Bagian 29

1.1K 173 17
                                        

BAGIAN 29 Pleasure Hunting

Pagi berikutnya Xiao Zhan bangun sama seperti ketika hari pertama mereka tidur di tempat yang sama. Dia berada pada jarak yang sangat dekat, bahkan menempel, dengan Wang Yibo. Laki-laki itu tidur dalam posisi yang miring menghadap ke arahnya sehingga telinga Xiao Zhan berada tepat di jantung pihak lain. Mendengar detakan yang stabil dan tenang, tetapi jantungnya sendiri tidak tenang.

Xiao Zhan berusaha bergerak menjauh dengan cara menggelinding ke sisi lain. Pergerakannya tidak mulus, baru akan berbalik saja rasa sakit di pinggang tiba-tiba menyerang. Dan dia tidak bisa menyembunyikan rintihan yang cukup nyaring sambil memegang pinggang.

“Ada apa?”

Suara magnetik yang serak melewati telinganya. Xiao Zhan sedikit mendongakkan kepala dan bertemu tatap dengan manik tajam Wang Yibo. Menggelengkan kepala, bibir menampilakn senyuman tipis. “Bukan apa-apa,” jawabnya cepat. Kembali berusaha menjauh.

Namun, Wang Yibo menahannya. Membuka selimut yang menutupi tubuh Xiao Zhan. “Berbalik!” dia berkata dengan nada memerintah.

Belum cukup bagi Xiao Zhan untuk terkejut setelah melihat tubuhnya yang tak mengenakan satu lembar pakaian pun selain ditutupi selimut yang telah disingkapkan. Lalu, kembali terkejut oleh perintah tiba-tiba. Meskipun pinggangnya terasa sakit, tetapi dia memaksakan diri untuk berbalik. Menampilkan punggung di depan Wang Yibo.

Laki-laki itu bergerak ke tepi tempat tidur, meraih sebuah salep pereda nyeri dari dalam laci. Mengoles pada pinggang Xiao Zhan dan bagian-bagian yang terasa nyeri, memberikan pijatan ringan, dan mengelus lembut.

Xiao Zhan yang merasa nyaman tanpa sadar memejamkan mata dan kembali terlelap. Selain rasa nyaman, dia juga merasakan kehangatan yang membungkus. Menambah kantuk yang menyerang.

Ketika bagun untuk kedua kali, dia mendapati diri dibungkus selimut, berbaring di atas tempat tidur besar seorang diri. Terkejut, dia melonjak dari baringan, duduk, dengan bingung memperhatikan sekeliling, dan mendengar suara air mengalir dari kamar mandi. Hal itu jelas membuatnya merasa lega, menghela napas ringan.

Dia turun dari tempat tidur dengan selimut melingkari tubuh, pada saat itu juga pintu kamar mandi terbuka. Sosok tak asing muncul, handuk putih menutupi bagian bawah tubuhnya, beberapa tetes air melekat di tubuh.

“Kamu sudah bangun,” kata Wang Yibo. Mengernyitkan kening melihat Xiao Zhan berdiri dengan selimut menutupi keseluruhan tubuh kecuali kepala. Lucu. Bukankah mereka sudah melihat tubuh satu sama lain? Jadi, mengapa harus malu-malu dan menutupi diri?

Namun, Wang Yibo tidak mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. “Jika masih sakit tidak perlu ikut rapat. Istirahat saja.” Nada suaranya pelan dan terkesan lembut.

Xiao Zhan merasa hangat di hatinya. Dia tersenyum kecil, menggelengkan kepala, lalu menjawab, “Tidak. Aku baik-baik saja. Aku akan ikut rapat.”

Wang Yibo menganggukkan kepala. “Kalau begitu cepat bersiap,” dia berkata sambil berjalan melewati Xiao Zhan menuju lemari dan mengambil pakaiannya.

