Keluarga Cameron merupakan keluarga bangsawan terpandang. Reputasi baik mereka pun tak pernah padam.
Beruntung atau sial, Evy bisa-bisanya berakhir di dalam rumah itu dengan takdir konyol. Dia juga menemukan suatu fakta. Tidak seperti pandangan kha...
Tanpa kusadari, tahu-tahu empat bulan telah berlalu dan membuat umurku lima tahun sekarang. Hal yang bagus dari ini adalah pengucapan kalimatku sudah lumayan bagus. Aku hanya akan cadel jika aku berbicara dengan cepat. Jadi aku sangat menghindari itu.
Lalu, dua bulan yang lalu Ethan menerima surat resmi dari Istana bahwa dia harus ikut dalam perang, yang benar terjadi dengan Perzius. Perang itu tidak terlalu berdampak pada kekaisaran ini. Semuanya tampak stabil. Hanya saja, Ethan dan para kelompok yang dikirim ke perbatasan belum pulang sampai sekarang. Berarti mereka masih dalam keadaan perang.
Doakan saja semoga Ethan pulang dengan selamat dan sehat tanpa kehilangan satu pun anggota tubuh.
Kemudian, karena posisi kepala keluarga kosong di rumah ini ... sudah pasti Ezel menjadi pengganti sementara. Itu membuat dia sibuk mengurusi permasalahan internal di kediaman ini. Itu juga membuatnya jadi tidak punya waktu denganku. Tapi terkadang aku datang menemuinya untuk memberi semangat.
Lagi, aku hanya bisa berdoa agar kakakku tidak mati kelelahan.
Terkadang aku merasa takjub. Sudah empat tahun terlewat di kehidupan kedua ini. Ada kalanya aku ingin melupakan kehidupan lampau mengigat banyak yang sudah terjadi. Aku makin dekat dengan keluargaku yang sekarang. Bukankah itu hal yang bagus untuk fokus pada kehidupan ini? Apalagi aku sudah tidak canggung saat mengucapkan kata 'Ayah' di depan Ethan.
Tapi, nyatanya aku masih belum bisa melupakan kehidupan lamaku. Aku masih penasaran, kenapa ada kristal mana palsu itu dulu?
Kejadian yang kutahu saat itu hanyalah ayahku ikut mengalami kerugian setelah melakukan investasi pada penjualan kristal mana yang gagal total. Entah kenapa, waktu itu tiba-tiba saja kualitas kristal mana diragukan. Banyak para pembeli menuntut kompensasi termasuk para pekerja yang meminta upah kerja.
Yang menjengkelkan ayah Ethan langsung memutus hubungan dan berbalik badan. Menyerahkan semua kerugian kepada ayahku. Tidak ada publik yg tahu mengenai ini. Yang mereka tahu bawa Luxa memalsukan kristal mana demi keuntungannya, makanya beberapa bangsawan yang menjadi pembeli tidak segan-segan meminta kompensasi besar karena kemarahan mereka. Lalu pertambangan itu ditutup oleh Duke Cameron sebelumnya sesaat demi mereda amuk masa.
Oke, dari sini aku tahu ayah Ethan sangat-sangat menjengkelkan. Memakinya pun percuma karena sekarang dia sudah tidak ada di dunia. Tapi aku masih mencoba berpikir, tidak mungkin dia yang memalsukan kristalnya 'kan? Untuk apa dia merugikan pertambangannya sendiri.
Ugh, aku selalu pusing setiap kali memikirkannya.
"EVY-KU YANG LUCU!!!! TOLONG ISI TENAGA KAKAK DENGAN KEIMUTANMU!!"
Ah, makin lama, aku rasa Ezel hilang martabatnya. Dia berlari ke dalam kamarku dan langsung memeluk leherku dengan erat. Sialan! Kakakku mau membunuhku atau apa? Aku tercekik.
"Kakak, aku tidak bisa bernafas."
Begitu aku berkata, Ezel buru-buru melepas pelukannya. "Maaf, Evy ...," katanya dengan sedih.
Duh, kakakku kasihan sekali. Aku bisa melihat ada garia hitam di bawah matanya. Dia pasti bergadang. "Kakak tidak tidur, ya?" Aku bertanya sambil mengelus kepalanya. Dia juga sudah duduk di sampingku dan sedikit membungkuk.
Ezel menggeleng dengan ekspresi sedih.
