Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•••
Gulf masih mendengarkan, seseorang di ujung sana masih terdiam setelah menyebut namanya. Jemari kakinya menekuk merasakan hawa yang begitu tidak bersahabat menerpa tubuh.
"Aku matikan ya, sepertinya kamu salah sambung." Gulf kesal, ia memang mendengar namanya di sebut oleh si penelepon tapi mengapa tidak segera menyampaikan maksud?
Menyebalkan.
"Tidak Gulf jangan! Aku Johnny.. yang tadi siang."
Bibirnya ia gigit, Gulf ingat sekarang. Pantas saja suara Johnny begitu asing karena mereka memang tidak pernah memiliki percakapan di telepon sebelumnya.
"Ada apa, Johnny?"
"Gulf maaf, aku- mungkin terdengar tidak sopan."
"Tidak apa kok, kamu ada kepentingan atau bagaimana?"
Kemudian hening lagi, di seberang sana Johnny mati-matian menahan suara girangnya agar Gulf tidak terkejut. Sungguh ia sudah menantikan masa ini sejak hari pertama mereka berstatus sebagai mahasiswa baru.
"John?"
"Minggu ini, kamu memiliki waktu luang?"
"Untuk apa?" Tubuhnya ia bawa bersender di kepala ranjang, dengusan malasnya beberapa kali mengudara.
"Menonton, aku rasa?"
Sepertinya Gulf tahu kemana arah pembicaraan mereka kali ini, hatinya bimbang.. jika ia menerima ajakan Johnny maka bisa di pastikan kedepannya mereka pasti akan menjadi lebih dekat.
Mew, bagaimana?
Ah tidak, Gulf menggelengkan kepalanya kuat mencoba menghalau ingatan tentang seseorang yang sampai saat ini tidak ia ketahui keberadaannya.
Memangnya apa yang diharapkan, bisa saja disana Mew telah memiliki orang lain di sisinya.
"Jam sepuluh pagi, bagaimana?"
"Setuju."
Jantungnya berdetak kencang seperti sedang melakukan kesalahan besar.
Tidak apa Gulf, keputusanmu sudah benar, batinnya menyemangati.
Astaga ia lupa menanyakan darimana Johnny mendapatkan nomor ponselnya.