Rutinitas hari itu tidak banyak berbeda dengan di hari pertama rapat. Materi di sampaikan secara cepat dan ringkas, sangat padat juga mudah dipahami. Mereka kembali di jam empat sore, lalu melakukan perjalanan ringan di sekitar hotel. Hal itu terulang hingga hari ketiga rapat. Seusai menghadiri rapat, mereka menghabiskan sisa waktu sesuai dengan catatan Xiao Zhan, menginjungi tempat-tempat populer, rumah makan, pekan raya, dan lain sebagainnya.

Pada akhirnya, Xiao Zhan tidak jadi memesan kamar terpisah. Meskipun sempat di pesan, dia yakin jika sepanjang malam selama di sana, waktunya akan dihabiskan di kamar Wang Yibo. Jadi, daripada membuang-buang uang lebih bijak bagi mereka untuk tetap bersama.

Di hari keempat, hari terakhir rapat, jam pulang mereka sangat cepat. Bahkan sebelum makan siang semua orang sudah keluar dari ruangan dan dibebaskan untuk melakukan apa pun yang diinginkan termasuk pulang ke perusahaan masing-masing.

Jika ini di masa lalu, Wang Yibo tidak akan ragu untuk pulang dan mengurus pekerjaan lain di kantor. Baginya, waktu seharusnya dihabiskan untuk sesuatu yang berguna,  sesuatu yang dapat menghasilkan uang, dan sesuatu yang bisa mengalihkan isi kepalanya.

Libur dan bersantai cukup dilakukan di akhir pekan, itupun tidak benar-benar dalam kondisi santai. Faktanya, dia sering kali menghabiskan waktu sambil memeriksa beberapa pekerjaan melalui laptop sambil menemani kekasihnya di apartemen.

Namun hari ini jelas berbeda, selain tidak kembali seusai rapat selesai, dia juga bersedia mengikuti orang lain untuk bersenang-senang. Jika teman-temanny tahu, mereka pasti akan mencibir dan mengatakan beragam kalimat ejekan.

Wang Yibo mengikuti Xiao Zhan kembali ke kamar untuk berganti pakaian dan melakukan persiapan perjalanan, membawa kamera dan memesan apa yang perlu dipesan. Xiao Zhan lebih dulu menggunakan kamar mandi, disusul oleh Wang Yibo.

Akibatnya, ketika Wang Yibo keluara, dia melihat tampilan berbeda sosok Xiao Zhan. Laki-laki itu mengenakan pakaian kasual. Baju kaos lengan pendek berwarna putih, celana jin panjang yang tidak ketat, tetapi memperlihatkan kaki jenjang dengan bagian bawah tertutup sepatu sport putih. Sebuah kamera lawas menggantung di leher.

Sementara Wang Yibo, tidak membawa pakaian kasual karena pikir semua orang jika dia tidakl akan melakukan perjalanan seperti ini, dia menyelimuti tubuh bagian atas dengan kemeja baby blue dan celana satin abu-abu gelap. Lengan kemeja digulung hingga sebatas siku, sehingga meskipun mengenakan pakaian formal tetap terlihat santai.

Secara keseluruhan, penampilan mereka tampak seperti guru muda dan siswa sekolah menengah yang akan melakukan study tour.

Mereka siap untuk berangkat. Xiao Zhan mengambil jaket di atas sofa, membungkukkan badan, dan membuat kacamatanya bergeser ke bawah. Jari-jarinya secara alami bergerak ke pangkal hidung untuk menahan kacamata agar tidak jatuh dan membenarkan posisi ketika dia sudah berdiri tegak.

Setiap gerakan itu tak luput dari perhatian Wang Yibo, membuatnya merasa agak risih karena menganggap merepotkan. “Kacamata itu tidak terasa nyaman, bukan?” dia melayangkan pertanyaan dengan tatapan terganggu.

Xiao Zhan tidak mengatakan ya juga tidak menyangkalnya, tetapi ekspresi tempak jujur dan setuju akan kenyataan bahwa menggunakan kacamata besar cukup merepotkan. Namun, untuk beberapa alasan membuatnya ragu melepas benda itu. Dalam keraguan suara meyakinkan kembali memenuhi indera pendengaran.

