Aku dan Ardelia terus berjalan di dalam dungeon rank-E, dungeon undead.
"Hei, apakah kau sudah bisa? Kau hanya beban jika seperti ini? " Ardelia bertanya. Dia terus menggunakan sihirnya untuk menghabisi skeleton dan zombie yang terus berdatangan.
"Sedikit lagi. " Aku di sebelah Ardelia sedang berlatih cara menembakkan sihir, tapi aku tetap tidak bisa. Sejak awal sihir ku selalu melenceng entah ke mana.
*Whoosshh... Duar...*
Aku mencoba menembakkan sihir sekali lagi. Melenceng mengenai atap dungeon yang jauh di atas. Membuat banyak serpihan batu jatuh ke tanah. Mengenai aku, Ardelia dan para undead.
"Aw! Arahkan sihir mu dengan benar! Itu sakit tahu! " Ardelia marah karena kepalanya terkena serpihan batu.
"Aku tahu itu! Aku sedang mencoba itu disini! " Aku juga balas dengan sedikit emosi.
Ardelia terus menembakkan sihirnya ke undead yang mendekat. Aku terus mencoba menembakkan sihir.
"Huh... " Aku menghembuskan nafas ku. Lelah. Aku menyerah.
"Apa? Kenapa kau tidak lanjutkan? " Ardelia bertanya dengan kesal.
"Ardelia, apakah tidak ada sebuah trik mudah untuk melakukannya? " Aku bertanya. Berharap mendapatkan sebuah trik mudah darinya kali ini.
"Trik... Trik... Trik... " Ardelia berpikir. Tapi dia menggeleng setelah beberapa saat. Tidak tahu.
"Begitu... " Aku menunduk.
Seekor zombie mendekati ku dengan cepat dari belakang. Aku dengan emosi menangkap kepala zombie itu. Mengeluarkan sihir api.
*Wosh... *
Kepala zombie itu terbakar. Zombie itu berusaha memberontak. Tapi tidak berguna, aku tetap meremas kepala zombie itu. Membakar kepalanya.
Zombie itu segera tewas. Berubah menjadi debu dan meninggalkan batu sihir.
Aku menatap batu sihir yang jatuh ke tanah itu.
Aku dan Ardelia saling pandang. Tersenyum lebar. Itu dia.
Jika aku tidak bisa menembakkan sihir, maka aku tidak perlu melakukannya. Aku tinggal mendekati target ku dan mengeluarkan sihir itu.
Aku mulai mendekati para undead yang mendekati kami. Menyentuh mereka dan kemudian mengeluarkan sihir dari telapak tangan ku. Membakar habis mereka.
Ardelia hanya diam dan memperhatikan.
Dalam sekejap aku mampu membakar habis belasan undead yang tersisa.
Aku berjalan mendekati Ardelia dengan bahagia. Aku merasa senang dengan sensasi sihir di tangan ku.
"Kenapa kau cengar-cengir seperti itu? Kau masih belum menguasai sihir. " Ucap Ardelia. Sedikit meledek.
"Setidaknya aku tidak akan menjadi beban lagi saat ini. " Aku membela diri.
"Mungkin kau benar... Tapi tetaplah berlatih menembakkan sihir! " Ardelia mengingatkan.
"Aku tahu itu. " Aku mengangguk.
"Ayo lanjut. " Ardelia mulai berjalan.
"Iya. " Aku mengikutinya dari belakang.
***
Aku dan Ardelia mulai berjalan.
"Hei Ardelia... Apakah menurut mu bisa untuk mengalirkan sihir ke sebuah benda? " Aku bertanya dengan penasaran.
"Entahlah, aku tidak pernah mencobanya. " Ardelia mengangkat pundaknya. Entahlah.
Aku mengeluarkan pedang dari cincin penyimpanan ku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Adam, The Hero Challenger
ActionFirst series. Latar=Dunia Escavor (Dunia Sihir) *** Adam, seorang manusia yang menantang duel sang pahlawan demi memperebutkan cinta. Demi bisa bersaing dia pergi meninggalkan banyak hal. Keluarga, teman, kampung halaman, dan bahkan orang yang dic...
