Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•••
Hampir setiap akhir pekan Gulf akan melakukan kunjungan rutin ke apartemen pacarnya, waktu masih menunjukkan pukul lima sore dan keduanya baru saja selesai dengan kegiatan kantor.
Mew melepas jasnya lalu melonggarkan dasi, sedangkan anak kucingnya malah asik menyedot bubble tea tanpa menghiraukan sekelilingnya.
"Kamu menginap, kan?"
"Iya, tapi aku tidak bawa baju."
"Baju kamu kan di tempat aku sudah banyak."
Gulf hanya mengangguk membalas ucapan Mew, hari ini sebenarnya sangat melelahkan tapi disamping itu ia juga senang karena sebentar lagi akan wisuda.
Setelah itu? Gulf berencana menjadi beban pacarnya.
"Aku mau pizza, boleh?"
"Kamu kan sudah makan itu kemarin malam."
"Memangnya tidak boleh?"
"Tidak sehat, nanti aku pesan yang lain."
Gulf sedikit mendengus, bisa saja ia membelinya sendiri tapi Mew akan berakhir mendiamkannya seharian. Gulf mana bisa jauh-jauh dari beruang besarnya!
. . .
Gulf menjatuhkan dirinya diatas sofa empuk di apartemen Mew, kakinya terjuntai kebawah dengan tubuh yang tidak tentu arahnya.
Mew berkacak pinggang, "Mandi dulu."
"Nanti saja, bayi kamu lagi lemah."
"Kalau aku mandikan?"
Yang lebih muda langsung berdiri kemudian berjalan mendahului Mew lalu tersenyum lucu, "Ayo!"
Mew berjalan di belakang pacarnya, tidak habis pikir mengapa anak itu begitu gembira dengan ajakan mandi bersama.
***
Gulf hampir menangis keras kala Mew dengan tidak berperasaan malah menarik tubuhnya untuk mandi dibawah shower, ia kira mereka akan berendam di dalam bathup!
"Mew jangan keras-keras!" Gulf menghentakkan kakinya hingga cipratan air mengenai tubuh keduanya.
Ia seperti sedang di mandikan oleh Ayah saat masih kecil.
"Tidak keras, kamu jangan drama gitu." Mew kembali menuangkan shampoo beraroma buah-buahan ke kepala pacar manisnya yang kini malah sibuk memainkan botol sabun.
"Angkat tangannya," Mew memerintah.
Gulf menurut.
PLAK!
"Mew Mew pantatku jangan di pukul!"
Gulf menutup matanya kala serangan air untuk meluruhkan sisa sabun dari tubuh keduanya kembali turun, kakinya kembali menghentak— kebiasaannya.