Waktu terus berlalu selama Silvia dan Ardelia mengobrol di meja resepsi. Entah berapa lama mereka telah mengobrol.
Kaki ku mulai sakit. Aku mengelus-elus lutut ku yang sakit. Hebat sekali mereka bisa tetap berdiri dengan santai. Aku menatap bolak-balik antara Silvia dan Ardelia. Mereka berdua masih tetap mengobrol.
"Kalau begitu sudah dulu ya, Silvia... Kami akan menjual batu sihir kami. " Ardelia mengucapkan salam perpisahan.
Yes! Akhirnya selesai. Aku bergembira dalam hati ku.
"Oh iya, kalian berdua... " Silvia terlihat seperti mengingat sesuatu.
Sekarang apa lagi?... Aku mulai kesal dengan kedua gadis ini.
"Apakah kalian berdua ingin naik rank petualang kalian? " Silvia bertanya.
"Menaikkan rank petualang ya... Memang apa saja yang di perlukan? " Aku bertanya.
"Untuk naik sampai ke rank-D kebawah sih mudah, kau hanya perlu memiliki kemampuan yang cukup. Tapi kalau untuk naik ke rank-C ke atas maka akan ada semacam ujian khusus untuk itu. " Silvia menjelaskan.
"Begitu... Kira-kira apakah kemampuan ku sudah terhitung cukup untuk naik ke rank-D? Harus mengambil quest setiap minggu sangatlah merepotkan. "
"Kemampuan mu lebih dari cukup. Aku bahkan bisa membuat mu untuk ikut ujian untuk naik ke peringkat rank-C ke atas. " Tawar Silvia.
"Rank-D saja cukup. Mungkin aku akan ambil ujiannya kapan-kapan... Ini. " Aku menyerahkan kartu guild ku sekali lagi. Silvia menerima kartu itu.
"Kalung guild nya? "
"Oh benar. " Aku melepaskan kaling guild ku. Menyerahkannya ke Silvia juga.
"Apakah kau tidak ingin naik rank juga Ardelia? " Silvia bertanya ke Ardelia.
"Aku juga?! " Ardelia sedikit terkejut.
"Tentu saja kau juga. " Silvia tersenyum.
Ardelia segera menyerahkan kartu guild dan kalung petualang-nya ke Silvia juga.
"Kalian bisa duduk dulu sambil menunggu. " Silvia menawarkan kami untuk beristirahat.
"Kalau begitu kami akan menjual batu sihir terlebih dahulu. " Jawab aku.
"Oh iya, kau benar. " Ardelia juga setuju.
Silvia segera pergi ke belakang sambil membawa kartu dan kalung petualang kami.
Aku dan Ardelia meninggalkan meja resepsi. Pergi ke bagian tempat penjualan batu.
"Apakah anda akan menjual batu sihir? " Orang di seksi penjualan langsung bertanya begitu kami berdua sampai.
"Iya, ini batunya. " Aku segera mengeluarkan seluruh batu sihir yang ada dalam cincin penyimpanan ku.
"Wah! Anda selalu menjual batu sihir dalam jumlah banyak ya. " Orang itu sedikit terkejut.
"Ya begitulah... " Aku melambaikan tangan ku. Biasa saja.
"Tunggu sebentar, akan kami hitung. " Orang itu dibantu oleh beberapa temannya untuk menghitung batu-batu sihir itu.
Aku bisa mendengarkan beberapa orang berbincang tentang diri ku. Tapi aku memilih untuk mengabaikan semua itu.
"Baik, semua sudah selesai... Batu-batu kecil ini totalnya 19.750 sellar. Untuk yang sedangan ini 20.000 sellar. Dan untuk yang besar ini 60.000 sellar... Totalnya adalah 99.750 sellar. Sebagai bonus akan kami bulatkan menjadi 100.000 sellar. " Orang itu mulai memberitahukan harga penjualannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Adam, The Hero Challenger
AksiyonFirst series. Latar=Dunia Escavor (Dunia Sihir) *** Adam, seorang manusia yang menantang duel sang pahlawan demi memperebutkan cinta. Demi bisa bersaing dia pergi meninggalkan banyak hal. Keluarga, teman, kampung halaman, dan bahkan orang yang dic...
