-𝐓𝐀𝐌𝐀𝐓-
"𝘽𝙚𝙗𝙚𝙧𝙖𝙥𝙖 𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪, 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙩𝙪𝙢𝙗𝙪𝙝-𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙙𝙞𝙨𝙖𝙙𝙖𝙧𝙞."
Pindah ke kota baru bukan keputusan besar,
hanya sebuah cara untuk merasa lebih tenang.
Meninggalka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SAQUELA ✧✧ BAB 30
Don't forget to vote, comment and share this story on all your social media.
________________________________
Sepanjang jalan, dua insan itu terus bercanda seperti orang yang sudah saling kenal. Oziel yang selalu punya banyak cara untuk membuat gadis di sampingnya ini tertawa.
Pertemuan mereka tanpa disengaja, bahkan itu semua berlangsung dengan waktu yang singkat. Tapi jauh dalam benak Oziel, ia mulai menyimpan rasa lebih pada Rara.
"Ra, lo mau muter-muter gak?" tawar Oziel.
"Kemana?"
"Kemanapun yang lo mau, asalkan jangan ke pelaminan, gue belum jadi Direktur, nanti dapet uang dari mana gue buat nafkahin, lo." jawabnya dengan asal.
"Rara juga belum jadi Dokter." balas Rara sembari tertawa.
Oziel yang gemas, malah mengacak rambut Rara dengan keras sampai kepala gadis itu pening.
"Eh, eh! Kenapa, Ra?"
"Oziel! Pala aku pusing!" adu Rara yang mulai berjongkok menutup wajahnya.
"Hahaha, sorry. Emang ada unsur kesengajaan, sih." ucapnya sambil membantu Rara berdiri.
"Yuk, cepetan. Mau jalan atau di gendong?" tawar cowok itu yang berdiri membelakangi Rara.
"Gendong!"
Rara berseru senang ketika Oziel berjongkok di hadapannya. Tanpa pikir panjang, gadis itu melompat menaiki punggung Oziel yang lebar.
"Lo ringan banget, sih!" ucap cowok itu dengan jujur. Rara mengalungkan kedua tangannya pada leher Oziel menunjuk-nunjuk setiap pohon yang ia lewati.
"Turun dulu! Lo haus gak?"
Rara menurut, saat kedua kakinya menyentuh tanah. Gadis itu menggenggam tangan Oziel dengan erat.
"Sebenernya Aku udah haus dari tadi, untung kamu nawarin, jadinya aku gagal kena hipertensi di sini." ucap gadis itu.
"Dehidrasi, Ra!" koreksi Oziel.
"Di situ ada minimarket, lo mau beli apa? Gue traktir, deh!"