Sosok dewasa berkata, “Lepas saja jika tidak nyaman, itu tidak akan menimbulkan masalah. Lagi pula kamu pergi bersamaku, apa yang perlu ditakutkan?”

Reaksi pertama yang muncul di wajah Xiao Zhan adalah terkesiap, lalu berubah menjadi ketenangan.

Di masa lalu, setelah rumor bahwa dia seorang homoseksual menyebar di kampus, laki-laki yang bahkan tidak dikenal akan menatap matanya dengan minat terselubung. Banyak yang mengatakan jika matanya memang terlihat seperti seorang penggoda yang mampu menjerat laki-laki sehingga sebagian besar wanita menunjukkan rasa jijik dan penghinaan. Hal itu jelas sulit diterima oleh pemuda yang belum benar-benar dewasa.

Mendengar seseorang yang mengatakan kalimat menyenangkan dalam keputusasaan untuk hidup seperti yang diinginkan merupakan satu dari banyak harapannya saat itu. Dan sekarang, meski telah  bertahun-tahun berlalu, akhirnya terwujud. Xiao Zhan tidak bisa tidak merasa senang dan rasa aman perlahan memenuhi hati.

Dia melepaskan kacamata, menatap antusias pada Wang Yibo, menganggukkan kepala, dan tersenyum.


.....


Awal musim gugur di Jepang umumnya tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, tergantung pada kondisi cuaca. Kebetulan siang itu panas, tetapi tidak terlalu ekstrem, masih bisa ditoleransi oleh kulit, membuat mereka tidak merasa tidak nyaman ketika menunggu bus di halte.

Sejak awal, Xiao Zhan sudah memutuskan akan melakukan perjalanan singkat di negara itu menggunakan transportasi umum dan meniru perilaku sehari-hari penduduk lokal. Di sisi lain, Wang Yibo tidak bisa menolak. Dia sudah menawarkan mobil sewaannya untuk dipakai.

Namun, dengan tegas Xiao Zhan menolak. Laki-laki itu bahkan mengatakan, “Ini adalah perjalanan yang sulit didapatkan di kesempatan kedua, lebih baik dinikmati.”

Wang Yibo tidak menyangkal. Apa yang dikatakan laki-laki itu sangat jelas.

Setelah menunggu sekitar 15 menit, bus akhirnya muncul dan berhenti tepat di depan mereka. Ada beberapa orang juga yang ikut masuk di halte tersebut, di dalam bus sendiri sebagian besar kursi sudah terisi oleh penumpang.

Karena Xiao Zhan dan Wang Yibo masuk dalam golongan orang muda, secara otomatis mereka berdiri ketika seluruh kursi telah ditempati. Orang-orang yang berdiri tidak banyak, tetapi hampir semua berdesakan di belakang, area yang dekat dengan pintu.

Wang Yibo berdiri tepat di jajaran paling terakhir, Xiao Zhan berada di depannya. Seorang pria kisaran 30-an lebih berdiri tak jauh dari mereka, terus memperhatikan Xiao Zhan yang melihat penuh antusias keluar jendela bus. Mata melebar dengan ekspresi kagum, membuat pria asing tidak bisa melepaskan tatapannya.

Ketika menyadari tatapan pria di sampingnya, Xiao Zhan merasa tidak nyaman. Dia sedikit mencondongkan tubuh ke arah Wang Yibo, berusaha mengabaikan orang lain.

Penolakan terang-terangan itu tentu saja disadari oleh pria asing dan membuatnya agak buruk karena tidak bisa melihat mata berbinar lagi. Dia mengulurkan tangan hendak memegang pundak kecil laki-laki itu, tetapi Wang Yibo segera meraih pinggang Xiao Zhan dengan posesif. Secepat yang dia mampu mengubah posisi mereka, dia berada di antara Xiao Zhan dan pria asing.

