Ardelia menarik ku keluar penginapan. Dia juga telah berganti pakaian ke pakaian yang lebih pantas untuk berjalan-jalan keluar.
Tujuan Ardelia mengajak ku keluar adalah untuk jalan-jalan keliling Valtia. Dan aku menyetujuinya. Kurasa libur sebulan sekali bukanlah masalah besar.
"Jadi, mau kemana kita? " Aku menanyai Ardelia.
"Entah, aku juga belum pernah keliling Valtia sebelumnya. " Ardelia mengangkat kedua pundaknya. Entahlah.
Kami berdua mulai berjalan tanpa tujuan tertentu. Hanya berkeliling dan melihat-lihat Kota Valtia.
*Sniff, sniff... *
Ardelia mencium bau sedap di udara. Dia berjalan mengikuti bau itu. Aku dengan tenang hanya mengikuti dia dari belakang.
Ardelia berhenti di sebuah stand makanan. Stand itu terlihat menjual daging panggang yang di jual per tusuk.
Aroma dari daging panggang itu sangatlah harum. Aroma itu bahkan menggugah selera makan ku.
"Pak, harganya berapa? " Ardelia menanyai harga daging panggang tersebut.
"Satu tusuknya 25 sellar. " Pria yang menjual itu menjawab pertanyaan Ardelia sambil mengipasi daging yang sedang di panggang.
"Tunggu, apakah kau akan makan lagi? Tapi kau baru saja habis selesai makan. " Aku mengomentari Ardelia yang hendak membeli daging panggang itu.
"Aku lapar, dan aku akan makan ketika aku lapar... Pak, beli 2... Apakah kau mau? " Ardelia menawari ku daging panggang itu.
Aroma daging panggang itu menembus topeng ku. Membuat ku begitu ingin memakannya.
"Tentu saja aku mau. Pak, beli 4." Aku memutuskan untuk membeli 2 untuk diri ku juga.
"Empat itu di satukan, kan? " Penjual itu bertanya. Memastikan pesanan ku.
"Iya, empat itu untuk kami berdua. " Aku mengangguk.
"Oke... Ini dia. " Penjual itu menyerahkan dia tusuk untuk ku, dan dua tusuk untuk Ardelia.
"Totalnya 100 sellar. " Penjual itu menyebutkan jumlah harga yang perlu di bayarkan.
"Tolong pegang ini sebentar. " Aku menyerahkan daging panggang di tangan kiri ku ke Ardelia.
Aku mengambil uang dari kantung ku. Menyerahkannya ke si penjual itu.
"Terima kasih. " Penjual itu menerima uang ku.
Aku dan Ardelia mulai berjalan meninggalkan stand makanan itu.
Ardelia menjulurkan daging panggang yang ku titipkan sebelumnya.
"Sebentar, bagaimana kau akan makan jika kau masih mengenakan topeng mu? " Ardelia menatap ku dengan tatapan penasaran.
"Mudah saja. " Aku sedikit membuka topeng ku menggunakan tangan kiri. Setelah itu aku mulai memakan daging panggang di tangan ku.
Dan ternyata benar saja, rasa daging panggang itu sangatlah lezat. Hukum, langganan baru nih.
Saking lezatnya daging panggang itu aku bahkan hingga tanpa sadar sudah menghabiskannya.
"Selesai." Aku menunjukkan tusuk sate yang sudah kosong di tangan ku. Kembali merapatkan topeng ku.
"Ribet. Kenapa tidak kau lepas saja topeng itu? " Ardelia mencoba meraih topeng ku.
"A, ah, tidak sampai duel berlangsung. Aku sudah bersumpah. " Aku menangkap tangan Ardelia. Mencegahnya meraih topeng ku.
"Terserah mu lah... Lalu bagaimana jika kau perlu untuk makan dengan kedua tangan? " Ardelia mengalihkan pembicaraan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Adam, The Hero Challenger
ActionFirst series. Latar=Dunia Escavor (Dunia Sihir) *** Adam, seorang manusia yang menantang duel sang pahlawan demi memperebutkan cinta. Demi bisa bersaing dia pergi meninggalkan banyak hal. Keluarga, teman, kampung halaman, dan bahkan orang yang dic...
