Yang aku lihat di balik semak-semak itu adalah pemandangan segerombolan besar Goblin yang jumlahnya lebih dari seratus.
Apa yang harus ku lakukan? Aku segera berpikir dengan cepat apa yang perlu kulakukan.
Aku melihat anak panah yang menancap di kaki kanan ku.
Kening ku penuh dengan keringat. Nafas ku kencang tidak beraturan.
Aku memegang anak panah itu. Bersiap mencabutnya dengan ketakutan. Dan...
*Shreck! *
Aku mencabut anak panah itu dengan kencang.
Aku menahan rasa sakit itu.
Aku segera merobek lengan pakaian ku. Mengikatkannya pada tempat yang terkena panah.
"Ardelia! Lindungi aku sebentar. "
Ardelia terlihat kebingungan dengan apa yang ku rencanakan. Tapi dia segera mengangguk. Dia berlari kearah ku dan mulai menghalangi serangan proyektil dari para Goblin menggunakan sihir. Dia juga sesekali menembaki para Goblin dengan sihir miliknya.
Aku berjongkok di belakang Ardelia mengeluarkan sebuah batu sihir dari cincin ku. Itu adalah batu sihir hasil dari mengalahkan Wolf sebelumnya. Dan aku hanya memilikinya satu buah saja.
Aku mulai mengisi energi sihir ke dalam batu sihir itu.
*Krak! *
Batu sihir itu mulai retak.
"Ardelia! Menunduk! "
Ardelia segera menundukkan badan.
Aku segera berdiri dan melemparkan batu sihir itu ke arah gerombolan Goblin.
*Boom! *
Batu sihir itu meledak. Daya ledak nya lebih besar di bandingkan dengan menggunakan batu sihir dari Slime.
Ledakkan batu sihir itu memporak-porandakan barisan para Goblin. Tapi meskipun begitu masih ada sangat banyak Goblin yang tersisa.
Batu sihir ku sudah habis saat ini. Hanya batu sihir tadi-lah yang kumiliki satu-satunya.
"Apa yang baru saja kau lakukan? "
"Tambahkan energi sihir kedalam batu sihir mu. Itu akan meledak. " Aku memberi tahukan informasi itu kepada Ardelia meskipun itu adalah senjata andalan ku. Dalam kondisi seperti ini sulit untuk bertahan hidup jika kau merahasiakan senjata seperti itu.
"Hati-hati! Mereka mulai ke mari! " Aku memaksakan diri ku untuk berdiri. Mengeluarkan pedang dan perisai ku.
"Ardelia! Aku akan melindungi mu. Kau gunakan batu sihir dan sihir mu untuk mengalahkan mereka. " Aku menginstruksikan rencana ku ke Ardelia.
"Bagaimana dengan kaki mu? " Ardelia terlihat khawatir.
"Ini hanya luka kecil. Bersiap! Mereka datang! "
Aku segera memasang kuda-kuda ku.
Darah mengalir keluar dari kaki ku.
Para Goblin mulai berlari mendekati kami.
Aku menangkis anak panah yang datang. Menebas Goblin-Goblin yang datang mendekat.
Ardelia di belakang ku mulai mengisi batu sihir miliknya menggunakan energi sihir. Setelah batu sihir itu retak dia mulai melemparkan batu sihir itu ke arah para Goblin.
*Boom! *
Batu sihir itu meledak.
Aku tidak percaya itu benar-benar bekerja. Ardelia melihat ledakan itu dengan sedikit takjub.
KAMU SEDANG MEMBACA
Adam, The Hero Challenger
AçãoFirst series. Latar=Dunia Escavor (Dunia Sihir) *** Adam, seorang manusia yang menantang duel sang pahlawan demi memperebutkan cinta. Demi bisa bersaing dia pergi meninggalkan banyak hal. Keluarga, teman, kampung halaman, dan bahkan orang yang dic...