Sebelum berfokus pada Xiao Zhan, Wang Yibo melayangkan tatapan tajam yang dingin di wajah datar seolah mengklaim kepemilikannya. Hal itu membuat pria asing merasa malu dan semakin buruk, terburu-buru menghadap ke arah berlawanan untuk menghindari pandangan Wang Yibo.

Museum sejarah adalah tempat pertama yang muncul di kepala Xiao Zhan ketika dia mempersiapkan perjalanan hari ini, tetapi karena tempatnya yang berlawanan dengan arah sungai, museum itu segera dicoret dari daftar. Tujuan pertama mereka berubah menjadi taman musim gugur. Lalu menjelang pergantian hari mereka akan pergi ke sungai untuk menyaksikan festival musim gugur.

Pohon sakura yang rimbun dikelilingi kolam besar, dan pantulan pohon tercermin di atas air kolam yang hijau. Ada banyak kelopak bunga yang mengambang di atas air dan daratan, angin bertiup lembut memberi kesejukan.

Dilihat dengan hati-hati, terdapat jalan yang rumit dengan beberapa lampu sorot diatur di samping. Semakin jauh melangkah, ada bangunan klasik berdinding merah dan ubin hitam. Kolom merah diukir dengan batu giok dan pola emas klasik, orang bisa merasakan bahwa mereka benar-benar melintasi waktu ke masa lalu.

Xiao Zhan menggunakan kameranya untuk mengabadikan pemandangan tersebut, membidik dan mengambil beberapa foto ikonik. Kemampuan fotografinya tidak begitu baik, tetapi karena dia seorang desainer secara umum memiliki selera yang baik dalam seni. Wang Yibo melihat hasilnya dan memberikan pujian.

Sekitar pukul tiga, mereka mengunjungi bangunan klasik kainnya. Terus berjalan dan aktif mencari spot foto membuat Xiao Zhan lelah, kakinya goyah dan wajah pucat seperti ayam tiren.

Wang Yibo bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi?”

Dengan lesu dia menjawab, “Tangki darahku hampir kosong.”

Jawaban itu jelas membuat pendengarnya merasa geli. Berpikir tentang lelucon pertama yang dikatakan Xiao Zhan pada Wang Yibo terjadi di saat-saat seperti ini. Dengan tergesa-gesa menuju bangunan klasik yang lebih besar, Xiao Zhan mengatakan bahwa tangki darahnya hanya tersisa 30 sel darah dan akan berkurang setiap kali dia mengambil lima langkah. Wang Yibo tidak bisa berkata-kata selain menilai dalam hati betapa kekanakan dan cerewetnya laki-laki yang tampak pendiam itu.

Tiba di tempat tujuan, Wang Yibo mengarahkan Xiao Zhan untuk duduk di kursi yang tersedia bagi pengunjung dan menyaksikan beberapa tarian tradisional, sementara dia mengambil alih kamera dan mulai memotret. Bangunan itu seperti sebuah arena pertunjukan dan ada beberapa lukisan jaman dulu di samping. Kurang dari satu menit, bangku itu penuh dengan orang, tetapi di menit berikut kembali kosong. Orang-orang berdiri dan melangkah maju menuju area lapang untuk menyaksikan sekelompok penari beraksi bak pasukan Samurai.

Wang Yibo kebalikannya, menghampiri Xiao Zhan dan duduk di bangku sebelahnya.

“Ge, kamu tidak melihatnya?” Menunjuk ke arah arena pertunjukan.

“Tidak.”

“Mengapa? Apa kamu juga lelah?”

“Tidak.”

Kening Xiao Zhan mengerut tak paham. “Jika tidak lelah, lihatlah. Sulit untuk datang ke sini dan sayang jika dilewatkan.”

“Samurai itu semuanya sama, tidak sedap dipandang.”

