Lamaran sang pahlawan

14 2 0
                                        

Aku mulai melatih fisik ku semenjak Safira pergi bersama dengan kelompok pahlawan.

Dan tanpa kusadari 6 bulan telah berlalu semenjak Safira pergi.

Hari ini adalah hari kembalinya kelompok pahlawan. Sebuah parade akbar di gelar di alun-alun kota untuk menyambut mereka.

Semua orang bersemangat dengan kembalinya sang pahlawan. Tapi aku bersemangat karena akhirnya aku bisa mendapatkan jawaban ku hari ini.

Akhirnya, yang sudah kutunggu-tunggu. Aku begitu bersemangat.

Ah, itu mereka. Aku melihat Radit dan kelompoknya mengendarai kereta kuda dengan bak terbuka di tengah parade. Sorak sorai bisa terdengar dengan begitu meriah di sekitar alun-alun begitu mereka muncul.

Radit dan lainya melambai-lambaikan tangannya. Mereka semua terlihat gugup. Sepertinya mereka semua tidak terbiasa dengan hal-hal seperti ini.

Rombongan itu terus bergerak melintasi parade hingga akhirnya tiba di kastil kerajaan.

Kelompok pahlawan turun dari kereta kuda. Masuk ke dalam kastil. Naik ke atas teras tempat pengumuman sebelumnya di laksanakan.

"Hari ini sang pahlawan dan kelompoknya baru saja kembali dari petualangannya. " Ucap sang raja. Di sebelahnya ada kelompok pahlawan yang berbaris.

Sang raja kemudian mengucapkan beberapa kalimat sambutan. Hingga akhirnya...

"... Itu saja dari saya... Pahlawan, apakah ada yang ingin anda katakan? " Sang raja bertanya ke pahlawan.

Sang pahlawan terlihat ragu.

"Aku, ada sesuatu yang ingin ku katakan. " Sang pahlawan berjongkok di hadapan semua orang. Dia berjongkok ke arah Safira.

Jangan-jangan! Aku berkeringat dingin.

"Safira Amethyst... Maukah kau menikah dengan ku? " Radit telah melamar Safira.

Sialan! Aku belum mendapatkan jawaban tapi dia sudah di lamar lagi. Aku menggertak-kan gigi ku dengan keras.

Para warga bersorak kesenangan. Mereka begitu senang melihat pahlawan yang melamar seorang wanita.

Sedangkan tidak untuk ku. Aku tidak senang dengan kejadian ini.

Perasaan ku sakit. Aku adalah satu-satunya orang yang bersedih di saat yang lain sedang bahagia saat ini.

"Kakak? " Aulia memegang lengan bajuku. Tapi aku tidak menyadarinya. Aku terlalu jengkel untuk mengurusinya saat ini.

Aku akan menerima apapun jawaban dari Safira. Tapi hal ini benar-benar membuat ku jengkel. Aku sudah tidak tahan lagi. Diriku terbakar oleh emosi.

Aku telah menunggu selama 6 bulan dan ini hasilnya? Sudah jelas aku akan kalah jika di bandingkan oleh pahlawan.

Oleh karena itu setidaknya izinkan aku meneriakkan kalimat ini.

"BRENGSEK KAU PAHLAWAN!!! " Aku meneriakkan kalimat itu dengan lantang di saat yang lainnya sedang mengucapkan selamat. Orang-orang langsung memandangi ku dengan heran.

Safira yang hendak menjawab lamaran sang pahlawan langsung terdiam. Sang pahlawan yang melamar Safira juga langsung berdiri. Penasaran dengan siapa yang baru saja memangil dia brengsek dan apa alasannya.

Dan hanya perlu hitungan detik sebelum beberapa ksatria mendatangi ku.

"Kau, ikut dengan ku! " Salah seorang ksatria itu mengikat tangan ku ke belakang.

"Kakak? " Aulia berteriak dengan panik.

"Seperti yang aku bilang sebelumnya. Aku hanya akan menangis di pojokan hingga hati ku pulih..." Aku melihat ke sekeliling. Beberapa Ksatria mengelilingi ku.

Adam, The Hero ChallengerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang