanku di sini mungkin karena berpikir aku tidak mengerti.
Saat aku ingin melirik Ezel, aku bisa melihat Ethan melirik ke arahku.
"Apa?" tanyaku, "Mau kue?"
"Selalu hanya ada makanan di otakmu." Dia mencibir tapi tidak terdengar nada mengejek pada perkataanya. Tapi aku tetap kesal. Terserahku lah mau memikirkan makanan atau apa pun. Dari pada memikirkan mantan, iya 'kan?
"Jadi, itu artinya kemungkinan Ayah ikut perang 'kan?" Ezel melanjutkan kembali percakapan sedangkan Ethan mengganguk sebagai tanggapan atas pertanyaan Ezel.
"Itu juga berarti Ayah akan meninggalkan Evy, 'kan?"
Entah kenapa, aku bisa melihat mata berbinar Ezel saat mengatakan itu dan Ethan mengganguk dengan wajah kuyu. Seperti tak bersemangat hidup. Oh, apa dia sedih harus meninggalkan anak-anaknya? Kenapa harus begitu? 'Kan cuma ikut perang.
Eh? Oh, iya ... ini bukan soal cuma. Dia bisa saja mati di sana. Duh, mantan—eh, maksudnya ayahku kasihan juga.
Coba aku kasih dia hadiah sesekali.
Aku turun dari kursi dan berjalan mendekati Ethan. Dia menatapku dengan binggung tapi kuabaikan.
"Gendong aku," ucapku seraya merentangkan tangan. Dia terdiam tapi tetap menuruti perintah dengan gerakan kaku. Kurasa dia tidak pernah menggendong anak sebelumnya. Tak terkecuali Ezel.
Setelah berada di gendongan Ethan, aku dengan canggung mencium pipi kanannya.
"Ini hadiah kalena cudah jadi ayah bayik." Sebelumnya, aku tak pernah mencium dia. Baik dulu maupun sekarang. Tapi ini benar hadiah karena dia sudah lebih menyayangi dan menghargai anak-anaknya. Walau begitu aku tetap malu dan menunduk untuk menunggu reaksinya.
Hening pada awalnya, namun tiba-tiba aku bisa mendengar cangkir yang ada di pegangan Ezel pecah ke lantai. Sementara Ethan diam membeku.
Heh, ada apa dengan mereka?
"E-evy-ku baru saja mengkhianatiku."
"Pu-putriku ba-ru saja menciumku."
Mereka berucap secara bersamaan dengan ekspresi yang kuanggap konyol. Ezel memasang tampang terluka sementara Ethan tersipu malu-malu dengan guratan senyum samar di bibirnya.
Sadar akan situasi, aku segera turun dari gendongan Ethan dan menghampiri Ezel sebelum ada perang di dalam keluarga ini. Lalu aku memberi satu kecupan di pipinya.
"Sudah 'kan?" tanyaku dengan ceria.
Ezel tersentak dengan mata melebar. Sedetik kemudian dia menutupi wajahnya untuk suatu alasan.
"E-evy, kenapa kau implusif sekali?" Dia bertanya dengan suara kecil. Apa sih, kakakku ini? Walau ini juga baru pertama kali aku menciumnya, tapi aku 'kan sering menggosok wajahku pada pipinya yang lembut.
Tidak Ezel, tidak Ethan, kenapa mereka *sentimental sekali?! (*Baperan, kalau dalam bahasa gaul).
***
"Tuan Duke, tolong fokus pada pembicaraan." Diego—Kaisar Arcturus saat ini memperingati. Saat ini, mereka sedang dalam perundingan tidak resmi membahas terkait perang yang mungkin akan terjadi. Karena keluarga Cameron yang paling berpengaruh terhadap kemungkinan menang, jadilah Kaisar mengundang Ethan termasuk Ezel sekalian ke Istana.
Tapi di ruangan itu bukan hanya ada mereka bertiga. Melainkan empat karena Logan yang merupakan seorang Putra Mahkota juga ada.
"Kita harus memikirkannya secara matang. Bagaimanapun, strategi itu penting dari kemampuan. Jadi—Duke muda, fokuslah." Kali ini Kaisar menegur Ezel.
Kaisar dan Logan dibuat binggung. Biasanya, jika dalam situasi seperti ini, ayah-anak itu yang selalu bisa diandalkan. Tapi dari tadi mereka tidak fokus dan malah memikirkan hal lain. Mana senyum-senyum sendiri.
"Ada apa dengan Tuan Duke dan Tuan muda Cameron saat ini?" Logan bertanya dengan serius. Kali ini ia berbicara dengan sopan karena sedang di depan sang ayah. Dia penasaran setengah mampus.
Kalau dua orang itu bisa jadi gila seperti ini, pasti ada hubungannya dengan Evy.
"Oh, tidak ada hal spesial, Yang Mulia. Ini hanya tentang adik saya." Ezel yang menjawab, sengaja tersenyum penuh kemenangan agar Logan penasaran.
"Hm? Ada apa dengannya?"
"Dia memberi kami kecupan sebagai bentuk hadiah. Bukankah itu manis? Dia anak yang lucu." Kali ini Ethan yang menjawab. Diam-diam ada niat pamer di dalam dirinya.
"Benar sekali. Evy itu anak yang manis dan lucu." Ezel pun ikut-ikutan. Hari ini dia kompak dengan ayahnya untuk pamer bahwa mereka sangat disayangi oleh Evy yang polos itu.
Tiba-tiba Logan tersadar dan menatap ayah-anak itu.
"Loh? Jatahku tidak ada?" tanyanya dengan eksplisit.
Lalu ekspresi Ethan dan Ezel berubah dingin saat Logan mengatakan itu. Kaisar yang binggung kenapa tiba-tiba obrolan mereka jadi melantur, memijit pelan pelipisnya.
"Sebentar, sebenarnya Evy itu siapa?"
"Calon menantu Ayah. Dia anak Tuan Duke."
Mendengar jawaban Logan, Kaisar serta-merta bahagia saat dia menyadari sesuatu. Tidak peduli lagi pada obrolan tidak nyambung mereka.
"Tuan Duke, kita akan jadi besan?"
"Sebelum itu terjadi, kita akan jadi musuh, Yang Mulia."
Kaisar dan Logan mendadak ciut saat Ethan dan Ezel menatap mereka dengan menusuk.
[]
KAMU SEDANG MEMBACA
Cameron's House
FantasyKeluarga Cameron merupakan keluarga bangsawan terpandang. Reputasi baik mereka pun tak pernah padam. Beruntung atau sial, Evy bisa-bisanya berakhir di dalam rumah itu dengan takdir konyol. Dia juga menemukan suatu fakta. Tidak seperti pandangan kha...