Mendengar itu Xiao Zhan tersenyum aneh. Menekan tombol kamera untuk menelusuri foto yang diambil Wang Yibo. Gambar-gambar itu diambil dari jarak dekat dengan sangat hati-hati dan cermat, seluruh gambar memiliki perbedaan sudut membuatnya terkesan indah. Bahkan potret beberapa orang yang berpakaian sama seperti saudara kembar dengan jumlah banyak tidak terlihat membosankan dalam foto.

Beralih ke foto terakhir, Xiao Zhan mengacungkan jempol dan memuji, “Teknik foto Yibo Ge sangat bagus!”

Wang Yibo mengangguk dalam diam, menyetujui perkataan Xiao Zhan tanpa merendahkan hati. Memang beralasan untuk sombong.

Setelah beberapa saat, tangki darah Xiao Zhan penuh, semangatnya pulih. Mereka kembali menyusuri jalanan yang berbeda untuk keluar dari taman dan bergegas menuju halte bus. Tujuan selanjutnya adalah festival musim gugur di sungai.

Ketika menaiki bus, sinar matahari sudah kemerahan dan menembus kaca, memantulkan warna yang indah. Xiao Zhan berdiri seperti saat berangkat, memegang kamera dan mengambil gambar. Bus bergerak mulus dan stabil untuk beberapa waktu, lalu tiba-tiba berhenti. Xiao Zhan yang sedang mengambil gambar tidak memiliki keseimbangan, tubuhnya maju ke depan dan menabrak Wang Yibo. Untungnya sosok yang berdiri di depan bukanlah orang asing.

Manik mata Xiao Zhan menunjukkan penyesalan. “Maaf.”

Wang Yibo tidaak banyak bereaksi. Mengangguk ringan dan memperingatkan, “Perhatikan keselamatan.”

Xiao Zhan memperhatikan peringatan itu, melepas kamera, dan meraih pegangan di atas kepala. Tidak lagi mengambil gambar, hanya mengagumi dengan mata telanjang, dan berusaha menyimpan pemandangan tersebut dalam ingatannya.

Bus kembali melaju, suasananya jauh lebih sesak dibandingkan ketika berangkat. Kebanyakan dari orang-orang adalah mereka yang baru kembali bekerja, menampilkan wajah lesu. Semakin banyak yang menaiki bus, semakin dekat jarak antara mereka, semakin cepat jantung Xiao Zhan berdetak. Pucuk telinganya mulai memerah dan hanya mampu berharap detak jantungnya tidak terdengar orang lain.


....


Langit sudah sepenuhnya gelap, matahari tenggelam bersama kehangatan yang perlahan tergantikan udara dingin. Turun dari bus, Xiao Zhan mengencangkan jaketnya, angin musim gugur membuatnya menggigil. Berbeda dengan Wang Yibo yang tampak santai menggunakan kemeja tipis, tubuhnya tidak terpengaruh cuaca  dingin seperti sudah biasa.

Mereka berjalan ke area festival berlangsung, toko-toko makanan jalanan sudah mulai beroperasi sejak sore. Banyak orang yang berkunjung, baik penduduk lokal maupun pendatang. Suasananya ramai dan hangat oleh lampu neon berwarna kuning kemerahan yang terpasang di sepanjang jalan.

Kebanyakan makanan yang dijual berbahan dasar umbi-umbian, labu, jamur matsutake, salmon, kastanye Jepang, dan makanan musiman lainnya.

Xiao Zhan memiliki stok semangat dalam jumlah besar. Pertama, dia berlari ke salah satu stan makanan yang menjual takoyaki panas, memesan satu porsi dan mencobanya di tempat. Rasa makanan itu berbeda dengan yang biasa dia nikamati di negaranya, entah karena pengaruh tempat atau pembuatnya. Dia terus-menerus memuji kelezatan makanan di mulutnya.

Satu porsi kecil diisi oleh tiga takoyaki, Xiao Zhan sudah memakan satu, dia melirik ke arah Wang Yibo yang berdiri di samping belakang. Menyodorkan makanan itu dan bertanya, “Ge, mau?”

