Citra seorang nenek tua yang hidup sebatang kara, tak mempunyai sanak keluarga, hidup semasa muda hanya berfokus pada harta dan berkerja, hingga di akhir kematiannya terbaring sepi di temani hampir 30 pelayan yang mengabdi selama bertahun-tahun pada...
Hai Semua Selamat datang di cerita baruku, Aku dapat tantangan dari temanku untuk menyelesaikan 1 cerita dalam satu bulan. Jadi buat kalian yang berlangganan cerita aku yang lain, tolong ramaikan cerita ini juga ya.
Makasi sebelumnya😃
{ Dukungan kalian sangat berarti untukku }
♡♡♡
PROLOG
♡♡♡
Reruputan merambat di dinding-dinding usang sebuah rumah tanpa penghuni, rumah dua lantai yang berada tepat di belakang perumahan mewah bergaya eropa.
Rumah ini seharusnya elegan sebelum sebagian besar hangus terbakar, rumah terpencil yang memiliki lahan luas berhektar-hektar.
Dulu lahan yang kosong ini akan terisi tanaman bahkan taman umum bagi semua orang, namun kejadian satu tahun silam bukan hanya menghanguskan rumah. Tetapi juga hal-hal yang ada di sekitarnya.
Membuat orang yang kadang setiap sore dan juga hari libur berada di sini guna berjalan-jalan atau membawa anak mereka bermain, kini tak ada lagi.
Sekarang hanya ada kegersangan dengan bekas-bekas terbakar yang masih tersisa.
Tampak horor dalam satu tahun tanpa di huni, karena banyaknya semak-semak merambat di sekitarnya.
Beberapa orang baru saja datang dan sibuk menurunkan kawat-kawat tanjam yang telah tersusun menjadi sebuah pagar dari truk besar.
Tanpa mereka sadari ada dua mahluk kecil yang sendari tadi mengawasi semua yang di lakukan oleh orang-orang itu.
Kemarahan, kekecewaan, kesedihan, penderitaan dan keputus asaan yang kini akan menjadi dendam yang harus di tuntaskan.
"Semua berawal dari mereka dan akulah yang akan mengakhirinya. Duka ini telah merenggut masa kecilku. Jadi hidupku hanya ada satu tujuan saja... Membalas mereka semua." Seorang gadis yang seharusnya ceria dan apa-adanya kini berubah menjadi seorang yang penuh ambisi balas dendam dan hanya dalam sekejap semuanya berubah.
"La, Lala harus ingat kamu masih kecil, gimana caranya membalas mereka yang sudah dewasa. Lagi pula kamu masih punya kembaran, jadi fokus saja pada masa depan kalian. " Ucap seorang anak laki-laki yang amat tampan di usia mudanya ini.
"Papa yang selalu memberi bahagia bagi semua orang. Mama yang lembut dan perhatian. Abang dan kakak yang selalu meluangkan waktu untukku dan seudara kembarku. Mereka semua di renggut dariku, jadi bagaimana aku bisa diam di saat aku sendiri melihat mereka di renggut dariku?." Matanya yang merah, melelehkan butiran-bitiran air mata yang kini membasahi pipi tirusnya yang tampak kusam oleh arang dan debu-debu.
Gadis itu tampak tak terawat dengan tubuh kurus yang kotor oleh debu-debu di sekitarnya, seakan ia tak pernah berbenah diri.
"Maafkan aku La, aku tak berguna untukmu dan juga lita, namu aku akan selalu menompang kalian... Itu janjiku padamu." Seorang anak laki-laki berumur tujuh tahun membuat sumpah pada seorang anak perempuan.
"Aku ingin memitah satu hal padamu. Ku mohon jagalah lita, sampai aku kembali. " Lala memberikan jari kelingkingnya dengan sungguh -sungguh pada anak laki-laki yang ada di depannya.
"Aku berjanji. " Anak laki-laki itu menyambut jari kelingking Lala. "Aku akan menjaga kalian berdua sampai aku menua. " Lanjutnya.
♡♡♡
Bugh
Lita, gadis kecil itu terduduk di lantai setelah di dorong oleh bibiknya sendiri. Di samping bibiknya ada seorang anak sebaya denganya yang tengah menatap polos ke arahnya.
"Kamu... Apa yang kamu lakukan pada Sera hah." Lita yang masih terduduk menatap penuh amara pada kedua orang yang berdiri menjulamg di depannya.
"Kau tak punya mata, aku tak melakukan apapun pada anak kesayanganmu itu bibik tua." Ucapnya yang sedikit berteriak.
"Tapi kau menarik rambutku, ini sakit mom. " Ucap anak kecil bernama Sera tersebut pada ibunya dengan menunjulan rambutnya dengan wajah polos.
"Tarik rambutnya kembali Sera." Mendengar apa yang Bibik tuanya katakan, membuat Lita bergegas berdiri dan berlari ke arah kamarnya yang berada di lantai atas.
Ini selalu saja terjadi, ia sudah lelah dengan semuanya, di saat anak-anak sebaya dengannya sedang bermain. Berbanding terbalik dengannya yang selalu berkerja layaknya pembantu di rumah pamannya sendiri.
Ia iri dengan Sera yang selalu di manja dan juga di sayangi oleh kedua orang tua dan kakak-kakaknya.
Dulu ia juga begitu, memiliki papa, mama, kakak dan juga kembaran. Namun kejadian setahun lalu bagaikan mimpi buruk baginya.
Semuanya pergi dan meninggalkannya seorang diri, di tempat bagaikan neraka ini.
Ia belum banyak mengerti tentang dunia, ia hanya seorang anak kecil yang butuh bimbingan orang dewasa.
Namun satu yang pasti, ia akan menerapkan ajaran yang kembarannya perna katakan kepadanya.
"Jangan pernah kau tunjukan takutmu, kau boleh kecil, tapi nyalimu harus besar. Jangan biarkan dirimu tertindas oleh siapapun, menjadi kuat dan tunjukan pada mereka yang menyakitimu bahwa kau tak selemah seperti apa yang mereka bayangkan."
Huft Lita menetralkan napasnya setelah mengunci kamar yang selama setahun ini ia tempati. Melangka ke jendela keci di sudut kamarnya, melihat senja hampir menghilang yang akan terganti oleh gelapnya malam.
Air mata meluru secara perlahan di pipinya, isakan-isakan kecil mulai keluar dari bibir mungilnya yang setengah ia gigit ke dalam. Sembari bergumam penuh harapan.
"Bisakah esok hari setelah membuka mata hal pertama yang kulihat itu kau Ara." Ucapnya sembari memejamkan mata dengan air mata yang terus mengalir, kepalanya ia sandarkan ke kusen jendela. "Ku harap kau ada di sini Ara, Kau tau bukan aku tak setanggu dirimu, datang dan temani aku Ara. " Lanjutnya dan terlelap dalam hilangnya senja di atas langit.
Lanjut gak ni?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.