"Sudah makan?"
Ezel menggeleng lagi.
"Kakak mau mati?"
Ezel langsung tersentak saat aku bilang begitu. Dia menambah ekspresi sedihnya. "Evy, kau tega sekali bilang begitu pada Kakak."
"Kalau tidak mau mati, makanya Kakak harus istirahat dan makan dengan teratur. Mengerti?"
"Hm ... Kakak mengerti. Evy memang selalu benar." Ezel mengangguk paham dan tersenyum senang saat lagi-lagi aku mengelus kepalanya.
Ternyata, tugasku sebagai seorang pengasuh tidak akan pernah hilang.
***
Saat ini aku sedang ada di taman. Sendirian. Memang mansion ini punya rumah kaca tapi, aku lebih nyaman melihat bunga di alam terbuka. Juga, udaranya sangat segar.
Setiap kali di taman sendirian begini, hal yang membuatku aneh adalah peri. Ya, aku pernah mengatakan sebelumnya bahwa eksistensi peri itu diakui. Tapi setahuku, mereka itu mahkluk yang tidak suka menampakkan diri pada manusia. Anehnya, peri-peri ini selalu menampakkan diri hanya pada saat aku sendiri. Jumlah maksimumnya hanya ada tiga.
"Evy!"
Mungkin karena punya insting merasakan presensi seseorang, para peri itu terbang ke atas pohon yang aku jadikan sandaran. Aku membalikkan pandang untuk melihat siapa yang datang.
Ternyata itu Ezel dan Logan. Eh, tumben sekali mereka berdua. Apalagi belakangan ini wajah Logan jarang terlihat mataku karena dia juga sana sibuknya dengan Ezel.
"Kalian kenapa ada di sini?" tanyaku pada mereka.
"Terkadang aku sedih saat tahu bahwa aku tidak bisa mendengar aksen cadel Evy lagi." Bukannya menjawabku, Logan malah mengatakan omong kosong itu.
"Kakak tahu? Terkadang, aku juga sedih saat memikirkan kekaisaran ini akan dipimpin oleh orang seperti Kakak nantinya."
"Evy, perkataanmu itu—"
"Sudah, diamlah sialan!" Ezel memotong aksi dramatis Logan segera. Aku baru saja ingin berucap hal yang sama dengannya. Ezel kemudian berbalik menatapku dengan hangat. "Evy, Kakak di sini ingin mengajakmu pergi ke festival besok."
"Hm? Festival?"
"Iya. Festival Yustita." Logan yang menjawab dengan ceria.
Oh, festival Yustita. Berarti besok adalah hari 'Rahmat Yustita'. Itu adalah hari di mana orang-orang percaya bahwa Dewa Yustita—Dewa yang dipercaya di kekaisaran Arcturus—akan memberikan berkat pada orang-orang yang berdoa di hari itu. Kuil pasti akan ramai nanti. Lalu pada malam hari, di alun-alun akan diadakan festival yang disebut festival Yustita.
"Tapi, bukankah itu akan berbahaya." Aku menatap kedua orang itu bergantian. Keluar pada malam hari tanpa pengawasan, itu adalah hal yang riskan. Aku yakin mereka tidak akan membawa pengawal karena takut waktunya diganggu.
Lalu Logan menjawab, "Tidak perlu khawatir. Aku akan selalu berdiri di sampingmu, Evy."
"Kakak akan membunuh siapa pun yang membahayakanmu." Ezel ikut menjawab dengan wajah bangga.
Andai mereka tahu, itulah yang aku takutkan. Bisa saja Ezel mendadak gila kalau sesuatu terjadi padaku nanti. Saat itu, berakhirlah aku dengan menenangkan dia. Ujung-ujungnya aku akan berakhir seperti orang dewasa yang meleraikan perkelahian anak-anak!
"Aku akan ikut kalau Kakak berjanji tidak akan membunuh sembarang orang nanti. Cukup pukul sekali kalau kesal, mengerti?"
"Tapi, kalau dia menyakiti Evy?"
"Pukul dua kali, mengerti?"
Saat aku berkata dengan tegas, barulah Ezel menganggukkan kepala dengan lesu. "Baiklah," katanya.
"Yeay! Besok pergi dengan Evy." Logan berseru bahagia sedangan aku memijit pelan keningku. Sangat sulit untuk mendidik orang-orang ini.
[]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.