Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•••
Sebulan setelah pertengkaran itu kini pasangan muda Jongcheveevat di sibukkan dengan persiapan kelahiran, kehamilan Gulf telah nemasuki bulan ke-delapan dan tentu saja tubuhnya juga semakin sering sakit disana sini.
Namun ia tidak mengeluh sedikitpun bahkan cendrung mengatasi masalahnya sendirian, Mew juga menyadari perubahan itu tetapi.. dirinya tidak bisa berbuat apapun selain melayangkan pandangan sendu.
Meskipun senyum dan genggam tangan masih sehangat biasanya tapi perubahan itu tetap ada.
"Kita kan tidak tahu jenis kelaminnya, mending beli warna netral aja." Jemari Gulf menunjuk salah satu kotak warna yang tersedia untuk barang-barang bayi mereka.
Warna cokelat muda.
"Kalau gitu sekarang ke Rumah Sakit aja, aku mau check jenis kelamin anak kita dulu."
"Jangan gila!" Pekik yang lebih muda.
Mereka sedang berada di salah satu baby shop terbaik di kota ini, dan dengan seenaknya Mew malah berniat untuk ke Rumah Sakit? bisa-bisa kakinya semakin bengkak.
Gulf melirik sekitar mereka, beberapa tampak curi-curi pandang dan sebagian lainnya menatap terang-terangan.
Mungkin teriakannya tadi mengundang perhatian.
"Warna cokelat muda," Finalnya tanpa bantahan.
Mau tidak mau Mew harus menurut, tapi tidak apa.. ia bisa kesini sebelun hari kelahiran tentunya tidak bersama Gulf.
. . .
Bow memijit kaki sang adik yang terlihat semakin bengkak, padahal pasti terasa nyeri tapi adik kecilnya ini malah tidak melepas senyum sama sekali.
Seolah tidak ada beban di pundaknya.
"Gulf."
"Kenapa, kak?"
"Menjelang kelahiran, Dokternya bilang apa?"
Yang lebih muda terdiam sejenak lalu menatap saudari perempuannya tidak terbaca, "Jangan stress."
"Itu aja?"
"Ada lagi.. aku tidak boleh takut."
Wanita yang menjabat sebagai kakak kandung Gulf tersebut mengusap lembut surai halus sang adik.
"Gulf— adik kakak yang paling manis, sebentar lagi kamu bakal jadi orangtua.. ayo jangan sedih ya? semuanya akan baik-baik saja."
Satu anggukan pelan menandakan si manis mengerti.
Bow juga takut, apalagi dia tahu resiko seperti apa yang akan di hadapi Gulf nantinya.