TIGA PULUH SATU

9K 1.7K 36
                                        

Tinggal sehari lagi sebelum Ethan pulang, aku dan si imu—maksudku Aster jadi lebih dekat secara natural. Tidak bisa dibilang dekat juga sih sebenarnya ... soalnya di sini hanya aku yang mencoba mengajaknya bercengkrama. Sialan si Aster! Dia bahkan tidak menanyakan siapa namaku atau semacamnya. Padahal dia takut kutinggal sendiri, cih.

"Hei, kau."

'Kan. Dia selalu memanggilku seperti itu. Padahal aku menemuinya itu seperti mempertaruhkan nyawa karena Ezel selalu mengawasi. Bisa-bisanya dia memperlakukanku begini. Tapi sudahlah. Karena dia menghibur untukku, jadi kumaafkan.

"Luka dan lebam pada tubuhmu sudah agak membaik, main yuk."

Aku ingin dia menjawab, hayuk. Tetapi dia malah bergeming. Jadi aku berbicara lagi.
"Taman di kediaman ini sangat bagus. Saat aku sendiri, aku bahkan bisa melihat para peri. Di situ juga—"

"Kau bisa melihat peri?"  Aster memotong ucapanku dan bertanya dengan serius.
"Apa mereka yang mendatangimu?"

Aku binggung kenapa dia mendadak serius begini.
"Ah, iya. Kenapa?" Meski begitu aku tetap menjawab dan balik bertanya mengenai alasannya.

Memangnya ada apa dengan itu?

Saat aku penasaran, Aster malah tidak mau menjelaskan.
"Tidak. Bukan apa-apa." Hanya itu yang ia katakan.

"Ah, malas deh kalau begini. Lebih baik aku keluar."

"Jangan! Kau tidak bo—"

"Kau tidak punya hak untuk mengatur adikku." Ezel datang dari arah belakang dan langsung mengangkut tubuhku seperti mengangkut sebuah barang. Sudah kubilang, dia selalu mengawasi. Apakah ini karena Lulu mengadu lagi?

Ah, memikirkannya aku jadi frustasi.
Kenapa orang-orang ini tidak membiarkanku bermain dengan si imut sih?!

"Kakak punya waktu senggang, ya? Tidak kerja?" Aku bertanya dengan ekspresi datar. Ezel juga sudah menggendongku dengan benar.

"Buat apa kerja? Toh, besok atau lusa Ayah akan pulang. Biar saja dia yang urus." Ezel mengatakannya tanpa beban sama sekali.

Terkadang aku kasihan dengan Ethan. Bisa-bisanya dia punya dua anak durhaka seperti kami ini. Hish ... malang sekali nasibnya. Sudahlah aku pernah menampar pipinya, ternyata dia juga pernah ditampar dengan kata-kata menyakitkan dari Ezel.

Tahu tidak? Semenjak dekat, terkadang Ethan sering curhat denganku. Dia tidak berharap aku mengerti karena mengira aku masih kecil. Tetapi dia menceritakannya hanya untuk merasa lega saja. Tandanya apa? Tandanya mantan alias ayahku itu sangat depresi dengan kami.

"Jadi, Kakak ke sini mau apa?" Aku melanjutkan kembali pembicaraan kami.
"Aku mau main dengan Aster hari ini," kataku sambil menunjuk Aster yang diam memperhatikan tingkah kami.

Maaf  ya, Aster. Terkadang kami memang tidak waras. Semoga saja akal sehatmu masih bertahan setelah tinggal di sini.

Oh, iya. Aku melupakan sesuatu. Aku secara perlahan mendekatkan diri pada Ezel dan berbisik di telinganya.
"Kakak sudah mencari identitas Aster belum? Dia tidak mau menceritakan apa pun padaku."

Ezel yang pada awalnya fokus memelototi Aster kini mengalihkan pandangan padaku.
"Oh, Kakak tidak sempat karena sibuk. Tapi yang sudah Kakak ketahui, dia dari daerah Timur." Dia menjawab dengan pelan.

Jika itu daerah Timur, itu adalah daerah di mana mayoritas penduduknya merupakan seorang penyihir. Menara sihir juga dibangun di sana. Orang-orang di sana juga menjadikan tingkat kekuatan sihir sebagai tingkat kehormatan. Artinya, kau akan sangat disegani jika kau punya kekuatan sihir yang tinggi. Sebaliknya, jika kekuatan sihirmu rendah, kau akan cenderung diasingkan.

Jadi, apakah Aster kita yang imut ini seorang penyihir? Melihat dari tubuhnya yang lemah, aku tidak yakin dengan itu.

Ah, anak ini terlalu misterius. Itu membuatku tambah pusing. Sial, kenapa aku ini orang yang mudah penasaran, sih? Tentang kristal mana juga begitu.

Ugh, menyebalkan.

"Evy, kenapa kau sangat penasaran dengan anak itu?" Ezel berbisik lagi padaku. Kali ini nada bicaranya terdengar tidak enak di telinga. Seperti dia sangat kesal. Huh, memang sih kakakku ini. Bukankah obsesinya sudah kelewatan?

Aku bisa paham kenapa dia begitu. Tetapi, sebenarnya ini sudah pada tingkat di mana aku terganggu. Karena dia selalu mengawasiku. Padahal aku tidak akan menghilang atau pergi ke mana pun.

"Itu hanya perasaan Kakak. Aku biasa saja terhadap Aster."

"Semalam kau bahkan menggodanya."

Ack!! Jangan ingatkan itu. Sumpah, itu kejadian yang ingin aku lupakan karena, setelah kupikirkan ... kejadian itu sangat memalukan! Aku sampai bertanya-tanya, apa semalam aku sedang kerasukan setan?

Sialan memang. Hidupku jadi terlihat sangat menyedihkan.

[]

[]

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Cameron's HouseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang