-𝐓𝐀𝐌𝐀𝐓-
"𝘽𝙚𝙗𝙚𝙧𝙖𝙥𝙖 𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪, 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙩𝙪𝙢𝙗𝙪𝙝-𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙙𝙞𝙨𝙖𝙙𝙖𝙧𝙞."
Pindah ke kota baru bukan keputusan besar,
hanya sebuah cara untuk merasa lebih tenang.
Meninggalka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SAQUELA ✧✧ BAB 45
Don't forget to vote, comment and share this story on all your social media.
________________________________
10 November 2020, sesuai janji sebulan yang lalu. Sepasang kekasih itu tengah merayakan hari jadi mereka yang pertama.
Seperti kencan biasa, Oziel lebih memilih mengajak gadisnya menikmati waktu berdua menikmati senja bersama.
Langit menjadi saksi kala tawa mereka berbaur dengan deburan ombak, sesekali Oziel memeluk tubuh gadis itu dari samping. Memandang lekat wajah cantik itu.
"Gak pa-pa 'kan kalo kita rayainnya kecil-kecilan kayak gini?" tanya Oziel yang masih setia memandang gadisnya dengan tulus.
"Gak pa-pa kok, emang Quality time kayak gini yang Aya mau. Duduk berdua sama El, nikmatin waktu-waktu kita sambil liatin pantai."
"Udah lama juga 'kan kita gak pergi main?"
"Sini peluk!" titah Oziel, cowok itu merentangkan kedua tangannya mengkomando Rara agar segera mendekap tubuhnya.
"Bersyukur banget gue bisa ketemu ciptaan Tuhan modelan anaknya Pak Hendra." gumam cowok itu, suara rendah dan mata sendu kala bibirnya mencium pucak kepala Rara lama.
Menghirup dalam-dalam aroma vanilla itu. Gadis yang selalu mengalah ketika Oziel bertindak semaunya, gadis yang mau menerima segala kekurangan Oziel.
"Meski saingan gue Tuhan, gue bakalan perjuangin lo sampai mati, Ra."
Rara mendongak, melihat paras tampan Oziel dari bawah. "Aku pikir hubungan kita salah dari awal karna udah nentang takdir Tuhan, El."
"Lo tenang aja Ra, selagi gue bisa apapun bakal gue perjuangin untuk hubungan ini. Urusan Tuhan, kalo yang di atas ngerestuin apapun bisa terjadi."
Senyum manis terukir jelas di wajah gadisnya, hati Oziel mendesir hangat dan semakin mengeratkan pelukannya. Matahari sebentar lagi akan terbenam, Oziel mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam yang dilapisi kain beludru yang dilapisi mutiara kecil.
"Benerin dulu duduknya." titah Oziel.
Rara menurut, Ia juga merapikan sedikit rambutnya yang berantakkan. Matanya beralih menatap tangan Oziel yang sibuk membuka kotak itu. Sebuah liontin berwarna silver dengan bandul mutiara berbentuk bulan sabit.
"Gue suka segala hal tentang semesta termasuk mahluk cantik yang dulu namanya selalu ada dalam bait doa gue, sampai detik ini juga."