BAGIAN 97 Love So Pure
Apa yang akan terjadi ketika semua pemikiran atau rencana yang telah dipikir matang-matang menuai hasil yang jauh dari dugaan?
Tentu saja perasaan tidak percaya dan ragu-ragu.
Xiao Zhan selalu mengagumi Xi Luhan. Pertemuan pertama mereka terjadi di perusahaan Wang Corp. Pada saat itu Xi Luhan adalah menjabat sebagai manajer yang memiliki kemampuan bagus dalam desain interior. Pertemuan kedua terjadi ketika Xiao Zhan berada dalam hari-hari terburuk di universitas. Ia menenangkan diri ke sebuah vila dan secara kebetulan bertetangga dengan laki-laki bijaksana yang tidak lain adalah Xi Luhan.
Sejak hari itu, perasaan kagum dalam diri Xiao Zhan semakin menjadi-jadi. Seringkali ia mencari tahu mengenai Xi Luhan, tetapi ada hari di mana sosok itu menghilang seperti ditelan bumi. Tidak ada pembahasan mengenainya. Hal itu juga yang secara tidak sadar memicu keinginan Xiao Zhan bekerja di Wang Corp. Namun, bukan berita mengenai Xi Luhan yang didapat, justru setiap masalah yang membuatnya secara bertahap melupakan tujuan itu.
Tidak ada penyesalan dalam diri Xiao Zhan ketika ia sadar bahwa ia mulai menenggelamkan sosok yang dianggap pahlawan dalam dirinya karena ia bertemu dengan Wang Yibo yang juga memberikan perasaan sama. Meski begitu ia tetap tidak siapa ketika memikirkan bahwa mereka bertemu lagi dengan urusan yang agak egois.
Duduk di kursi samping ranjang rumah sakit dan tidak melepaskan tatapan dari sosok Xi Luhan. Wajah laki-laki itu tampak pucat dengan manik mata sayu. Jelas mengatakan bahwa situasinya benar-benar tidak baik.
“Luhan Ge, bagaimana keadaanmu? Apa sangat parah?” ia bertanya dengan nada khawatir yang tulus dikatakan dari lubuk hati.
Xi Luhan menanggapi dengan senyum tipis yang tampak lelah, lalu berkata dengan suara rendah, “Tidak buruk. Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?”
Alih-alih memberi jawaban, Xiao Zhan mengalihkan perhatian ke arah lain berusaha menghindari menatap langsung pada Xi Luhan. Bagaimana caranya mengatakan yang sesungguhnya? Di dalam hati Xiao Zhan menghela napas panjang, ia juga merutuki tindakan gegabahnya. Jika saja mencari tahu idntitas orang ini terlebih dulu sebelum bertindak, mungkin kerumitan ini tidak akan terjadi.
Ya, seharusnya Xiao Zhan tidak bertindak berdasarkan emosi sesaat, tetapi menggunakan logika seperti ketika berurusan dengan pekerjaan.
Kerumitan di wajah Xiao Zhan seakan dapat dilihat dengan jelas oleh Xi Luhan, melihat gerakgeriknya yang agak canggung, dan cara menghindar dengan kaku, memberitahu Xi Luhan bahwa ada sesuatu yang tidak benar. Mengingat kembali reaksi terkejut Xiao Zhan ketika pertama kali melihatnya berbalik, menambah poin kecurigaan Xi Luhan.
“Hei, namamu Xiao Zhan, ‘kan?”
Xiao Zhan terkejut mendengar pertanyaan tiba-tiba itu. Ia menganggukkan kepala sebagai jawaban.
“Zhan, tujuan utamamu datang bukan untuk menjengukku, ‘kan?” tanya Xi Luhan lagi sembari terus-menerus memberi perhatian pada reaksi Xiao Zhan. Ketika melihat pihak lain tidak memiliki penolakan, ia kembali melayangkan pertanyaan lain. “Kamu juga tidak tahu kalau aku di sini, ‘kan?”
Lagi, tidak ada tanggapan dari laki-laki itu. Ia hanya menatap kosong pada lantai ruangan, tetapi manik matanya menunjukkan sedikit rasa gelisah bercampur panik, ada juga emosi tidak jelas. Xi Luhan menghela napas seakan memahami sesuatu.
“Jadi, apa tujuan kamu datang ke sini?” Nada suaranya tidak banyak berubah, meski tidak seramah sebelumnya. Xi Luhan tidak berpikir bahwa laki-laki di depannya itu memiliki niat buruk. Walaupun samar-samar diingat, Xi Luhan masih dapat membayangkan sosok Xiao Zhan di masa lalu. Ada ingatan kecil mengenai pertemuan dan pembicaraan sederhana di antara mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Cold Season ✓
FanfictionUntuk sebagian besar hidupnya, Xiao Zhan merasakan ketidakberuntungan yang teramat besar. Setiap luka baru akan muncul di sisa-sisa malamnya. Luka yang membuatnya mengerang sakit akibat rasa ngilu yang menyentuh hatinya. Dia selalu menggigil di set...
