-𝐓𝐀𝐌𝐀𝐓-
"𝘽𝙚𝙗𝙚𝙧𝙖𝙥𝙖 𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪, 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙩𝙪𝙢𝙗𝙪𝙝-𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙙𝙞𝙨𝙖𝙙𝙖𝙧𝙞."
Pindah ke kota baru bukan keputusan besar,
hanya sebuah cara untuk merasa lebih tenang.
Meninggalka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SAQUELA ✧✧ BAB 23
Don't forget to vote, comment and share this story on all your social media. ________________________________
Malam ini, Rara memutuskan untuk pergi ke basecamp diantar oleh pengawal, awalnya menolak tapi Papanya bersikeras memaksa agar ia pergi bersama dengan Victor.
"Om, nanti kalo udah sampek sana pulang aja duluan, Aya biar sama Abang." ucapnya pada Victor, lelaki itu mengangguk kemudian menggandeng tangan Rara lembut menuju arah mobil yang terparkir.
"Aya suka deh, kalo Om Victor bicaranya nggak formal lagi." celetuk gadis itu seraya tersenyum.
"Apapun untuk Tuan putri." balasnya.
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di depan basecamp yang langsung di sambut oleh beberapa anggota Etherousva.
"Selamat malam, adik manis." sambut Raffi yang membukakan pintu mobil.
Rara keluar, dan tertawa pelan ketika melihat tingkah cowok itu. "Selamat malam, kakak ganteng." balasnya sembari menerima uluran tangan Raffi dan bergegas menuju ke dalam.
"Udah izin Papa belum?" tanya Deta yang tadinya duduk di teras, kini bangkit dan merangkul bahu Rara.
Rara mendudukkan dirinya di samping Beno yang tengah mabar bersama Raffa dan juga Aksa.
Di karpet bawah, ada Sean yang sibuk memakaikan Ruby aksesories hewan.
"Bang Zen mana?" tanya Rara.
"Di atas, Ra. Lo udah makan?" Beno menaruh ponselnya ketika mendengar pertanyaan Rara, cowok itu menyenderkan tubuhnya pada sofa seraya menguap.
"Aya udah, Bang Zen ngapain disana?"
Raffa terkekeh, sepertinya jika berbicara dengan Rara harus dengan detail agar gadis ini tak banyak tanya, "Sini deh, Ra!" titah cowok itu menepuk sisi sofa yang kosong di sebelahnya.
Rara menurut, "Kenapa?"
"Mau eskrim?" bisiknya tepat di telinga Rara, gadis itu terkikik geli kemudian mengangguk.
"Yuk, kita beli." ajaknya.
"Mau kemana, Bang?" tanya Sean yang menatap mereka penuh curiga, ada bau-bau permusuhan antara Raffa dan Sean jika menyangkut tentang Rara.