Wang Yibo melirik pada takoyaki yang diulurkan padanya, lalu beralih ke wajah laki-laki yang memegang makanan itu. menyetujui tanpa bersuara, dia membuka mulut, dan membiarkan orang lain mendorong masuk makanan ke dalam mulut. Tidak mengatakan sepatah kata pun, baik pujian maupun kritik. Xiao Zhan agak bingung dengan kesan Wang Yibo terhadap rasa makanan itu, tetapi melihat ekspresi yang tidak menolak, tidak seperti dia tidak menyukainya, membuat Xiao Zhan menghela napas dalam hati.

Karena belum puas, Xiao Zhan berencana memesan lagi, tetapi dicegah oleh Wang Yibo.

“Jangan makan terlalu berlebihan, masih ada banyak makanan yang harus dicoba.”

Mendengar itu, Xiao Zhan tiba-tiba mengingat tujuan utama kedatangannya. Pandangan matanya menyapu sekeliling dengan antusias dan memutuskan untuk pergi setelah memberikan beberapa koin uang pada penjual takoyaki. Tanpa sadar menarik tangan Wang Yibo menuju stan selanjutnya. “Ayo, kita harus mencoba semua makanan yang ada di sini.”

Antusiasnya sangat besar membuatnya berlari dari satu stan ke stan lainnya, menikmati satu per satu makanan, dan memberikan ulasan lisan. Terkadang berdiskusi ringan dengan Wang Yibo dalam memberi tanggapan. Karena terlalu bersemangat, dia tidak benar-benar memperhatikan jalannan yang semakin ramai. Tak sengaja menabrak seorang pemuda.

Tubuh yang ditabraknya sangat tinggi dengan otot tercetak dari kaos yang tertiup angin. Laki-laki itu kuat dan sulit digoyahkan, karena itulah Xiao Zhan, sebagai penabrak, terpengaruh dan membuatnya mundur beberapa langkah. Hampir terjatuh jika saja Wang Yibo tidak menahan pinggangnya dan menarik ke arahnya.

Merasa bersalah, Xiao Zhan menegakkan tubuhnya, dan sedikit menundukkan kepala. “Maafkan saya, Tuan,” ucapnya tulus.

Laki-laki yang ditabrak itu menurunkan pandangannya, terkejut oleh reaksi terlampau sopan. Dia mengulurkan tangan untuk menarik bahu Xiao Zhan, mencegahnya terlalu lama menunduk. “Jangan terlalu formal, aku tidak mengalami kesulitan hanya karena dorongan kecil.”

Xiao Zhan mengangkat pandangannya untuk melihat laki-laki itu dan menampilkan senyum tipis di bibir. “Terima kasih,” ucapnya lagi. Mata mereka saling menatap satu sama lain.

Pegangan di bahunya mulai mengeras dan tidak lepas dalam waktu beberapa detik, membuat Xiao Zhan kurang nyaman, tetapi tidak enak untuk menyuruh orang itu melepas tangannya.

Laki-laki itu terlalu terpesona dan larut dalam pikirannya yang kosong sejak melihat mata Xiao Zhan.

Di sisi lain, Wang Yibo juga merasa jengkel. Tanpa sadar meraih pergelangan tangan laki-laki asing yang ditabrak Xiao Zhan, menjauhkan tangan itu sedikit kasar, dan kembali meraih pinggang Xiao Zhan dengan posesif, membawa ke sisinya.

Pergerakan itu menyadarkan laki-laki asing, membuatnya merasa kehilangan. Dia mengalihkan perhatian pada sosok yang menarik entitas kecil di hadapannya dan bertemu tatap dengan mata dingin. Terkejut untuk beberapa saat sebelum kembali menormalkan ekspresi. “Maaf,” ucapnya pada Wang Yibo dengan nada agak tak biasa.

