Guru Yang Buruk

3 1 0
                                        

*Nyam, nyam, nyam... *

Aku dan Ardelia saat ini sedang makan di salah satu kamar penginapan kami.

Aku dan Ardelia terus memasukkan makanan ke dalam mulut kami.

*Uhuk! uhuk! uhuk!... *

Aku tersedak oleh makanan.

"Ini." Ardelia segera memberi ku segelas air.

Aku segera menerima segelas air itu. Meneguknya.

"Terima kasih. "

"Makanlah pelan-pelan. Kau belum pulih sepenuhnya. " Ardelia menyuruh ku makan perlahan. Lanjut makan.

"Tentang itu... Aku berencana untuk menaklukkan dungeon rank-E setelah aku pulih... " Aku mulai mengatakan rencana ku.

"Iya, memangnya ada apa dengan itu? " Ardelia bertanya.

"Uhm, aku ingin kau ikut dengan ku. Aku ingin kau melatih ku sihir di sela-sela istirahat."

"Iya, tidak masalah. " Ardelia menyanggupinya.

"Aku juga ingin kau melatih ku sihir di masa-masa pemulihan ku ini. "

"Iya, tidak masalah. "

"Bagus... "

Aku langsung segera menghabiskan makanan ku dengan cepat. Meneguk air minum.

"Kalau begitu ayo mulai sekarang. " Aku segera menggunakan topeng ku dan berjalan keluar kamar.

"Eh! Sekarang?! "

Ardelia juga segera menghabiskan makanannya. Menyusul ku dengan terburu-buru.

Latihan sihir pertama Di mulai.

***
Aku dan Ardelia segera pergi ke halaman belakang penginapan. Tapi...

"Bagaimana bisa kau berlatih jika halamannya penuh dengan kain jemuran seperti ini? "

Halaman belakang penuh dengan kain jemuran. Hampir tidak ada tempat yang tidak ada jemurannya. Pandangan kami bahkan terhalang oleh kain jemuran itu.

Aku menyentuh salah satu kain jemuran itu. Sudah kering. Seharusnya bisa di angkat sekarang.

"Apa yang kalian berdua lakukan di sini? Maling jemuran? "

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang kami. Aku dan Ardelia segera menoleh.

"Astaga Namira! Kau hampir membuat ku jantungan. " Ardelia terlihat terkejut setengah mati.

"Apa yang kalian berdua lakukan di sini? " Namira bertanya. Di sebelahnya ada beberapa keranjang kosong.

"Aku sebenarnya ingin menggunakan tempat ini sebagai tempat latihan... Tapi sepertinya aku harus pindah tempat. " Aku memandangi kain jemuran itu.

"Tidak perlu. Aku berencana mengangkat jemuran-jemuran ini sekarang. " Namira mengambil keranjang di sebelahnya. Mulai memasukkan jemuran yang sudah kering ke dalam keranjang itu.

"Biar ku bantu. " Aku mengambil keranjang lain. Mulai membantu Namira.

"Ardelia... " Aku juga menyuruh Ardelia membantu. Dia dengan berat hati akhirnya ikut membantu.

"Oh iya Ardelia... Aku benar-benar melupakan ini, tapi bukankah kau berasal dari Desa Tilva? " Aku mencari pembahasan.

"Iya, aku memang berasal dari sana. " Ardelia menjawab. Terus bekerja.

"Lalu apakah kau bertemu dengan keluarga mu? " Aku bertanya lagi.

"Tidak bisa di bilang bertemu sih... Tapi aku sudah mengunjungi makam mereka. " Ardelia berbicara dengan santai.

Adam, The Hero ChallengerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang