Aku mulai berlatih sihir di dalam dungeon selama beberapa jam. Hingga akhirnya...
*Buzt... *
Sebuah percikan api muncul dari tangan kanan ku. Tapi segera padam tak lama kemudian.
"Apakah aku baru saja berhasil? " Aku sedikit meragukan mata ku. Jadi aku segera mencoba untuk menggunakan sihir sekali lagi.
*Buzt, buzt... Woosh... *
Kali ini lebih baik lagi. Muncul sebuah bola api kecil dari tangan ku.
Mata ku terbelalak. Akhirnya aku berhasil. Aku memandangi api di tangan ku dengan mata berkaca-kaca.
"Auch, aw, aw, aw, panas... " Aku segera mematikan api itu dan mengkibas-kibaskan tangan ku yang kepanasan.
"Ardelia, Ardelia..." Aku hendak membangunkan Ardelia dan menunjukkan sihir ku. Tapi aku mengurungkan niat itu ketika melihat dirinya yang sedang tidur dengan nyenyak di atas kasur.
Aku berjalan perlahan ke arah Ardelia. Duduk di pinggir kasur secara perlahan.
"Hoammm... Sudah saatnya ganti kurasa. " Aku menguap. Sudah mulai mengantuk.
Aku menggerakkan tangan ku. Menyentuh pipi Ardelia. Sedikit memainkannya.
Apakah pipi wanita memang se-kenyal ini? Aku rasa milik Aulia biasa saja? Aku terus memainkan pipi Ardelia.
Gawat! Sepertinya aku kecanduan. Aku tetap memainkan pipi Ardelia meskipun aku sudah tahu aku seharusnya tidak melakukan itu.
Aku itu pergi karena berebut wanita... Ya meskipun aku tahu bahwa aku akan kalah sih... Aku sedikit merenung. Ganti mengelus rambut Ardelia.
Tapi setidaknya janganlah mencari wanita lain dulu sampai hal itu menjadi pasti. Aku menarik pipi Ardelia dengan kencang.
"Hum? " Ardelia terlihat sedikit terusik.
"Ardelia bangun. Saatnya kau yang berjaga. " Aku terus menerus menarik pipi Ardelia. Membangunkannya.
"Uhm... " Ardelia duduk perlahan-lahan. Rambutnya acak-acakan. Matanya masih sayu. Dia masih belum sadar sepenuhnya.
"Bangun. " Aku menyentil dahi Ardelia.
"Aw. Kau tidak perlu melakukan itu. " Ardelia langsung sadar sepenuhnya begitu aku menyentil dahi-nya.
"Bangun, sekarang giliran ku. " Aku menyuruh Ardelia pergi.
"Sebentar... "
Ardelia tidak melakukan apa-apa. Hanya bengong terduduk di atas kasur. Menatap selimut yang menutup kakinya.
"Ardelia? " Aku memangil Ardelia karena dia bengong terlalu lama.
*Bruk.*
Ardelia kembali membaringkan badannya di kasur.
"Hei! " Aku memprotes Ardelia yang kembali tidur.
"Iya, iya... " Ardelia bangkit. Berdiri di sebelah kasur.
"Kalau kau lapar kau bisa mengambilnya dari dalam peti. Sabun dan shampo juga ada di dalam sana. " Aku menunjuk peti yang ada di sebelah kasur.
"Ya, ya... " Ardelia hanya termenung sambil berdiri di sebelah kasur. Mungkin sedang mengumpulkan energi.
"Hei Ardelia, jangan sampai kau tertidur. Terkadang ada serangan dari beberapa skeleton. " Aku memperingati Ardelia.
"Iya... " Ardelia tetap termenung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Adam, The Hero Challenger
ActionFirst series. Latar=Dunia Escavor (Dunia Sihir) *** Adam, seorang manusia yang menantang duel sang pahlawan demi memperebutkan cinta. Demi bisa bersaing dia pergi meninggalkan banyak hal. Keluarga, teman, kampung halaman, dan bahkan orang yang dic...