Laki-laki asing itu bergerak maju dan hendak pergi, tetapi berhenti di sisi mereka, sejajar. Mencondongkan wajah tepat di samping telinga Xiao Zhan dan membisikkan sesuatu sebelum benar-benar membawa langkah menjauh.

Xiao Zhan terkesiap, beberapa detik merasa kosong sampai pinggangnya dibebaskan oleh tangan yang melingkar.

“Apa yang dia katakan?” Wang Yibo bertanya. Reaksi diam Xiao Zhan membuatnya penasaran.

“Dia bilang ‘sampai jumpa lagi’.” Penjelasan Xiao Zhan biasa saja karena pikirnya itu tidak mungkin terjadi, besok malam dia sudah meninggalkan negara ini. Kalaupun mereka akan bertemu lagi, kemungkinan terjadi hanya beberapa persen dengan jumlah kecil.

Usai itu mereka kembali melanjutkan kegiatan sebelumnya. Kebanyakan yang menikmati setiap makanan itu adalah Xiao Zhan, dia juga selalu mengutarakan komentar pada Wang Yibo, membicarakan dengan antusias.

Perlahan kecanggungan di antara mereka mulai mencair. Semakin banyak waktu yang dihabiskan bersama, semakin sering interaksi terjadi, semakin mereka membuka diri, dan mulai memahami.

Setelah puas berkeliling dan mencicipi aneka makanan, mereka kembali ke hotel menggunakan bus. Beristirahat sepanjang malam dalam kondisi tubuh yang letih membuat waktu berjalan sangat cepat.

Keesokan paginya bangun dalam keadaan baik meskipun cukup terlambat. Mereka memutuskan untuk mengunjungi museum menggunakan mobil pribadi pada jam 10 pagi, berkeliling mencari sesuatu yang bisa dibawa pulang, dan memilih makan di luar area hotel.

Pada jam 2 siang kembali ke hotel untuk mengepak pakaian. Tidak seperti ketika akan berangkat, kali ini mereka melakukannya bersama. Xiao Zhan yang menyusun ke dalam koper, sementara Wang Yibo menyiapkan setiap barang yang akan dibawa pulang. Suasana di antara mereka sangat hangat dan akrab, meskipun tidak banyak pembicaraan.

Secara aktif, Xiao Zhan yang memulai percakapan dan Wang Yibo akan mendengar dengan saksama, sesekali memberi tanggapan. Sesuai karakternya, Xiao Zhan memang tipikal tidak banyak berbicara bahkan terkesan pendiam kepada orang yang tidak dekat dengannya, sebaliknya akan sedikit lebih cerewet jika sudah akrab.

Hal itu tidak mengejutkan bagi Wang Yibo, dia sudah bertemu dengan seseorang yang seperti Xiao Zhan, bahkan mengenal dalam waktu lama. Jadi, ketika karakter Xiao Zhan sedikit demi sedikit terungkap, tidak ada kekecewaan sama sekali. Wang Yibo juga dapat dengan mudah beradaptasi dan terbiasa.

Pesawat yang mereka tumpangi akan berangkat pada pukul 1 dini hari, sehingga masih ada waktu untuk beristirahat hingga pukul 7 malam.

Xiao Zhan melihat-lihat hasil fotonya dalam dua hari terakhir. Ketika mendapatkan sebuah foto menarik, didapatkan secara tidak sengaja ketika berada di dalam bus kemarin sore. Itu adalah siluet samar dari tubuh bagian belakang seseorang, sinar matahari yang kemerahan menyapu pundak tegapnya, penampakan suasana isi bus pun ikut tersorot kamera walau hanya sebagian. Xiao Zhan memilih untuk mengunggah foto tersebut, setelah melakukan beberapa perubahan agar tidak terlalu mencolok dan mudah dikenali orang lain.

Punggung_tegap_diselimuti_matahari_sore.JPG
{Matahari terbenam di Jepang sangat indah, wajib dikunjungi pada musim gugur.}

The Cold Season ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang